RADAR PALU – Upaya mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor kedelai tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah pusat, tetapi juga memerlukan dukungan perguruan tinggi dan petani di daerah.
Melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM), Universitas Kristen Tentena (UNKRIT) mulai mendorong Desa Saojo, Kecamatan Pamona Utara, Kabupaten Poso, menjadi sentra produksi benih kedelai bersertifikat guna memperkuat kemandirian benih dan ketahanan pangan nasional.
Program yang didanai Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi ini dilaksanakan bersama Kelompok Tani Tabo Watu sebagai mitra utama pengembangan penangkar benih kedelai.
Baca Juga: Jalan Amblas Watuawu Poso Akhirnya Makan Korban, Truk Terbalik dan Muatan Tumpah
Kegiatan diawali dengan sosialisasi dan penanaman kedelai unggul berlabel putih yang melibatkan petani, penyuluh pertanian, pemerintah desa, dinas pertanian kabupaten poso, Babinsa, babinkantibmas, petugas lapang sertifikasi benih serta berbagai pemangku kepentingan terkait.
Ketua Tim PKM UNKRIT, Dr. Toyip, S.P., M.Si., menjelaskan bahwa tantangan utama pengembangan kedelai di Indonesia adalah terbatasnya ketersediaan benih bermutu di tingkat petani. Kondisi tersebut menyebabkan produktivitas kedelai nasional belum mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri sehingga pasokan impor masih diperlukan.
“Penguatan sistem perbenihan merupakan salah satu kunci peningkatan produksi kedelai nasional. Karena itu, kami berupaya mendampingi petani agar tidak hanya menjadi produsen kedelai konsumsi, tetapi juga mampu berkembang menjadi penangkar benih yang menghasilkan benih bermutu dan bersertifikat,” ujarnya.
Baca Juga: Mentan Amran Sambut Putra Presiden Belarus, Bahas Penguatan Kerja Sama Pertanian
Selain penerapan teknologi budidaya, petani juga memperoleh pelatihan mengenai standar operasional produksi benih, teknik pemeliharaan kemurnian varietas, penanganan pascapanen, hingga pengemasan dan pemasaran benih.
Pendampingan tersebut diharapkan mampu meningkatkan kapasitas kelompok tani untuk memenuhi persyaratan sebagai penangkar benih bersertifikat.
Ketua Kelompok Tani Tabo Watu, Luter Karauja, menyambut baik program pendampingan yang dilakukan UNKRIT. Menurutnya, petani selama ini masih sangat bergantung pada benih bantuan maupun benih yang didatangkan dari luar daerah.
Baca Juga: Kunker Mentan di Palu Berjalan Lancar, Kapolda Sulteng Tegaskan Komitmen Dukung Pertanian
“Harapan kami, ke depan petani di Saojo bisa menghasilkan benih sendiri yang berkualitas dan bersertifikat sehingga tidak lagi bergantung pada pasokan dari luar,” katanya.
Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat, Desa Saojo diharapkan dapat berkembang menjadi sentra benih kedelai bersertifikat di Kabupaten Poso.
Keberhasilan program ini tidak hanya berpotensi meningkatkan pendapatan petani, tetapi juga mendukung ketersediaan benih bermutu, memperkuat ketahanan pangan daerah, serta berkontribusi terhadap upaya nasional dalam mengurangi ketergantungan impor kedelai.(***)
Editor : Muchsin Siradjudin