RADAR PALU—Target eliminasi tuberkulosis (TB) pada 2030 membuat Sulawesi Tengah mulai membidik persoalan dari sisi yang lebih luas: bukan hanya mengobati pasien, tetapi memastikan kasus ditemukan lebih cepat dan penanganannya tidak berbeda-beda antarwilayah.
Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid mendorong pembentukan Satuan Tugas (Satgas) TB di setiap kabupaten/kota. Satgas ini nantinya menjadi penggerak sekaligus pengawas penanganan TB di daerah.
Dorongan itu muncul saat Anwar menerima kunjungan kerja Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI Fauzan serta Wakil Menteri Kesehatan RI Benyamin Paulus Octavianus di Ruang Polibu, Kantor Gubernur Sulawesi Tengah, Sabtu (22/8).
Baca Juga: Sambut Kontingen Banggai Kepulauan Rombongan Perdana POPDA, Pemkab Buol Siapkan Pelayanan Terbaik
Bukan Sekadar Membentuk Satgas
Anwar menekankan, pembentukan Satgas TB bukan sekadar menambah struktur organisasi. Yang lebih penting adalah memastikan program berjalan dan dapat diukur dari waktu ke waktu.
Provinsi nantinya juga akan memiliki tim yang melakukan monitoring terhadap 13 kabupaten/kota. Daerah yang masih lemah dalam penanganan dapat segera diperkuat.
Baca Juga: Kurang Bayar DBH Sulteng Rp 5 Triliun, Belanja Pegawai Jadi Prioritas
“Kepala daerah, saya pesan, ini TB menjadi prioritas. Kalau perlu, kita bikin masing-masing Satgas TB di kabupaten/kota. Provinsi juga kita bikin untuk melakukan monitoring di semua kabupaten/kota,” kata Anwar.
Menurutnya, persoalan TB membutuhkan kesatuan gerak. Pemerintah daerah tidak bisa bekerja sendiri karena penanganannya berkaitan dengan tenaga kesehatan, perguruan tinggi, mahasiswa hingga masyarakat.
“Kalau kita serius semua, satu langkah, satu program, kesatuan gerak, saya yakin dan percaya ini akan bisa kita tuntaskan,” ujarnya.
16 Portable X-Ray Disiapkan
Penguatan penanganan TB juga akan dibarengi dukungan peralatan untuk mendeteksi kasus.
Pemerintah pusat disebut akan membantu Sulawesi Tengah dengan 16 unit portable X-Ray. Peralatan tersebut ditargetkan tiba pada September 2026 dan diharapkan memperluas akses pemeriksaan, terutama untuk menemukan kasus yang selama ini belum terdeteksi.
Baca Juga: Bolak-balik Tolitoli-Palu Tiap Pekan, Pasien Keluhkan Obat Hanya Diberi 7 Hari
Bagi Anwar, akses pengobatan yang semakin mudah harus diikuti dengan kemampuan menemukan penderita sedini mungkin.
“Kalau masyarakat kita sudah tidak susah lagi untuk berobat, sekarang mari kita fokus menjadikan Sulawesi Tengah ini bebas dari TB,” katanya.
Target 2030 Jadi Ukuran
Anwar ingin target eliminasi TB 2030 tidak berhenti sebagai target pemerintah pusat. Pemerintah provinsi dan kabupaten/kota harus memiliki peran yang jelas untuk mencapainya.
Monitoring menjadi penting karena kondisi dan kemampuan setiap daerah berbeda. Dengan Satgas di tingkat kabupaten/kota dan koordinasi dari provinsi, intervensi diharapkan bisa lebih cepat diarahkan ke daerah yang masih tertinggal.
“Semoga eliminasi TB tahun 2030 itu akan kita capai secara bersama-sama,” pungkasnya.
Pertemuan tersebut turut dihadiri Wakil Gubernur Sulawesi Tengah Reny Lamadjido, Ketua TP-PKK Sulawesi Tengah Sry Nirwanti Bahasoan, para bupati/wali kota se-Sulawesi Tengah serta jajaran Pemprov Sulteng.***
Editor : Muhammad Awaludin