Dari Sawah Walatana, Pertanian Sulteng Didorong Naik Kelas

Muhammad Awaludin • Dipublikasikan Selasa, 18 Agustus 2026 | 12:49 WIB
Panen raya padi organik di Desa Walatana, Kecamatan Dolo Selatan, Kabupaten Sigi, Selasa (18/8/2026). FOTO: BIRO ADPIM SULTENG 
Panen raya padi organik di Desa Walatana, Kecamatan Dolo Selatan, Kabupaten Sigi, Selasa (18/8/2026). FOTO: BIRO ADPIM SULTENG 

 

RADAR PALU– Sawah di Desa Walatana, Kecamatan Dolo Selatan, Kabupaten Sigi, tidak lagi sekadar menjadi tempat menghasilkan gabah. Pengembangan padi organik di wilayah itu mulai diarahkan menjadi model usaha pertanian yang menghubungkan produksi, teknologi, pasar hingga hilirisasi.

Model tersebut mendapat perhatian setelah pengembangan padi organik Walatana memasuki musim tanam keenam melalui kerja sama Badan Usaha Milik Al-Khairaat (BUMA).

Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid mengatakan, tantangan pertanian saat ini bukan hanya meningkatkan jumlah produksi. Persoalan yang lebih penting adalah bagaimana produksi tersebut mampu meningkatkan pendapatan petani. 

Baca Juga: Rp1 Miliar dari Sulteng untuk Korban Gempa NTT, Solidaritas Dibangun dari Pengalaman Bencana

“Petani jangan hanya berpikir berapa ton yang dihasilkan. Yang lebih penting adalah berapa nilai ekonomi yang diperoleh,” kata Anwar saat menghadiri Panen Raya Budidaya Padi Organik Al-Khairaat dan Sarasehan Petani untuk Negeri di Walatana, Selasa (18/8/2026).

Menurut Anwar, pola pertanian yang hanya berorientasi pada hasil panen membuat petani belum sepenuhnya memperoleh nilai tambah dari komoditas yang mereka produksi.

Karena itu, pengembangan pertanian perlu dibangun sebagai sebuah ekosistem. Mulai dari riset tanah, pemilihan bibit, pengairan, produksi, pengelolaan keuangan, pemasaran, hingga pengolahan hasil. 

Baca Juga: Bawa 103 Gram Narkoba, Dua Pelaku Ditangkap di Tondo

Ia mencontohkan pengalamannya melihat praktik pertanian modern di Provinsi Sichuan, Tiongkok. Di wilayah tersebut, pertanian dikembangkan dengan dukungan teknologi, riset, sistem pengairan, kepastian pasar dan hilirisasi.

Salah satu hal yang menarik perhatiannya adalah kemampuan petani meningkatkan frekuensi tanam melalui dukungan teknologi dan sistem produksi yang lebih terukur.

“Pertanian bisa dikembangkan dengan pendekatan teknologi dan riset,” ujarnya.

Anwar menilai Sulawesi Tengah tidak harus menyalin seluruh sistem pertanian yang diterapkan negara lain. Namun, prinsip yang sesuai dengan kondisi daerah dapat mulai diterapkan.

Menurut dia, salah satu fondasi penting adalah kemandirian petani dalam penyediaan bibit.

Selain itu, keberadaan pasar harus dipastikan sejak awal agar hasil pertanian tidak berhenti pada proses panen. 

Baca Juga: Insentif Pajak Dongkrak Penerimaan Kendaraan di Palu Jadi Rp6,156 Miliar

“Yang paling penting adalah bibit dan hilirisasi. Kalau petani sudah mandiri menghasilkan bibit dan kita bantu dengan sistem yang baik, saya yakin hasilnya bisa lebih baik,” katanya.

Dengan pengalaman enam musim tanam, Walatana dinilai memiliki modal untuk dikembangkan lebih jauh. Bukan hanya sebagai sentra padi organik, tetapi sebagai lokasi percontohan bagaimana usaha tani dikelola dari hulu hingga hilir. 

Baca Juga: Reses DPRD Palu di Talise Soroti Infrastruktur Lorong dan Persoalan Sampah

Pengembangan pertanian modern di Sulteng, kata Anwar, setidaknya membutuhkan beberapa fondasi.

Pertama, riset untuk menentukan kondisi tanah dan varietas yang sesuai. Kedua, pengelolaan air dan irigasi untuk menjaga keberlanjutan produksi.

Ketiga, kepastian pasar agar petani memiliki tujuan penjualan setelah panen. Keempat, manajemen keuangan sehingga petani dapat menghitung biaya dan keuntungan usaha taninya.

Kelima, digitalisasi dan hilirisasi untuk memperbesar nilai tambah komoditas.

Jika kelima aspek tersebut dapat berjalan bersama, ukuran keberhasilan pertanian tidak lagi sebatas tonase hasil panen.

Ukuran keberhasilannya bergeser pada seberapa besar pendapatan dan nilai ekonomi yang diterima petani.

Konsistensi pengembangan padi organik hingga musim tanam keenam menjadi modal awal untuk membangun model tersebut.

Anwar berharap Walatana tidak berhenti sebagai lokasi panen raya. Pengembangannya dapat diarahkan menjadi ekosistem yang mencakup penyediaan bibit, budidaya, pengolahan, pemasaran dan hilirisasi.

“Kalau Walatana ini kita dorong dengan riset, bibit yang baik, teknologi, pasar dan hilirisasi, saya yakin ini bisa menjadi contoh yang dapat kita kembangkan di daerah lain,” ujarnya.

Pengembangan model seperti Walatana juga membutuhkan kolaborasi lintas pihak. Pemerintah, perguruan tinggi, pelaku usaha, peneliti dan ahli pertanian maupun ekonomi dinilai memiliki peran dalam menemukan pola yang paling sesuai dengan karakter pertanian Sulteng.

Panen raya di Walatana dengan demikian menjadi lebih dari sekadar penanda berakhirnya satu musim tanam. Dari hamparan sawah itu, muncul gagasan untuk mengubah cara melihat pertanian: bukan hanya soal seberapa banyak gabah dihasilkan, tetapi seberapa besar nilai yang akhirnya kembali kepada petani.***

Editor : Muhammad Awaludin
Pertanian Sulteng Padi Organik Walatana Anwar Hafid sigi