Dari Ruang Tunggu Jadi Ruang Baca, Pemkab Sigi Perluas Gerakan Literasi ke Puskesmas

Angel Sumbara • Dipublikasikan Senin, 17 Agustus 2026 | 19:04 WIB
PERPUSTAKAAN: Kepala Dinas Perpustakaan Kabupaten Sigi, Imron Noor, terlihat semringah dan bahagia.(FOTO: ANGEL SUMBARA/RADAR PALU).
PERPUSTAKAAN: Kepala Dinas Perpustakaan Kabupaten Sigi, Imron Noor, terlihat semringah dan bahagia.(FOTO: ANGEL SUMBARA/RADAR PALU).

RADAR PALU – Menunggu antrean berobat biasanya identik dengan duduk dan menanti giliran. Namun, Pemerintah Kabupaten Sigi mencoba mengubah waktu tunggu itu menjadi kesempatan menambah pengetahuan.

Melalui kolaborasi Dinas Perpustakaan dan Dinas Kesehatan Kabupaten Sigi, pojok literasi mulai dihadirkan di sejumlah Puskesmas. Masyarakat yang datang untuk mendapatkan pelayanan kesehatan kini dapat mengisi waktu antrean dengan membaca buku.

Kepala Dinas Perpustakaan Kabupaten Sigi, Imron Noor, mengatakan program tersebut merupakan bagian dari nota kesepahaman (MoU) dengan Dinas Kesehatan Sigi dalam upaya memperluas akses literasi.

Baca Juga: Perkuat Budaya Baca, Perpustakaan Sigi Gandeng DPRD dan Dinkes

“Dinas Kesehatan kita MoU mengenai pojok baca. Jadi di lingkungan semua Puskesmas itu ada pojok baca untuk menunggu antrean,” kata Imron.

Saat ini, pojok literasi telah hadir di lima fasilitas kesehatan, yakni UPT Puskesmas Gimpu, Puskesmas Dolo, Puskesmas Kaleke, Puskesmas Marawola, dan Puskesmas Kinovaro.

Menurut Imron, pemilihan Puskesmas sebagai salah satu ruang literasi bukan tanpa alasan. Setiap hari fasilitas kesehatan tersebut menjadi tempat bertemunya masyarakat dari berbagai latar belakang.

Baca Juga: Puspenkum Kejagung Beri Penyuluhan Pencegahan Korupsi kepada Pemkab Sigi, Tekankan Peran APIP

Karena itu, ruang tunggu pelayanan kesehatan dinilai dapat menjadi titik strategis untuk memperkenalkan kebiasaan membaca kepada masyarakat yang mungkin tidak selalu memiliki kesempatan datang ke perpustakaan.

“Kita ingin bagaimana masyarakat ketika menunggu antrean bisa memanfaatkan waktunya untuk membaca,” ujarnya.

Imron mengatakan, budaya literasi tidak semestinya hanya tumbuh di sekolah atau perpustakaan. Ruang publik yang bersentuhan langsung dengan masyarakat juga dapat dimanfaatkan untuk menghadirkan bahan bacaan.

Baca Juga: Kapolres Sigi Imbau Anggota Utamakan Disiplin Saat Gunakan Senjata Api

Melalui program ini, masyarakat diharapkan tidak hanya pulang membawa pelayanan kesehatan, tetapi juga pengetahuan baru dari buku yang dibaca selama menunggu.

Program tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya meningkatkan minat baca sekaligus mendukung pengurangan buta aksara di Kabupaten Sigi.

Imron menegaskan, penguatan budaya literasi membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Karena itu, Dinas Perpustakaan terus membuka kerja sama dengan berbagai instansi untuk memperluas titik-titik akses bacaan.

Baca Juga: Lepas 80 Pramuka ke Jamnas XII, Bupati Sigi: Pramuka Harus Jadi Benteng Generasi Muda dari Narkoba

“Ini bagian dari upaya kita meningkatkan daya baca masyarakat,” katanya.

Dengan hadirnya pojok literasi di Puskesmas, waktu tunggu yang selama ini dianggap sebagai jeda pelayanan diubah menjadi ruang belajar yang sederhana.

Pemkab Sigi berharap semakin banyak ruang publik dapat menjadi bagian dari gerakan literasi, sehingga membaca tidak lagi terbatas pada perpustakaan, tetapi menjadi aktivitas yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.(***)

Editor : Muchsin Siradjudin
Dinas Perpustakaan dan Arsip Sigi Kolaborasi inovasi kabupaten sigi