Kehilangan Mata, Keluarga Pelajar Morut Ditagih Rp42 Juta

Ilham Nusi • Dipublikasikan Kamis, 13 Agustus 2026 | 19:29 WIB
CACAT: Seorang pelajar asal Morowali Utara kehilangan mata kanan setelah tak sengaja tertembus peluru senapan angin. (FOTO: ISTIMEWA/RADAR PALU)
CACAT: Seorang pelajar asal Morowali Utara kehilangan mata kanan setelah tak sengaja tertembus peluru senapan angin. (FOTO: ISTIMEWA/RADAR PALU)

 

RADAR PALU - Keluarga pelajar asal Desa Korompeli, Kecamatan Lembo, Kabupaten Morowali Utara (Morut), kebingungan setelah mendapat tagihan biaya pengobatan sekitar Rp42 juta di RSUD Wahidin Sudirohusodo Makassar.

Padahal, korban sebelumnya dirujuk menggunakan ambulans dan keluarga mendapat informasi bahwa pengobatan ditanggung BPJS Kesehatan.

Pelajar berinisial A, siswi kelas III SMK, harus kehilangan mata kanannya setelah terkena tembakan senapan angin saat bermain bersama rekannya.

Baca Juga: Soroti Kontribusi PT CPM, Ketua Fraksi PKB DPRD Sulteng Minta Pemerintah Tak Jadikan CSR Tolok Ukur

Keluarga kini tidak hanya menghadapi kondisi korban yang harus menjalani hidup tanpa mata kanan. Mereka juga harus mencari kepastian mengenai biaya pengobatan sebelum dapat membawa korban pulang ke Morut.

Insiden bermula ketika korban bermain bersama rekannya menggunakan senapan angin, Jumat (7/8/2026). Mereka sempat mengira senapan tersebut tidak memiliki peluru.

Namun, senapan ternyata masih mampu melontarkan proyektil. Tembakan kemudian mengenai mata kanan korban.

Baca Juga: Ekspor Sulteng Didorong Naik Kelas, Kakao hingga Udang Dibidik Pasar Global

Kondisi korban membutuhkan penanganan medis hingga operasi pengangkatan mata kanan di RSUD Wahidin Sudirohusodo Makassar.

Dalam proses pengobatan, keluarga korban juga menghadapi kendala administratif.

Pihak BPJS Kesehatan meminta kronologis kejadian. Keluarga kemudian berkoordinasi dengan Polsek Lembo dan diarahkan ke SPKT Polres Morut.

Baca Juga: Bongkar Pos Terminal Manonda, Pencuri AC Diciduk Polisi

Kepolisian selanjutnya menerbitkan kronologis kejadian untuk membantu proses administrasi pengobatan korban.

Namun, persoalan kembali muncul setelah korban menjalani operasi dan keluarga hendak membawanya pulang.

Keluarga mengaku mendapat pemberitahuan mengenai kewajiban pembayaran dengan rincian sementara mencapai sekitar Rp42 juta.

Baca Juga: Komisi C DPRD Palu Dorong Kabel Utilitas Ditanam di Bawah Tanah

Mereka mendapat waktu hingga Jumat (14/8/2026), untuk menyelesaikan persoalan tersebut.

Kondisi itu membuat keluarga kebingungan karena sebelumnya korban mendapat rujukan dari Morowali Utara menggunakan ambulans. Korban juga didampingi perawat dari RSUD Kolonodale.

Keluarga mengaku mendapat informasi bahwa biaya pengobatan korban akan ditanggung BPJS Kesehatan.

Baca Juga: Hasil RUPS LB Bank Sulteng, Koperasi Karyawan Resmi Jadi Pemegang Saham

Mastin Lamato, tante korban yang berada di RSUD Wahidin Sudirohusodo, mengaku kecewa dan bingung menghadapi persoalan tersebut.

"Sebenarnya keluar hari ini, tapi kendala soal pembayarannya yang kami harap ditanggung BPJS, tapi pada kenyataannya tidak seperti itu. Rincian sementara sekitar Rp42 juta. Kami diantar ambulans rujukan dari Morowali Utara dan juga didampingi sama suster pendamping. Disampaikan ke kami ditanggung BPJS Kesehatan," ujar Mastin, Kamis (13/8/2026).

Keluarga berharap pemerintah daerah dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah membantu menyelesaikan persoalan biaya pengobatan tersebut.

Baca Juga: Bandung, Titik Nol Lempar Bilah dan Kapak Indonesia 

Keluarga mengaku tidak memiliki kemampuan untuk menyediakan dana sekitar Rp42 juta dalam waktu singkat.

"Kalau bisa bantu dulu kami, Pak. Sampaikan ke Pak Gubernur Sulteng dan Pak Bupati Morowali Utara. Kami diberikan waktu sampai besok. Kami punya kemenakan sudah kehilangan mata, sekarang kami menghadapi pergumulan, di mana mau ambil uang sebanyak itu. Kalau kami tahu begini, kami tidak akan operasi," ungkap Mastin.

Keluarga berharap ada kejelasan mengenai status pembiayaan pengobatan korban melalui BPJS Kesehatan sehingga korban dapat segera kembali ke Morut.

Baca Juga: Kementerian Kebudayaan Koordinasi dengan PWI Sulteng

Sementara itu, orang tua pelaku penembakan yang sebelumnya sepakat menyelesaikan persoalan secara kekeluargaan juga berupaya melakukan konfirmasi kepada pihak RSUD Kolonodale.

Mereka mengaku masih bingung dengan proses rujukan korban, terutama karena keluarga sebelumnya mendapat informasi bahwa pengobatan korban akan ditanggung BPJS Kesehatan. (***)

Editor : Ilham Nusi
biaya pengobatan kehilangan mata RSUD Wahidin Sudirohusodo bpjs kesehatan RSUD Kolonodale