Kubangan Nokilalaki Tuntas Ditangani, Aliran Sungai Kamarora Kembali Normal

Angel Sumbara • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:28 WIB
Moh. Rizal Intjenae (FOTO: ANGEL SUMBARA/RADAR PALU).
Moh. Rizal Intjenae (FOTO: ANGEL SUMBARA/RADAR PALU).

RADAR PALU — Penanganan kubangan dan sumbatan material longsor di kawasan Nokilalaki, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, dinyatakan rampung. Aliran air yang sebelumnya tertahan akibat material longsoran kini kembali mengalir normal.

Penyelesaian penanganan tersebut menjadi kabar baik bagi masyarakat yang selama ini ikut mengkhawatirkan dampak longsoran, terutama potensi tertahannya aliran air di kawasan konservasi.

Bupati Sigi Moh. Rizal Intjenae mengatakan, penanganan seluruh kubangan dilakukan melalui kolaborasi antara pemerintah daerah dan sejumlah pihak terkait, termasuk Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu BBTNLL, TNI, Polri, Universitas Tadulako serta Balai Wilayah Sungai BWS Sulawesi III.

Baca Juga: Puluhan Sekolah di Sigi Dapat Dana Revitalisasi, Nilainya Tembus Rp2 Miliar

“Penanganan kubangan-kubangan ini tuntas dikerjakan dengan bantuan dari Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu, TNI, Polri, Universitas Tadulako, BWS Sulawesi III dan seluruh pihak lainnya,” kata Rizal, Selasa (7/7/2026).

Menurut Rizal, terbukanya kembali jalur aliran air membuat kondisi kawasan menjadi lebih aman. Air yang sebelumnya tertahan akibat material longsor kini telah kembali mengalir seperti kondisi normal.

“Alhamdulillah air yang sempat tertahan longsoran sudah bisa mengalir seperti semula sehingga masyarakat tidak perlu lagi khawatir,” ujarnya.

Baca Juga: Bupati Sigi: Penerbangan Palu–Guangzhou Buka Peluang Besar bagi Pariwisata dan Ekspor

Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah III BBTNLL Irham Rangga Sasmita membenarkan seluruh kubangan atau sumbatan longsoran di kawasan tersebut telah terbuka.

Salah satu lokasi yang mendapat penanganan berada di Sungai Kamarora. Sebelumnya, material longsoran menutup jalur sungai sehingga aliran air tidak dapat mengalir sebagaimana mestinya.

Irham menyebut luas penampang longsoran di Sungai Kamarora mencapai sekitar 14,6 hektare. Untuk membuka jalur yang tertutup material, petugas menggunakan teknik manual dan jet shooter.

Baca Juga: Pemkab Sigi dan Sikola Mombine Perkuat Ketangguhan Ekonomi Kelompok Rentan, 1.050 Perempuan

Penanganan dilakukan secara perlahan dengan tujuan mengurai material longsoran sekaligus memastikan jalur aliran air dapat terbuka tanpa menimbulkan risiko baru di kawasan tersebut.

“Jadi sebelumnya sungai tersebut tersumbat tidak ada air yang mengalir, tapi saat ini sudah kembali normal,” katanya.

Meski penanganan sumbatan telah selesai, BBTNLL tidak serta-merta menghentikan pemantauan. Tahap berikutnya akan difokuskan pada pemulihan ekosistem dan pengawasan kondisi kawasan konservasi secara berkala.

Baca Juga: Perkuat Pendidikan di Daerah Terpencil, Pemkab Sigi Salurkan 21 Kendaraan Operasional untuk Sekolah

Irham mengatakan, pihaknya juga akan melakukan penanaman 100 bibit pohon nantu dan tanaman rintisan bambu sebagai bagian dari upaya memulihkan vegetasi di kawasan terdampak.

“Pekan depan kami akan melakukan penanaman 100 bibit pohon nantu dan tanaman rintisan bambu,” ujarnya.

Selain pemulihan lingkungan, BBTNLL juga memasang CCTV di sekitar kawasan konservasi Nokilalaki. Kamera tersebut digunakan untuk memantau kondisi kawasan sekaligus menjadi bagian dari sistem deteksi dini.

Baca Juga: Pemkab Sigi Libatkan Tim Ahli Geologi ESDM Sulteng Teliti Semburan Air Mengandung Gas di Desa Sarumana

“Tentunya perangkat ini dipasang sebagai sarana monitoring dan deteksi dini untuk mengamati pergerakan material longsoran serta perubahan aliran air secara berkala,” jelas Irham.

Pemantauan tersebut diharapkan dapat membantu petugas mendeteksi lebih awal apabila terjadi perubahan kondisi di kawasan, terutama pergerakan material longsoran atau perubahan pola aliran air.

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Sigi masih menetapkan masa transisi menuju pemulihan selama 90 hari, terhitung sejak 1 Juli hingga 28 September mendatang.

Baca Juga: Perkuat Pendidikan di Daerah Terpencil, Pemkab Sigi Salurkan 21 Kendaraan Operasional untuk Sekolah

Dengan kembali normalnya aliran Sungai Kamarora dan terbukanya sumbatan longsoran, penanganan di kawasan Nokilalaki kini memasuki tahap pemulihan. Pemerintah bersama pihak terkait akan melanjutkan pemantauan untuk memastikan kawasan tetap aman sekaligus mendorong pemulihan ekosistem pascabencana.(***)

Editor : Muchsin Siradjudin
Kubangan di Nokilalaki Tuntas Normal