Di Balik Asap Smelter, Bahodopi Menumbuhkan Mimpi
Laporan: Murtalib, wartawan Radar Palu Jawa Pos Grup
Pagi di Bahodopi tak lagi dibuka oleh suara ombak dan jalan desa yang lengang. Deru truk, lalu-lalang pekerja, serta aktivitas yang nyaris tak berhenti selama 24 jam kini menjadi wajah baru kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, itu.
Di sanalah berdiri PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), kawasan industri nikel yang menjelma menjadi salah satu pusat pengolahan stainless steel dan bahan baku baterai kendaraan listrik terbesar di dunia.
Baca Juga: PT IMIP dan Dinas Pendidikan Morowali Kolaborasi Tingkatkan Kapasitas Kepala Sekolah di Bahodopi
Lebih dari 50 perusahaan beroperasi di dalamnya, membentuk rantai industri hilirisasi nikel yang terintegrasi dan menggerakkan denyut ekonomi baru di kawasan tersebut.
Namun, cerita Bahodopi bukan hanya tentang investasi bernilai triliunan rupiah, tungku peleburan, atau ekspor nikel ke berbagai belahan dunia.
Di balik pagar kawasan industri itu, tumbuh kisah-kisah sederhana tentang masyarakat yang mampu mengubah peluang menjadi harapan.
Baca Juga: IMIP Perkuat Kapasitas Warga Bahodopi Hadapi Potensi Bencana
Salah satunya adalah Hi Sudirman. Saat pertama kali datang dari Masamba pada 2012, Bahodopi masih jauh dari hiruk-pikuk yang terlihat sekarang.
Modal yang dimilikinya bukan uang dalam jumlah besar, melainkan tekad untuk bertahan hidup.
Ia berjualan kosmetik dan barang campuran dengan cara berkeliling dari satu pasar ke pasar lainnya di Morowali.
Baca Juga: IMIP Tingkatkan Kuota dan Nilai Beasiswa untuk Generasi Muda Bahodopi
"Saya mengawali usaha dengan berdagang keliling di pasar-pasar," kenang Hi Sudirman kepada Radar Palu, Jawa Pos, Minggu (2/8).
Perjalanan itu perlahan menemukan titik terang ketika ia memperoleh pinjaman modal usaha Rp5 juta dari BRI.
Nilainya memang kecil, tetapi cukup untuk membangun kepercayaan bahwa usahanya layak berkembang.
Baca Juga: PT IMIP Perkuat Komitmen Dekarbonisasi, Tanam Mangrove Serentak di Hari Mangrove Sedunia
Tak lama kemudian, pembangunan kawasan industri PT IMIP dimulai.
Sudirman melihat sesuatu yang mungkin belum banyak disadari orang ketika itu.
Ribuan pekerja mulai berdatangan. Permintaan kebutuhan pokok meningkat. Bahodopi sedang berubah.
Baca Juga: Hari Mangrove Sedunia, IMIP Dukung Penanaman 1 Juta Mangrove di 37 Provinsi
Ia pun menghentikan usaha keliling dan membuka toko grosir di Jalan Trans Sulawesi.
Keputusan itu menjadi titik balik. Usaha yang semula sederhana berkembang dari tahun ke tahun.
Pinjaman puluhan juta rupiah meningkat menjadi ratusan juta, hingga plafon pembiayaan yang diterimanya dari BRI mencapai sekitar Rp2 miliar.
Baca Juga: IMIP Perkuat Sinergi dengan Perguruan Tinggi Lewat Program Praktisi Mengajar
Kini, Sudirman tak hanya memiliki toko grosir. Ia mengembangkan jaringan usaha di sejumlah kecamatan di Morowali, memiliki rumah kos, dan pada Agustus ini bersiap membuka dua gerai makanan siap saji melalui kerja sama waralaba dari Jakarta.
Sekitar 60 tenaga kerja lokal kini menggantungkan penghidupan dari berbagai unit usaha yang dibangunnya.
"Alhamdulillah, berkat kepercayaan dari BRI, usaha kami terus berkembang seiring tumbuhnya ekonomi di kawasan PT IMIP," ujarnya.
Baca Juga: IMIP Percepat Transformasi Hijau Lewat ESG dan Energi Rendah Karbon
Kisah serupa datang dari Andi Azis.
Pada 2013, ketika harga tanah di Bahodopi masih relatif murah, ia membeli sebidang kapling berukuran 10 x 25 meter.
Setahun kemudian, lahan itu dibangun menjadi rumah kos sederhana.
Lokasinya yang dekat kawasan PT IMIP membuat kamar-kamar cepat terisi oleh para pekerja.
Melihat permintaan yang terus meningkat, Andi kembali mengambil langkah berani.
Dengan dukungan pinjaman Rp50 juta dari BRI, ia mengembangkan usahanya, menjadi Agen BRILink dan kemudian meningkatkan rumah kos tersebut menjadi penginapan.
"Dulu saya termasuk Agen BRILink yang merintis di Bahodopi dan difasilitasi mesin EDC," katanya.
Pada masa awal berkembangnya kawasan industri, transaksi Agen BRILink miliknya bahkan pernah mencapai sekitar 1.000 transaksi setiap hari.
Kini, meski transaksi perbankan mulai beralih ke layanan digital, penginapan miliknya hampir tak pernah kosong.
Sebagian besar tamunya merupakan sopir truk logistik yang setiap hari keluar masuk kawasan industri.
"Banyak usaha tumbuh. Tinggal bagaimana masyarakat memanfaatkan peluang yang ada," katanya ditemui terpisah.
Pertumbuhan kawasan industri ternyata memang menciptakan efek berganda.
Menurut Branch Office Head BRI Morowali, Anangga Harpitando, banyak pelaku UMKM di Bahodopi yang kini telah naik kelas.
Pembiayaan yang sebelumnya ditangani unit kerja BRI kini beralih ke kantor cabang karena skala usahanya terus berkembang.
Lebih dari 2.000 debitur memperoleh pembiayaan usaha di Kecamatan Bahodopi, baik melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) maupun kredit komersial.
Jumlah Agen BRILink juga terus bertambah mengikuti geliat ekonomi masyarakat.
Fenomena tersebut berjalan beriringan dengan semakin besarnya kawasan industri PT IMIP yang kini menjadi salah satu pusat pengolahan nikel terbesar di Asia Tenggara.
Sebaran Tenaga Kerja Morowali Tembus 86.988 Orang, Bahodopi Jadi Pusat Serapan Tertinggi
Pertumbuhan ekonomi Bahodopi tercermin dari besarnya penyerapan tenaga kerja.
Data Dinas Transmigrasi dan Tenaga Kerja Morowali per Juni 2026 mencatat sebanyak 86.988 tenaga kerja bekerja di berbagai sektor industri di kabupaten tersebut.
Bahodopi menjadi pusat serapan terbesar. Sebanyak 73.094 pekerja bekerja di 56 perusahaan yang beroperasi di kawasan PT IMIP.
Di luar Bahodopi, Bungku Barat menyerap 8.905 tenaga kerja, Bungku Pesisir 2.116 pekerja, Bungku Timur 1.400 pekerja, sementara Menui Kepulauan menyerap 245 pekerja pada sektor pertambangan dan kontraktor.
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Sulawesi Tengah, Muh. Syahrul Syam, mengatakan tingginya jumlah tenaga kerja di Bahodopi dipengaruhi banyaknya tenant yang beroperasi di kawasan PT IMIP.
Pemerintah berharap pertumbuhan investasi tersebut diimbangi peningkatan kompetensi tenaga kerja lokal agar manfaat ekonomi dapat dirasakan semakin luas.
IMIP Menanam Masa Depan di Kelas-Kelas Bahodopi
Hilirisasi ternyata tidak hanya berbicara tentang smelter dan investasi.
PT IMIP juga menanam investasi pada sumber daya manusia.
Melalui Program Beasiswa IMIP Bersinergi yang berjalan sejak 2022, perusahaan memberikan dukungan pendidikan bagi mahasiswa asal Bahodopi.
Pada tiga angkatan pertama, sebanyak 25 mahasiswa menerima bantuan Rp3 juta setiap semester.
Memasuki angkatan keempat tahun 2026, jumlah penerima meningkat menjadi 45 mahasiswa dengan bantuan Rp5 juta per semester.
Deputy Manager CSR Department PT IMIP, Laurencia Kirana Larasati, mengatakan keberhasilan hilirisasi tidak cukup hanya dibangun melalui teknologi dan investasi.
Daerah juga membutuhkan sumber daya manusia lokal yang mampu bersaing.
Program itu tidak berhenti pada bantuan biaya pendidikan.
Mahasiswa juga memperoleh pelatihan kompetensi, penguatan kemampuan komunikasi, pembekalan dunia kerja, hingga peluang mengikuti proses rekrutmen di kawasan industri sesuai kebutuhan perusahaan.
Bagi IMIP, pembangunan kawasan industri bukan hanya tentang memperbesar kapasitas produksi.
Yang sama pentingnya adalah memastikan masyarakat di sekitar kawasan ikut tumbuh bersama.
Di Bahodopi, perubahan memang datang melalui jalur industri.
Namun, manfaatnya tidak berhenti di dalam kawasan pabrik.
Ia mengalir ke toko-toko kecil, rumah kos, penginapan, warung makan, hingga ruang-ruang kuliah tempat anak-anak Morowali mempersiapkan masa depan.
Di balik asap smelter yang terus mengepul, Bahodopi sedang menulis babak baru.
Tentang keberanian membaca peluang.
Tentang UMKM yang naik kelas.
Tentang pendidikan yang dipersiapkan untuk generasi berikutnya.
Dan tentang sebuah kawasan industri yang perlahan mengubah wajah sebuah daerah, sekaligus membuka jalan agar masyarakat lokal dapat tumbuh bersama perubahan. ***
Editor : Talib