RADAR PALU – Komitmen Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sigi dalam membangun masyarakat yang tangguh dan mandiri terus diperkuat melalui kolaborasi dengan berbagai mitra pembangunan.
Bersama Yayasan Sikola Mombine, Pemkab Sigi mengembangkan Program Penghidupan Inklusif dan Peka Risiko bagi Penyandang Disabilitas dan Perempuan dalam Kondisi Rentan (Pakagasi) sebagai upaya meningkatkan ketahanan sosial ekonomi kelompok rentan di wilayah rawan bencana.
Program yang dijalankan bersama Arbeiter-Samariter-Bund (ASB) tersebut tidak hanya mendorong lahirnya usaha-usaha produktif, tetapi juga membuka akses yang lebih luas bagi perempuan dan penyandang disabilitas untuk mandiri secara ekonomi serta berperan aktif dalam pembangunan desa.
Baca Juga: Perkuat Pendidikan di Daerah Terpencil, Pemkab Sigi Salurkan 21 Kendaraan Operasional untuk Sekolah
Project Manager Program Pakagasi Yayasan Sikola Mombine, Muhammad Taufik Hidayat, mengatakan program ini difokuskan pada pendampingan usaha, peningkatan kapasitas kewirausahaan, hingga penguatan kepemimpinan perempuan dan penyandang disabilitas di tingkat desa.
“Program ini bertujuan memperkuat pembangunan sosial ekonomi masyarakat melalui pendampingan usaha dan peningkatan kapasitas kewirausahaan yang menyasar perempuan serta penyandang disabilitas,” ujarnya di Palu, Kamis (7/8).
Program Pakagasi dilaksanakan di 10 desa yang tersebar di tiga kecamatan, yakni Desa Pakuli Utara, Simoro, dan Omu di Kecamatan Gumbasa; Desa Bangga, Bulubete, dan Rogo di Kecamatan Dolo Selatan; serta Desa Mpanau, Lolu, Pombewe, dan Jono Oge di Kecamatan Sigi Biromaru.
Baca Juga: Bupati Sigi Gandeng Ahli Geologi Untad Ungkap Misteri Dugaan Gas di Palolo
Selama hampir tiga tahun berjalan, program tersebut telah menjangkau 1.050 perempuan dan penyandang disabilitas, yang sebagian besar merupakan pelaku usaha mikro.
“Sebanyak 1.050 perempuan dan penyandang disabilitas kami dampingi di 10 desa. Rata-rata mereka adalah pelaku usaha,” kata Taufik.
Pendampingan diberikan secara menyeluruh, mulai dari peningkatan keterampilan teknis, pengelolaan usaha, penguatan kapasitas kewirausahaan hingga membangun rasa percaya diri agar mampu menjadi penggerak ekonomi di lingkungan masing-masing.
Dari seluruh peserta yang didampingi, sektor pertanian menjadi bidang usaha yang paling banyak digeluti dengan jumlah 273 pelaku usaha. Selanjutnya usaha makanan sebanyak 263 orang, usaha kue 171 orang, kios atau warung campuran 92 orang, usaha jasa 75 orang, usaha camilan 51 orang, usaha minuman 34 orang, usaha pakaian 23 orang, usaha isi ulang 19 orang, serta usaha peternakan tiga orang. Sementara itu, masih terdapat 46 peserta yang belum memiliki usaha dan terus mendapatkan pendampingan agar mampu memulai usaha produktif.
Tidak hanya berfokus pada pengembangan usaha, Program Pakagasi juga membentuk koperasi inklusif yang diharapkan menjadi wadah penguatan ekonomi masyarakat. Melalui koperasi tersebut, perempuan dan penyandang disabilitas diharapkan memperoleh akses yang lebih mudah terhadap pembiayaan, pengadaan barang, hingga pengembangan rantai pasok usaha.
Taufik menjelaskan, Program Pakagasi telah berjalan sejak 1 September 2023 dan akan berakhir pada 30 Desember 2026. Meski demikian, pihaknya telah menyiapkan strategi keberlanjutan agar manfaat program tetap dapat dirasakan masyarakat setelah masa pendampingan selesai.
“Kami telah menyusun rencana kerja tahunan sebagai bagian dari upaya keberlanjutan program sekaligus menyelaraskan kegiatan Pakagasi dengan program Pemerintah Kabupaten Sigi dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah,” jelasnya.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Kabupaten Sigi, Nuim Hayat, menilai 10 desa lokasi pelaksanaan Pakagasi layak menjadi pilot project bagi desa-desa lain di Kabupaten Sigi.
“Sepuluh desa ini menjadi percontohan bagi desa-desa lainnya. Praktik-praktik baik yang telah dilakukan dapat direplikasi sehingga manfaatnya semakin luas dirasakan masyarakat,” ujarnya.
Baca Juga: Pemprov Sulteng Akhiri Transisi Darurat Gempa, Fokus Rehabilitasi Sigi
Menurut Nuim, evaluasi terhadap pelaksanaan program menjadi langkah penting untuk mengukur capaian sekaligus mengidentifikasi model pendampingan yang efektif diterapkan di desa lain.
Ia juga mengapresiasi dukungan Yayasan Sikola Mombine, ASB, Kementerian Dalam Negeri, serta seluruh pihak yang selama ini bersinergi bersama Pemerintah Kabupaten Sigi dalam mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat, khususnya perempuan dan penyandang disabilitas sebagai kelompok yang memiliki peran penting dalam pembangunan daerah.(***)
Editor : Muchsin Siradjudin