RADARPALU - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Meteorologi Kelas I Mutiara SIS Al-Jufri Palu memperingatkan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Sulawesi Tengah berada pada kategori sedang hingga sangat tinggi di sejumlah kabupaten dan kota dalam tujuh hari ke depan, yakni 4–10 Agustus 2026.
Peringatan tersebut berdasarkan hasil analisis parameter Fire Danger Rating System (FDRS) yang memprakirakan tingkat kemudahan terbakar bahan bakar ringan di permukaan tanah melalui Fine Fuel Moisture Code (FFMC) serta besarnya intensitas api apabila terjadi kebakaran melalui Fire Weather Index (FWI).
BMKG menyebut kondisi tersebut dipengaruhi kombinasi suhu udara yang tinggi, kelembapan rendah, serta angin kencang yang dapat mempercepat penyebaran api apabila terjadi kebakaran.
Baca Juga: UEA Lirik Potensi Sulteng, Energi Terbarukan hingga Hilirisasi Jadi Prioritas Investasi
Berdasarkan tabel FFMC, sejumlah wilayah diprakirakan berada pada kategori sangat tinggi dengan nilai di atas 83 selama periode 4–10 Agustus 2026.
Nilai FFMC tertinggi tercatat di Kabupaten Poso mencapai 94 pada 10 Agustus, Parigi Moutong 92, Donggala dan Tolitoli masing-masing 91, serta Palu mencapai 89.
Sementara itu, berdasarkan indeks FWI, beberapa daerah diprakirakan memiliki intensitas api kategori sangat tinggi.
Baca Juga: Picu Ketimpangan Fiskal, Muhammad Safri Desak Gubernur Sulteng Perjuangkan Revisi Kepmen ESDM
Nilai tertinggi tercatat di Kabupaten Banggai Laut mencapai 31 pada 7 Agustus. Disusul Banggai dan Banggai Kepulauan masing-masing mencapai 29, Morowali Utara 34 pada 4 Agustus, serta Poso mencapai 26 pada 10 Agustus.
Menyikapi kondisi tersebut, BMKG merekomendasikan sejumlah langkah mitigasi bagi pemerintah dan pemangku kepentingan.
Di antaranya segera mengaktifkan posko siaga karhutla di tingkat provinsi, kabupaten, dan kecamatan, menugaskan petugas pemantauan lapangan selama 24 jam, membentuk tim koordinasi harian yang melibatkan BPBD, TNI/Polri, Dinas Kehutanan, Dinas Pertanian, dan relawan, serta menggelar rapat koordinasi darurat.
Baca Juga: MoU Belum Kelar, Penanganan Permanen Krisis Air Bersih Petasia Terancam Mandek
BMKG juga meminta peningkatan sosialisasi kepada masyarakat mengenai bahaya karhutla dan larangan membuka lahan dengan cara membakar, meningkatkan patroli terpadu di wilayah rawan, memanfaatkan drone atau kamera pengawas untuk mendeteksi titik panas, memastikan kesiapan sarana pemadaman, serta menyediakan layanan pengaduan darurat yang aktif selama 24 jam.
Kepada masyarakat, BMKG mengimbau agar tidak membakar lahan, semak belukar, maupun sampah saat kondisi cuaca kering dan berangin.
Masyarakat juga diminta segera melaporkan apabila melihat asap atau api, membersihkan lingkungan dari bahan yang mudah terbakar, menyediakan cadangan air untuk keadaan darurat, serta mematuhi seluruh arahan pemerintah dan petugas di lapangan.
BMKG berharap seluruh pihak meningkatkan kewaspadaan dan melaksanakan langkah-langkah pencegahan secara konsisten hingga kondisi cuaca dan indeks FWI menunjukkan penurunan risiko karhutla.***
Editor : Mugni Supardi