RADAR PALU – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda wilayah Desa Tojo, Kecamatan Tojo, Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah, Senin (3/8/2026). Peristiwa tersebut menghanguskan sekitar 20 hektare kawasan hutan dan lahan.
Berdasarkan laporan BPBD Provinsi Sulawesi Tengah, kebakaran terjadi sekitar pukul 08.00 WITA. Sementara laporan resmi diterima BPBD pada pukul 13.58 WITA.
Hasil asesmen awal menyebutkan, kebakaran diduga dipicu aktivitas pembukaan lahan untuk kebun yang dilakukan tanpa pengawasan sehingga api dengan cepat merambat ke area sekitar.
Baca Juga: Hari Mangrove Sedunia, PT Agro Nusa Abadi Tanam 100 Pohon di Kawasan Pesisir Morowali
Setelah menerima informasi kejadian, Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kabupaten Tojo Una-Una langsung bergerak ke lokasi.
Petugas melakukan asesmen sekaligus berkoordinasi dengan Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) BPBD Kabupaten Tojo Una-Una dan unsur terkait untuk melakukan upaya pemadaman.
Upaya tersebut membuahkan hasil. Api berhasil dipadamkan sehingga tidak lagi menyebar ke kawasan lain.
Baca Juga: Harmonisasi Perwali Kunjungan Kerja DPRD Perkuat Kepastian Hukum
Meski demikian, petugas masih melakukan proses pendinginan karena di lokasi masih terlihat kepulan asap tipis dari sisa material yang terbakar.
BPBD memastikan tidak ada warga yang harus mengungsi akibat kejadian tersebut.
Selain itu, hingga laporan diterbitkan, tidak terdapat korban jiwa maupun korban luka dalam peristiwa kebakaran tersebut.
BPBD juga menyatakan tidak ada kebutuhan mendesak yang harus dipenuhi karena situasi di lokasi sudah mulai terkendali.
Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Sulawesi Tengah, Ir. Asbudianto, melalui laporan resmi menyebutkan pihaknya terus berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Tojo Una-Una untuk memastikan tidak muncul titik api baru selama proses pendinginan berlangsung.
Masyarakat diimbau tidak membuka lahan dengan cara membakar, terutama di tengah kondisi cuaca yang berpotensi mempercepat penyebaran api. Warga juga diminta segera melaporkan apabila menemukan titik api baru agar dapat ditangani lebih cepat sebelum meluas.***
Editor : Muhammad AwaludinSumber : bpbd Sulteng