Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Dispar Sulteng Ungkap Alasan Festival Buya Subi Jadi Jalan Tenun Donggala ke Pasar Dunia

Annisa Tri Yusnida • Rabu, 8 Juli 2026 | 10:22 WIB
Kepala Dinas Pariwisata Sulawesi Tengah Diah Agustiningsih (Kiri) bersama Kepala OPD lainnya dalam Festival Buya Subi di Desa Towale, Kabupaten Donggala. Festival ini menjadi bagian dari promosi Tenun Donggala ke pasar FOTO: ISTIMEWA 
Kepala Dinas Pariwisata Sulawesi Tengah Diah Agustiningsih (Kiri) bersama Kepala OPD lainnya dalam Festival Buya Subi di Desa Towale, Kabupaten Donggala. Festival ini menjadi bagian dari promosi Tenun Donggala ke pasar FOTO: ISTIMEWA 

 

RADAR PALU – Festival Buya Subi tak hanya menjadi panggung budaya bagi Tenun Donggala. Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah menjadikannya sebagai strategi jangka panjang untuk membawa kain warisan daerah itu menembus pasar internasional.

Kepala Dinas Pariwisata Sulawesi Tengah Diah Agustiningsih mengatakan Festival Buya Subi lahir dari kolaborasi Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah dengan Eco Fashion Week Australia (EFWA). Kerja sama tersebut bertujuan memperkuat pelestarian tenun sekaligus membuka akses pasar global bagi para penenun Donggala.

Menurut Diah, kolaborasi itu merupakan tindak lanjut dari promosi Tenun Donggala yang sebelumnya tampil pada ajang EFWA di Busselton, Australia, pada 2024 dan di Florence, Italia, pada 2025.

Baca Juga: Pentas Padel SulawesiPos 2026 Siap Panaskan Makassar, 16 Tim Berebut Hadiah Rp100 Juta

Dalam dua kegiatan internasional tersebut, Tenun Donggala mendapat perhatian pelaku industri fesyen dunia, termasuk CEO EFWA, sehingga membuka peluang kerja sama yang lebih luas.

"Tenun Donggala yang merupakan warisan budaya Sulteng ini menjadi perhatian dari CEO EFWA, yang kemudian bersama Pemprov Sulteng mencoba untuk menjaga dan mencari pasar internasionalnya," kata Diah kepada Radar Palu, Rabu (8/7/2026).

Ia menjelaskan, Festival Buya Subi bukan hanya menjadi ajang promosi produk tenun. Program ini juga dirancang untuk membangun ekosistem industri kreatif berbasis budaya melalui kolaborasi antara Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah, Dekranasda Sulawesi Tengah, dan EFWA.

Baca Juga: Rumah Adat Kaili di Nunu Terbengkalai, Lembaga Adat Minta Perhatian Pemkot Palu 

"Proyek Buya Subi ini akan dilaksanakan dalam kerja sama Pemprov Sulteng, Dekranasda, dan EFWA selama 2026 sampai dengan 2030," ujarnya.

Diah berharap kerja sama tersebut mampu meningkatkan kesejahteraan para penenun melalui perluasan akses pasar sekaligus memastikan tradisi menenun tetap diwariskan kepada generasi berikutnya.

Tak hanya itu, proyek Buya Subi juga diarahkan untuk mendorong lahirnya berbagai produk kerajinan tangan dan suvenir khas Sulawesi Tengah yang memiliki nilai tambah sehingga mampu bersaing di pasar internasional.

Menurutnya, dampak yang diharapkan tidak hanya dirasakan sektor ekonomi kreatif. Festival Buya Subi juga diproyeksikan menjadi magnet baru pariwisata Sulawesi Tengah karena menawarkan pengalaman budaya yang autentik bagi wisatawan.

Dengan semakin dikenalnya Tenun Donggala di luar negeri, Dinas Pariwisata optimistis kunjungan wisatawan mancanegara ke Sulawesi Tengah akan ikut meningkat, sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat di daerah penghasil tenun.

"Melalui kolaborasi ini, para penenun dapat meningkatkan kesejahteraannya, warisan budaya dapat terjaga dan berkelanjutan, serta ekonomi masyarakat lokal meningkat lewat bertambahnya kunjungan wisatawan mancanegara," tutup Diah.***

Editor : Muhammad Awaludin
#Festival Buya Subi #Eco Fashion Week Australia #Dispar Sulteng #Pariwisata Sulteng #Tenun Donggala