Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Mengenal Tenun Donggala, Warisan Budaya yang Jadi Bintang Buya Subi Festival 2026

Muhammad Awaludin • Rabu, 8 Juli 2026 | 08:23 WIB
Ragam motif Tenun Donggala dipamerkan dalam Buya Subi Festival 2026. Setiap helai kain menyimpan sejarah, filosofi, dan identitas masyarakat Donggala. Foto: Ro. Adpim Sulteng 
Ragam motif Tenun Donggala dipamerkan dalam Buya Subi Festival 2026. Setiap helai kain menyimpan sejarah, filosofi, dan identitas masyarakat Donggala. Foto: Ro. Adpim Sulteng 

 

RADAR PALU – Buya Subi Festival 2026 tak sekadar menjadi ajang peragaan kain tenun atau pameran produk UMKM. Festival yang digelar di Pantai Towale, Kabupaten Donggala, itu juga mengajak masyarakat mengenal lebih dekat Tenun Donggala, salah satu warisan budaya Sulawesi Tengah yang menyimpan sejarah panjang dan makna filosofis di setiap motifnya.

Dalam pembukaan festival, Wakil Gubernur Sulawesi Tengah Reny Lamadjido bahkan menegaskan pentingnya menjaga keberlanjutan tenun melalui regenerasi penenun. Pemprov Sulteng pun berencana membahas pembukaan jurusan khusus tenun di SMK agar keterampilan menenun tidak hilang ditelan zaman.

Upaya tersebut sejalan dengan nilai yang diusung Buya Subi Festival 2026 bertema Handmade for the Earth, yakni merawat tradisi sekaligus memperkenalkan tenun Donggala ke panggung nasional hingga internasional. 

Baca Juga: Rumah Adat Kaili di Nunu Terbengkalai, Lembaga Adat Minta Perhatian Pemkot Palu 

Dilansir dari museumsulawesitengah.com, Tenun Donggala mulai berkembang pada masa kolonial Belanda sebagai hasil pertemuan budaya kerajaan-kerajaan di Sulawesi Tengah dengan masyarakat Bugis. Dari percampuran budaya itu lahirlah teknik menenun yang hingga kini masih dipertahankan secara turun-temurun.

Proses pembuatannya masih dilakukan secara tradisional melalui tiga tahapan utama, yaitu pemintalan benang, pencelupan warna, dan penenunan. Para perajin menggunakan dua jenis alat tenun, yakni gedongan atau alat tenun gendong serta ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin). Masing-masing menghasilkan karakter kain yang berbeda.

Keistimewaan Tenun Donggala terletak pada teknik pengikatan benang sebelum proses pewarnaan. Seluruh tahapan dikerjakan secara manual sehingga membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan waktu yang tidak singkat. Hal itu membuat setiap lembar kain memiliki nilai seni yang tinggi. 

Baca Juga: Haka Auto Genjot Ekspansi Dealer untuk Percepat Ekosistem Kendaraan Listrik

Tak hanya indah dipandang, setiap motif Tenun Donggala juga menyimpan pesan moral yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Palaekat Garusu dan Buya Cura memiliki motif kotak-kotak besar yang melambangkan kewajiban manusia menjaga perilaku sebagai bekal kehidupan setelah mati.

Buya Bomba menampilkan ragam hias bunga dan tanaman melalui teknik ikat. Motif ini menggambarkan cinta suci kepada keluarga, kerajaan, dan Tuhan.

Sementara itu, Buya Subi, yang menjadi inspirasi nama festival, dibuat menggunakan teknik songket atau sungkit. Motif bunga menjalar pada kepala kain melambangkan keteguhan hati seorang pria sekaligus menjadi simbol pemersatu keluarga.

Ada pula motif kombinasi Bomba dan Subi yang memadukan bunga kuncup dan mawar. Motif tersebut bermakna cinta suci Raja terhadap Kerajaan Banawa.

Motif Buya Bomba Kota menampilkan pola kotak-kotak kecil dan garis vertikal sebagai pengingat agar manusia selalu menjaga tingkah laku dalam kehidupan. 

Baca Juga: Gandeng Alfamart, BLK BUOL HEBAT Gelar Pelatihan Calon Pegawai untuk Putra-Putri Daerah

Sedangkan Buya Awi dibuat menggunakan satu warna tanpa motif. Kesederhanaannya justru melambangkan kesucian seorang perempuan yang telah siap memasuki kehidupan berumah tangga.

Filosofi yang tersimpan di balik setiap motif membuat Tenun Donggala bukan sekadar kain tradisional, tetapi juga menjadi identitas masyarakat Donggala sekaligus saksi perjalanan sejarah dan peradaban daerah.

Melalui Buya Subi Festival 2026, warisan budaya itu kembali diperkenalkan kepada generasi muda dan dunia internasional. Festival ini diharapkan tidak hanya menjadi perayaan budaya, tetapi juga membuka peluang pasar baru bagi para perajin sehingga Tenun Donggala tetap lestari dan mampu bersaing di industri fesyen global.***

Editor : Muhammad Awaludin
#Buya Subi Festival #Budaya Donggala #warisan budaya #Museum Sulawesi Tengah #Tenun Donggala