Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Buya Subi Festival 2026 Dibuka, Tenun Donggala Jadi Panggung Budaya Menuju Dunia

Muhammad Awaludin • Rabu, 8 Juli 2026 | 07:48 WIB
Suasana pembukaan Buya Subi Festival 2026 di Pantai Towale, Donggala, Selasa (7/7/2026), yang mengangkat tenun khas Donggala sebagai warisan budaya sekaligus ikon ekonomi kreatif Sulawesi Tengah. FOTO: DINAS PARIWISATA SULTENG
Suasana pembukaan Buya Subi Festival 2026 di Pantai Towale, Donggala, Selasa (7/7/2026), yang mengangkat tenun khas Donggala sebagai warisan budaya sekaligus ikon ekonomi kreatif Sulawesi Tengah. FOTO: JOSUA MARUNDUH For RADAR PALU 

 

RADAR PALU – Pantai Towale di Kecamatan Banawa Tengah, Kabupaten Donggala, berubah menjadi panggung budaya saat Buya Subi Festival 2026 resmi dibuka, Selasa (7/7/2026). Festival bertema Handmade for the Earth itu menghadirkan tenun khas Donggala sebagai pusat perhatian sekaligus simbol identitas budaya Sulawesi Tengah.

Ragam motif, warna, dan karya para penenun menghiasi pembukaan festival yang dihadiri masyarakat, pelaku UMKM, komunitas kreatif, hingga tamu dari luar negeri. Momentum ini menjadi ajang memperkenalkan kekayaan budaya Donggala kepada pasar yang lebih luas.

Wakil Gubernur Sulawesi Tengah Reny Lamadjido mengatakan Buya Subi Festival bukan sekadar perayaan budaya, melainkan ruang untuk memperlihatkan bahwa tenun Donggala memiliki nilai seni, filosofi, dan kualitas yang mampu bersaing di tingkat nasional hingga internasional.

Baca Juga: Rumah Adat Kaili di Nunu Terbengkalai, Lembaga Adat Minta Perhatian Pemkot Palu 

Menurutnya, festival budaya harus menjadi penggerak ekonomi masyarakat. Produk-produk tenun yang dipamerkan diharapkan tidak hanya dinikmati pengunjung, tetapi juga mampu membuka peluang pasar baru bagi para perajin.

"Festival ini harus memberikan manfaat nyata bagi para pengrajin. Masyarakat perlu semakin bangga membeli dan menggunakan produk tenun lokal," ujar Reny.

Ia menilai tenun Donggala memiliki kekuatan pada motif, warna, dan kualitas serat yang khas. Karena itu, para perajin didorong terus berinovasi menghadirkan desain yang mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai budaya yang diwariskan secara turun-temurun.

Baca Juga: Eks Pj Bupati Morowali Rahmansyah Tak Lagi Ditahan di Rutan Palu, Kini Berstatus Tahanan Kota

Di sisi lain, Pemprov Sulawesi Tengah juga menyiapkan langkah untuk menjaga keberlanjutan budaya menenun. Salah satunya dengan membahas rencana pembukaan jurusan khusus tenun di SMK agar lahir generasi baru penenun Donggala.

Langkah tersebut dinilai penting karena sebagian besar penenun saat ini sudah berusia lanjut. Regenerasi menjadi kunci agar tradisi menenun tetap hidup di tengah perkembangan industri fesyen modern.

Buya Subi Festival 2026 juga menjadi ruang kolaborasi antara budaya, pariwisata, dan ekonomi kreatif. Kehadiran CEO Eco Fashion Week Australia, Zuhal Kuvan Mills, membuka peluang promosi tenun Donggala ke pasar internasional melalui jejaring industri fesyen berkelanjutan.

Reny berharap festival ini tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi berkembang menjadi etalase budaya Sulawesi Tengah yang mampu menarik wisatawan, memperkuat UMKM, serta mengangkat tenun Donggala sebagai salah satu produk unggulan Indonesia di mata dunia.

Pembukaan Buya Subi Festival 2026 turut dihadiri Sekretaris Daerah Kabupaten Donggala Rustam Efendi, unsur Forkopimda, serta kepala perangkat daerah di lingkungan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah dan Pemerintah Kabupaten Donggala.***

Editor : Muhammad Awaludin
#Buya Subi Festival 2026 #Festival Budaya #Pariwisata Sulteng #Tenun Donggala #donggala