Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Eceng Gondok Menggila di Danau Lindu, Prodi Sumber Daya Akuatik UNTAD Ajak Masyarakat Turun Tangan

Mugni Supardi • Rabu, 24 Juni 2026 | 06:03 WIB
Aksi bersih eceng gondok dan sampah plastik di area sekitar Festival Danau Lindu, Desa Tomado.
Aksi bersih eceng gondok dan sampah plastik di area sekitar Festival Danau Lindu, Desa Tomado.

RADARPALU - Laju pertumbuhan dan penyebaran eceng gondok di Danau Lindu kian tak terkendali.

Dalam dua bulan terakhir, pertumbuhan dan sebarannya meningkat hingga dua kali lipat, menutupi permukaan air dan mengancam keberlanjutan ekosistem danau penting di kawasan Wallacea. 

Kondisi memprihatinkan ini memantik aksi nyata dari Program Studi Sumber Daya Akuatik Universitas Tadulako (UNTAD) yang berkolaborasi dengan UPA Sumber Daya Hayati Sulawesi.

Baca Juga: Danau Lindu dalam Kepungan Eceng Gondok: Alarm Dini Bencana Ekologi

Aksi tersebut bukan sekadar kegiatan seremonial memperingati Hari Lingkungan Hidup, tetapi menjadi bentuk respons atas kondisi ekologis yang dinilai semakin mengkhawatirkan keberlanjutan Danau Lindu. 

Ketua Program Studi Sumber Daya Akuatik UNTAD, Dr. Ir. Jusri Nilawati, M.Sc. menegaskan bahwa Danau Lindu merupakan laboratorium alam bagi mahasiswa untuk mempelajari biodiversitas endemikuntuk studi-studi evolusi, konservasi dan manajemen pengelolaan danau di Kawasan Wallacea.

Karena itu pihaknya prihatin mendapatkan kondisi Danau Lindu yang saat ini menunjukkan gejala degradasi serius, akibat masuknya spesies akuatik invasif baik flora maupun fauna kedalam ekosistem danau. Kata dia, eceng gondok bukan hanya merusak keindahan danau, tetapi juga mengganggu keseimbangan ekosistem

Baca Juga: Anggaran Rehabilitasi SDN Ganda-Ganda Sebatas Angka di DPA Disdikbud

”Jadi kami melihat secara nyata Danau Lindu sedang diinvasi oleh eceng gondok dari permukaan dan oleh ikan-ikan invasif dari kolom air yang ada dibawahnya, kondisi ini jika tidak segera ditangani maka aset ilmu pengetahuan dunia ini akan hilang,” ujar Jusri.

Menurutnya, jika situasi ini tidak segera ditangani secara serius, sistematis dan terintegrasi secara holistik, maka Danau Lindu akan tinggal kenangan, ia akan kehilangan fungsi ekologisnya sebagai salah satu benteng biodiversitas di kawasan Wallacea.

”Kalau ini terus dibiarkan, kharisma Danau Lindu akan runtuh,” tegasnya. 

 

Dalam aksi tersebut, dosen, mahasiswa, bahu-membahu mengangkat eceng gondok dari permukaan danau, sekaligus mengumpulkan sampah plastik yang mencemari perairan.

Aktivitas ini juga menjadi sarana edukasi langsung bagi masyarakat tentang pentingnya menjaga ekosistem danau. 

Sementara itu, Dr. Ir. Fadly Y. Tantu, M.Si. selaku Kepala UPA Sumber Daya Hayati Sulawesi UNTAD menyatakan bahwa ledakan eceng gondok bukan sekadar persoalan tumbuhan liar, tetapi merupakan indikator adanya ketidakseimbangan lingkungan, terutama akibat peningkatan nutrien dari aktivitas manusia di sekitar daerah tangkapan air. 

Baca Juga: Wujud Kepedulian, Kakanwil Ditjen Imigrasi Sulteng Salurkan Bantuan bagi Korban Gempa di Sigi

Karena itu, kata Fadly, penanganannya tidak cukup hanya dengan pembersihan secara sporadis di permukaan, tetapi dibutuhkan langkah strategis dari hulu hingga hilir, termasuk pengendalian limbah, praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan, serta keterlibatan aktif masyarakat dan pemerintah daerah. 

Sementara itu, Muhamad Fadil Muhtadi, mahasiswa Prodi Sumber Daya Akuatik mengatakan bahwa aksi bersih enceng gondok ini diharapkan menjadi titik awal gerakan bersama untuk menyelamatkan Danau Lindu sebelum kerusakan menjadi tidak terkendali.

”Tentunya kami mahasiswa berharap Danau Lindu terus dapat menjadi laboratorium alam yang memiliki nilai tinggi bagi ilmu pengetahuan,” harapnya.***

Editor : Mugni Supardi
#eceng gondok #Sumber Daya Akuatik UNTAD #UPA Sumber Daya Hayati Sulawesi #danau lindu #untad