RADAR PALU - Kondisi SDN Ganda-Ganda, Kecamatan Petasia, Kabupaten Morowali Utara, semakin memprihatinkan akibat kerusakan berat pada sejumlah ruang kelas dan kantor sekolah.
Kerusakan tersebut bahkan menyebabkan aktivitas belajar mengajar tidak berjalan optimal, terutama saat musim hujan.
Kepala SDN Ganda-Ganda, Asrin Elsestin Laempu, mengungkapkan bahwa beberapa ruang kelas mengalami kebocoran serius.
Baca Juga: DPRD Morut Rampungkan Pembahasan Empat Raperda, Siap Perkuat Landasan Hukum Daerah
Pihak sekolah hanya mampu melakukan perbaikan ringan dengan menutup bagian plafon menggunakan dana BOSP (Bantuan Operasional Satuan Pendidikan) yang terbatas.
"Memang ada beberapa ruang kelas dan kantor yang bocor. Kami lakukan perbaikan seadanya dengan menempel plafon. Saya anggarkan sedikit-sedikit dari dana BOSP," kata Asrin kepada Radar Palu, Selasa (23/6/2026).
Asrin menambahkan, terdapat dua ruang kelas (RKB) yang mengalami kerusakan berat pada bagian atap. Saat hujan turun, air bahkan masuk dan menggenangi ruang kelas sehingga mengganggu proses belajar siswa.
Baca Juga: Banggar DPRD Morut dan TAPD Bahas Perhitungan APBD 2025
"Memang ada dua RKB yang rusak berat atapnya, kalau hujan tergenang air di dalam kelas," katanya.
Sementara itu mantan Kepala Desa Ganda-Ganda, Khaerudin, ikut angkat bicara dan menyatakan keprihatinan atas kondisi sekolah yang semakin memburuk.
Dia menegaskan bahwa kondisi tersebut sangat ironis di tengah upaya pemerintah meningkatkan kualitas pendidikan dan akses belajar yang layak bagi anak-anak.
"Kalau musim hujan, anak-anak belajar dalam kondisi tidak nyaman. Bahkan ada yang sudah tidak mau sekolah karena melihat kondisi sekolah seperti itu," ungkapnya, Senin (22/6/2026).
Khaerudin menjelaskan bahwa usulan rehabilitasi SDN Ganda-Ganda sebenarnya telah masuk dalam pokok pikiran (pokir) DPRD Morut melalui Wakil Ketua Komisi I, Arman Purnama Marunduh, setelah dilakukan peninjauan langsung ke lokasi.
Namun, dia menyebut anggaran yang dialokasikan tidak mencukupi untuk memperbaiki seluruh kerusakan yang ada.
"Sudah masuk pokir Pak Arman. Beliau turun langsung melihat kondisi sekolah. Tapi anggarannya hanya sekitar Rp100 juta untuk enam ruang kelas. Jelas tidak cukup," jelasnya.
Khaerudin juga mengungkapkan bahwa berdasarkan komunikasi dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dissikbud) Morut, anggaran rehabilitasi sebenarnya sudah tercantum dalam Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA).
Namun, kebijakan efisiensi anggaran daerah menyebabkan sejumlah program pendidikan dinolkan sementara waktu. Kondisi ini membuat proses rehabilitasi harus menunggu pembahasan APBD Perubahan, yang hingga kini belum memberikan kepastian.
"Anggarannya ada di DPA, tapi karena efisiensi, dinolkan. Sekarang menunggu perubahan anggaran, sementara belum tentu juga terakomodasi," ujarnya.
Khaerudin menegaskan bahwa rehabilitasi SDN Ganda-Ganda harus menjadi prioritas karena menyangkut hak dasar pendidikan anak-anak.
Dia berencana menemui Ketua DPRD Morut untuk mendorong percepatan realisasi anggaran perbaikan sekolah tersebut.
"Saya akan menghadap Ketua DPRD. Ini hak dasar warga negara. Saya dorong agar rehabilitasi segera dilaksanakan," tegasnya.
Selain itu, dia juga membuka opsi pendanaan alternatif melalui CSR perusahaan yang beroperasi di wilayah tersebut agar perbaikan bisa segera dilakukan tanpa menunggu terlalu lama.
"Kalau bisa lewat CSR atau skema lain, akan saya dorong. Yang penting sebelum tahun ajaran baru, sekolah sudah bisa digunakan dengan layak," tambahnya.
Khaerudin mengaku menyaksikan langsung kondisi sekolah saat menghadiri acara pelepasan siswa kelas VI. Saat hujan turun, kondisi bangunan semakin menunjukkan ketidaklayakan.
"Saat pelepasan siswa, hujan turun dan terlihat jelas sekolah itu sudah tidak layak digunakan," tandasnya. (***)
Editor : Muchsin Siradjudin