RADAR PALU - Kondisi memprihatinkan terjadi di SDN Tanauge, Desa Tanauge, Kecamatan Petasia, Kabupaten Morowali Utara (Morut).
Di tengah berbagai program peningkatan kualitas pendidikan, puluhan siswa di sekolah tersebut justru masih harus belajar di bangunan yang rusak parah, dengan atap jebol, plafon runtuh, serta ruang kelas yang bocor saat hujan turun.
Melihat kondisi itu, Penjabat (Pj) Kepala Desa Tanauge, Faisal Dg Siame, mendesak Pemkab Morut untuk segera memprioritaskan anggaran rehabilitasi sekolah demi menyelamatkan masa depan anak-anak di desanya.
Menurut Faisal, pendidikan merupakan hak dasar warga negara yang dijamin oleh undang-undang sehingga tidak boleh dikorbankan oleh kebijakan apa pun.
"Karena pendidikan adalah hak dasar warga negara dan amanah undang-undang, saya meminta kepada Pemerintah Daerah agar lebih memprioritaskan anggaran untuk pendidikan, khususnya yang ada di Desa Tanauge," tegas Faisal kepada Radar Palu, Senin (22/6/2026).
Berdasarkan kondisi yang terlihat di lapangan, kerusakan sekolah sudah berada pada tahap mengkhawatirkan. Sejumlah bagian atap tampak berlubang dan rusak berat. Plafon bangunan banyak yang ambruk hingga memperlihatkan rangka atap yang lapuk.
Baca Juga: Ratusan Buruh PT NNI Geruduk Disnakertrans Morut, Laporkan Dugaan Pelanggaran Ketenagakerjaan
Di beberapa ruang kelas, bekas rembesan air terlihat hampir di seluruh bagian dinding. Bahkan lantai kelas tampak basah akibat kebocoran yang terjadi saat hujan.
Yang lebih memprihatinkan, proses belajar mengajar masih berlangsung di tengah kondisi bangunan yang dinilai tidak lagi aman bagi siswa maupun guru.
SDN Tanauge saat ini menampung sekitar 60 siswa dengan dukungan 10 tenaga pendidik yang setiap hari menjalankan aktivitas belajar di tengah keterbatasan fasilitas.
Baca Juga: Banggar DPRD Morut dan TAPD Bahas Perhitungan APBD 2025
Faisal menyebut kondisi sekolah saat ini sudah tidak bisa dianggap sebagai persoalan biasa. Menurutnya, keselamatan peserta didik harus menjadi prioritas utama pemerintah.
Dia bahkan menegaskan jika bangunan sekolah tidak segera diperbaiki, maka meliburkan sekolah jauh lebih baik daripada membiarkan anak-anak belajar dalam situasi yang berisiko. Sebab, ada potensi kecelakaan yang sewaktu-waktu dapat terjadi akibat kerusakan bangunan yang semakin parah.
"Kalau kondisi seperti ini terus dibiarkan, daripada mengancam jiwa anak-anak kami, lebih baik sekolah diliburkan sampai ada bangunan yang layak untuk mereka," ujarnya.
Selain mengancam keselamatan, kondisi sekolah yang memprihatinkan juga mulai berdampak pada psikologis peserta didik.
Baca Juga: Ratusan Buruh PT NNI Geruduk Disnakertrans Morut, Laporkan Dugaan Pelanggaran Ketenagakerjaan
Faisal mengungkapkan bahwa sebagian anak-anak sudah mulai kehilangan semangat untuk bersekolah karena harus belajar di lingkungan yang tidak nyaman dan tidak aman.
Dia khawatir tahun ajaran baru justru menjadi momentum yang menyedihkan bagi dunia pendidikan di Desa Tanauge apabila pemerintah tidak segera mengambil langkah konkret.
"Kalau tidak segera ditangani, tahun ajaran baru ini bisa menjadi duka bagi dunia pendidikan. Anak-anak kami sudah tidak mau lagi bersekolah karena kondisi sekolah yang seperti ini," katanya.
Baca Juga: 16 Perusahaan Tambang Bangun Jalan di Morowali-Morut Lewat CSR Rp355 Miliar
Kerusakan SDN Tanauge bukan lagi sekadar persoalan fasilitas pendidikan yang kurang memadai. Kondisi tersebut telah menyentuh aspek keselamatan jiwa dan hak dasar anak untuk memperoleh pendidikan yang layak.
Masyarakat Desa Tanauge kini berharap Pemkab Morut segera turun tangan dengan mengalokasikan anggaran rehabilitasi secara prioritas sebelum tahun ajaran baru dimulai.
Jika tidak segera ditangani, sekolah yang seharusnya menjadi tempat menuntut ilmu justru berpotensi menjadi ancaman bagi keselamatan 60 siswa dan 10 guru yang setiap hari berada di dalamnya.(***)
Editor : Muchsin Siradjudin