Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Pertanian Sulteng Tetap Tumbuh, Bahodopi Didorong Kembangkan Hortikultura Adaptif

Rina Khalik • Selasa, 23 Juni 2026 | 03:37 WIB
Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas TPH Provinsi Sulteng, Siti Zulfahmi.
Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas TPH Provinsi Sulteng, Siti Zulfahmi.

RADAR PALU – Sektor pertanian pangan di Sulawesi Tengah dalam kurun 2023 hingga saat ini masih menunjukkan pertumbuhan meski menghadapi berbagai tantangan, mulai dari iklim ekstrem hingga alih fungsi lahan.

Hal tersebut disampaikan Kepala Bidang Tanaman Pangan di Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) Sulawesi Tengah, Siti Zulfahmi. 

Menurutnya, secara umum sektor pertanian di Sulawesi Tengah tetap tumbuh meski fluktuatif akibat pengaruh cuaca. Di Kabupaten Morowali, luas lahan pertanian mengalami penurunan karena alih fungsi lahan, namun produktivitas per hektare terus meningkat melalui upaya intensifikasi.

Baca Juga: FAO Juni 2026: Indonesia Produsen Beras Terbesar ASEAN dan Peringkat 4 Dunia

Data produksi padi Sulawesi Tengah secara umum menunjukkan bahwa pada 2023 mencapai 821.367 ton gabah kering giling (GKG) dengan surplus beras sekitar 200 ribu ton.

Pada 2024, produksi turun menjadi 761.936 ton atau sekitar 7,2 persen akibat iklim ekstrem. Sementara pada 2025 produksi kembali meningkat menjadi 904.461 ton GKG atau setara 528.179 ton beras, dengan surplus beras mencapai 233.706 ton.

“Masalah utama yang dihadapi sektor pertanian saat ini adalah iklim yang tidak menentu, baik kekeringan maupun banjir yang mengganggu jadwal tanam. Selain itu, alih fungsi lahan ke sektor industri dan pertambangan menyebabkan luas sawah menyusut di beberapa kabupaten, serta jaringan irigasi yang rusak yakni saluran tersumbat maupun terputus,” ujar Siti Zulfahmi kepada Radar Palu saat dihubungi melalui via WhatsApp.

Baca Juga: Tak Sesuai Aturan, Sejumlah Anggota Polresta Palu Ditegur hingga Rambutnya Digunting Propam

Untuk Kabupaten Morowali, komoditas unggulan sektor pertanian meliputi tanaman pangan berupa padi, komoditas perkebunan seperti sawit, pala, cengkeh dan kelapa dalam, serta hortikultura berupa buah melon, alpukat, durian, semangka dan berbagai jenis sayuran daun.

Berdasarkan data BPS, produksi padi Morowali pada 2023 mencapai 26.389 ton dengan produktivitas 5,58 ton per hektare. Tahun 2024 meningkat menjadi 29.818 ton dengan produktivitas 4,02 ton per hektare.

Pada 2025 produksi tercatat 28.902 ton dengan produktivitas 4,36 ton per hektare, sedangkan hingga Juni 2026 mencapai 13.708 ton dengan produktivitas 4,04 ton per hektare.

 

Sementara untuk jagung, berdasarkan data DTPH, produksi pada 2023 mencapai 807 ton dengan produktivitas 4,50 ton per hektare.

Tahun 2024 turun menjadi 347 ton dengan produktivitas 3,41 ton per hektare, dan pada 2025 kembali meningkat menjadi 565 ton dengan produktivitas 3,45 ton per hektare.

Siti Zulfahmi mengatakan padi masih menjadi komoditas strategis karena berkaitan langsung dengan ketahanan pangan.

Baca Juga: SMP Al-Azhar A Tampil Perkasa, Raih Gelar Juara Radar Palu Cup II 2026

Namun tren produksi sangat dipengaruhi luas tanam, kondisi irigasi, ketersediaan pupuk, tenaga kerja tani serta alih fungsi lahan.

“Di wilayah seperti Bahodopi, pertanian bukan lagi sektor dominan karena tekanan industri. Namun masih memiliki peluang pada pengembangan hortikultura, sayuran segar, buah dan pangan lokal,” katanya.

Dalam upaya pengembangan pertanian berkelanjutan sejak 2023 hingga saat ini, Dinas TPH Sulawesi Tengah menjalankan lima pilar utama, yakni Program Berani Panen Raya melalui intensifikasi dengan benih unggul dan pupuk berimbang, program cetak sawah dan rehabilitasi lahan, pertanian ramah lingkungan, penguatan pascapanen, serta pengembangan petani milenial.

Baca Juga: Tips Berkendara #Cari_Aman Biar Happy Saat Liburan Panjang Sekolah

Di Kabupaten Morowali, khususnya Bahodopi, arah pengembangan pertanian difokuskan pada pertanian adaptif skala kawasan melalui hortikultura, sayuran cepat panen, urban farming, pemanfaatan pekarangan serta kerja sama pemasaran dengan pelaku usaha, katering, pasar dan kawasan industri.

Terkait dukungan menghadapi perubahan iklim, alih fungsi lahan, pasar, modal dan teknologi, pemerintah mendorong penyediaan benih tahan iklim, pengaturan kalender tanam, rehabilitasi irigasi, pemanfaatan pompa dan alat mesin pertanian, penguatan kelembagaan kelompok tani serta fasilitasi akses Kredit Usaha Rakyat (KUR) pertanian.

Selain itu, pemerintah provinsi juga mendorong kolaborasi lintas sektor melalui dukungan irigasi, pupuk tepat sasaran, bantuan alsintan dan penyerapan gabah maupun beras petani oleh Bulog.

 

Pada aspek pemasaran, pemerintah mendorong pembentukan kelembagaan pemasaran tani, fasilitasi kontrak jual beli langsung dengan industri dan Bulog, serta sosialisasi standar mutu dan sertifikasi organik agar produk dapat diterima pasar yang lebih luas.

Di bidang permodalan, dukungan dilakukan melalui subsidi benih, pupuk, sarana irigasi dan alsintan yang dikelola dengan sistem pinjam pakai.

Pemerintah juga mendorong kemitraan modal melalui kolaborasi pemerintah dan CSR perusahaan seperti IMIP dan Vale untuk dana pendamping serta modal kerja bagi kelompok tani di Bahodopi, khususnya petani jagung dan sayuran.

Baca Juga: Askrindo Peduli Salurkan Bantuan untuk Korban Gempa di Desa Kamarora A, Nokilalaki

Sementara dari sisi teknologi, pengembangan dilakukan melalui penyebaran varietas unggul tahan kering maupun banjir, bantuan alsintan seperti traktor, perontok dan mesin panen, serta digitalisasi melalui sistem informasi cuaca dini dan jadwal tanam.

Ia menilai pertumbuhan penduduk Bahodopi akibat migrasi tenaga kerja dapat dilihat sebagai peluang ekonomi baru. Kebutuhan pangan, sayuran, buah, telur, daging dan bahan makanan harian meningkat. 

“Artinya, meskipun lahan pertanian makin terbatas, peluang usaha pertanian pendukung tetap besar, terutama hortikultura, peternakan kecil, pengolahan pangan, distribusi hasil pertanian dan kemitraan dengan pelaku industri,” ujarnya. 

Baca Juga: PT CPM Perkuat Pembinaan Sepak Bola Anak Lingkar Tambang Lewat Coaching Clinic Series 3

Berdasarkan data Satu Data Morowali 2025, jumlah petani di Bahodopi tercatat sebanyak 74 orang. Jumlah tersebut lebih kecil dibandingkan kecamatan berbasis pertanian seperti Wita Ponda dan Bumi Raya.

Dari sisi ekonomi daerah, kontribusi sektor pertanian terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sulawesi Tengah berada pada kisaran 21 hingga 22 persen dengan serapan tenaga kerja sekitar 42 hingga 46 persen.

Namun di Kabupaten Morowali, kontribusi sektor pertanian relatif kecil karena struktur ekonomi didominasi industri pengolahan dan pertambangan.

 

“BPS menyebut konstribusi pertanian Morowali pada 2024 sekitar 1,6 persen. Sementara industri pengolahan menjadi sektor utama. Walaupun konstribusi PDRB kecil, pertanian tetap penting karena menyangkut pangan, lapangan kerja masyarakat desa dan pengendalian inflasi pangan daerah,” pungkasnya.(rna)

Editor : Mugni Supardi
#DTPH Sulteng #Bahodopi #pertanian Sulawesi Tengah #Hortikultura #morowali