RADARPALU - Risiko longsor dan banjir bandang di wilayah Sulawesi Tengah, khususnya Kabupaten Sigi, pascagempa magnitudo 6,7 yang terjadi pada 16 Juni lalu meningkat seiring tingginya aktivitas gempa susulan dan prakiraan curah hujan di atas normal pada akhir Juni 2026.
Berdasarkan data Stasiun Geofisika Palu hingga Senin (22/6) pukul 06.30 WIB, tercatat telah terjadi sebanyak 1.256 gempa susulan di wilayah terdampak.
Aktivitas kegempaan yang masih tinggi tersebut berpotensi menyebabkan retakan dan ketidakstabilan struktur tanah, terutama di kawasan perbukitan dan lereng.
Sementara itu, Stasiun Pemantau Atmosfer Global (GAW) Lore Lindu Bariri merilis prakiraan cuaca BMKG yang menunjukkan sebagian besar wilayah Sulawesi Tengah akan mengalami curah hujan kategori Atas Normal (AN) pada dasarian III Juni 2026.
Kepala GAW Lore Lindu Bariri, Asep Firman Ilahi menjelaskan, kombinasi antara kondisi tanah yang labil akibat gempa dan hujan berintensitas menengah hingga tinggi dapat memicu terjadinya bencana hidrometeorologi seperti tanah longsor dan banjir bandang.
Karena itu, masyarakat yang tinggal di daerah pegunungan, lereng, maupun sekitar aliran sungai diminta meningkatkan kewaspadaan tanpa perlu panik.
Baca Juga: Rangkaian HLHS 2026 Tuntas, IMIP Komitmen untuk Industri Hijau Berkelanjutan
GAW Lore Lindu Bariri mengimbau warga segera melaporkan jika menemukan retakan baru, amblesan tanah, atau perubahan kondisi lereng di sekitar permukiman.
Masyarakat juga diminta menjauhi bantaran sungai apabila air mendadak berubah keruh karena dapat menjadi indikasi adanya material longsor yang menyumbat aliran sungai di bagian hulu.
Selain itu, warga yang tinggal di lereng curam disarankan mempertimbangkan evakuasi sementara ke lokasi yang lebih aman apabila hujan lebat berlangsung lebih dari satu jam secara terus-menerus.
Pemerintah daerah bersama masyarakat juga diharapkan aktif membersihkan saluran drainase, anak sungai, serta material yang berpotensi menghambat aliran air guna mengurangi risiko banjir bandang.
Asep juga meminta masyarakat terus memantau informasi resmi terkait cuaca dan aktivitas gempa melalui kanal komunikasi resmi BMKG maupun BPBD setempat agar dapat mengambil langkah mitigasi secara cepat dan tepat.***
Editor : Mugni Supardi