RADARPALU - Dalam rangka mendukung program prioritas nasional percepatan Eliminasi Tuberkulosis Tahun 2030, Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Poltekkes Kemenkes Palu melaksanakan kegiatan bertajuk “Pemberdayaan Berbasis Tugas Kesehatan Keluarga dalam Kemandirian Pencegahan Tuberkulosis Menuju Desa Siaga Tuberkulosis” di Desa Tagolu, Kecamatan Lage, Kabupaten Poso.
Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan kapasitas kader kesehatan serta memperkuat peran keluarga sebagai garda terdepan dalam pencegahan, penemuan dini, dan pengendalian tuberkulosis (TB) di masyarakat.
Program ini sejalan dengan komitmen Pemerintah Indonesia untuk mencapai target eliminasi TB pada tahun 2030 sebagaimana tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) dan strategi nasional penanggulangan tuberkulosis.
Baca Juga: Rangkaian HLHS 2026 Tuntas, IMIP Komitmen untuk Industri Hijau Berkelanjutan
Tuberkulosis masih menjadi salah satu penyakit menular yang memberikan beban kesehatan yang tinggi di Indonesia.
Keberhasilan pengendalian TB tidak hanya bergantung pada layanan kesehatan, tetapi juga membutuhkan keterlibatan aktif keluarga dan masyarakat dalam mengenali gejala, mendukung pengobatan hingga tuntas, serta menciptakan lingkungan yang sehat dan bebas risiko penularan.
Kegiatan pengabdian ini mendapat dukungan penuh dari berbagai pihak, termasuk Pemerintah Desa Tagolu dan Puskesmas Tagolu.
Baca Juga: Kolaborasi Program Mosikola PT CPM dan Kana Mapande Luluskan 50 Peserta Paket A, B, dan C
Pada acara pembukaan, Kepala Puskesmas Tagolu, Dewi Noeralim, SKM., M.KM, menyampaikan apresiasi atas inisiatif Poltekkes Kemenkes Palu yang telah menghadirkan program pemberdayaan masyarakat yang selaras dengan agenda nasional pengendalian tuberkulosis.
“Tuberkulosis masih menjadi tantangan kesehatan yang memerlukan keterlibatan semua pihak. Peran kader kesehatan dan keluarga sangat penting dalam mendeteksi gejala sejak dini, memberikan dukungan selama pengobatan, serta mencegah penularan di lingkungan rumah tangga. Kami berharap kegiatan ini dapat memperkuat kapasitas masyarakat dalam mendukung upaya eliminasi TB di wilayah kerja Puskesmas Tagolu,” ungkap Dewi Noeralim.
Tim pengabdian dipimpin oleh Dafrosia Darmi Manggasa, S.Kep., Ns., M.Biomed, dengan anggota Rosamey Elleke Langitan, S.Kep., Ns., M.Kep dan R. Bambang Hermanto, S.Kep., Ns., serta melibatkan empat mahasiswa sebagai fasilitator lapangan.
Dalam kegiatan ini, peserta memperoleh pelatihan mengenai konsep dasar tuberkulosis, faktor risiko, tanda dan gejala, mekanisme penularan, upaya pencegahan, pentingnya kepatuhan pengobatan, serta penerapan lima tugas kesehatan keluarga dalam pencegahan tuberkulosis.
Kelima tugas tersebut meliputi kemampuan keluarga dalam mengenali masalah kesehatan, mengambil keputusan yang tepat, merawat anggota keluarga yang sakit, memodifikasi lingkungan rumah agar sehat, dan memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan secara optimal.
Ketua tim pengabdian, Dafrosia Darmi Manggasa, menjelaskan bahwa pendekatan berbasis tugas kesehatan keluarga merupakan strategi yang relevan dalam mendukung transformasi layanan kesehatan primer yang saat ini menjadi fokus pembangunan kesehatan nasional.
Baca Juga: Kontingen PESPARAWI Sulteng Optimistis Raih Hasil Terbaik di Manokwari
“Keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat yang memiliki peran besar dalam menjaga kesehatan anggotanya. Melalui penguatan tugas kesehatan keluarga, masyarakat tidak hanya menjadi objek program kesehatan, tetapi juga menjadi pelaku utama dalam pencegahan dan pengendalian tuberkulosis. Pendekatan ini mendukung transformasi kesehatan primer yang menempatkan upaya promotif dan preventif sebagai prioritas,” jelasnya.
Selain pelatihan kader kesehatan, kegiatan dilanjutkan dengan kunjungan rumah (home visit) kepada keluarga di Desa Tagolu.
Kegiatan ini bertujuan memberikan edukasi langsung kepada masyarakat mengenai pencegahan TB, melakukan identifikasi faktor risiko di lingkungan rumah, serta mendampingi keluarga dalam menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.
Baca Juga: Pemkab Buol Bentuk Tim Satgas Penertiban PETI
Selama kunjungan rumah, kader kesehatan memberikan penyuluhan mengenai etika batuk, pentingnya ventilasi dan pencahayaan rumah yang memadai, menjaga kebersihan lingkungan, pemenuhan gizi keluarga, serta pentingnya memanfaatkan fasilitas kesehatan apabila ditemukan anggota keluarga dengan gejala yang mengarah pada tuberkulosis.
Kegiatan kunjungan rumah juga menjadi sarana implementasi hasil pelatihan kader dalam memberikan pendampingan dan edukasi kepada masyarakat.
Pendekatan ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya deteksi dini dan pengobatan TB hingga tuntas sebagai langkah memutus rantai penularan.
Antusiasme peserta terlihat selama pelaksanaan kegiatan. Para kader kesehatan aktif mengikuti sesi diskusi, simulasi, praktik edukasi, dan pendampingan keluarga.
Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan dan keterampilan kader terkait pencegahan tuberkulosis berbasis keluarga setelah mengikuti pelatihan.
Program ini diharapkan menjadi langkah nyata menuju terwujudnya Desa Siaga Tuberkulosis, yaitu desa yang memiliki kepedulian, kesiapsiagaan, dan kemampuan dalam melakukan pencegahan, deteksi dini, serta pengendalian tuberkulosis secara berkelanjutan.
Baca Juga: Gempa M 4,1 Kembali Guncang Sigi, BMKG Catat 1.163 Kali Gempa Susulan Pascagempa M 6,7
Dengan meningkatnya kapasitas kader kesehatan dan pemberdayaan keluarga, target Indonesia menuju Eliminasi Tuberkulosis Tahun 2030 diharapkan dapat dicapai secara lebih efektif dan berkelanjutan.***
Editor : Mugni Supardi