Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Air Laut Teluk Palu Sempat Surut Usai Gempa Sigi, Badan Geologi Ungkap Dugaan Penyebabnya

Muhammad Awaludin • Sabtu, 20 Juni 2026 | 13:32 WIB
Tangkapan layar video warga memperlihatkan kondisi pesisir Pantai Dupa, Kabupaten Donggala, yang disebut mengalami surut air laut sesaat setelah gempa magnitudo 6,7 mengguncang Sulawesi Tengah, Selasa (16/6/2026). BMKG memastikan gempa tersebut tidak berpotensi tsunami.
Tangkapan layar video warga memperlihatkan kondisi pesisir Pantai Dupa, Kabupaten Donggala, yang disebut mengalami surut air laut sesaat setelah gempa magnitudo 6,7 mengguncang Sulawesi Tengah, Selasa (16/6/2026). BMKG memastikan gempa tersebut tidak berpotensi tsunami.

 

RADAR PALU – Fenomena surutnya air laut di Teluk Palu sesaat setelah gempa bumi magnitudo 6,7 yang mengguncang Kabupaten Sigi menjadi perhatian Badan Geologi Kementerian ESDM.

Dalam konferensi pers yang disiarkan melalui kanal YouTube Badan Geologi, Jumat (19/6/2026), Plt Kepala Badan Geologi Lana Saria mengungkapkan bahwa fenomena tersebut kemungkinan berkaitan dengan penurunan lahan akibat guncangan gempa.

“Fenomena surutnya air laut di Teluk Palu kemungkinan berasal dari penurunan lahan yang menyebabkan sebagian dataran pantai amblas ke dalam laut saat mendapat guncangan gempa bumi,” kata Lana. 

Baca Juga: Lebih dari 150 Gempa Susulan Guncang Sigi, Badan Geologi Sebut Mirip Gempa Swarm

Meski demikian, ia menegaskan bahwa kajian lebih lanjut masih terus dilakukan untuk memastikan penyebab pasti fenomena tersebut.

Menurut Lana, perubahan kondisi daratan pantai akibat gempa dapat memengaruhi garis pantai dan tinggi muka air laut yang terlihat oleh masyarakat.

Karena itu, fenomena surutnya air laut yang sempat diamati warga tidak serta merta dapat disimpulkan sebagai pertanda tsunami. 

Baca Juga: BPBD Sigi: 2.319 Rumah Rusak Akibat Gempa M 6,7, Korban Terdampak Capai 8.586 Jiwa

Badan Geologi menyebut temuan awal di lapangan juga menunjukkan adanya retakan tanah, penurunan lahan, amblesan jalan, hingga longsoran di sejumlah lokasi terdampak.

Salah satu longsoran dilaporkan terjadi di kawasan Gunung Kamarora akibat ketidakstabilan lereng yang dipicu guncangan gempa.

Selain itu, amblesan dan retakan pada akses jalan menuju Napu menjadi indikasi terjadinya deformasi permukaan tanah akibat kondisi geologi yang labil.

Lana mengimbau masyarakat pesisir untuk tetap tenang dan mengutamakan informasi resmi dari instansi pemerintah apabila menemukan fenomena yang tidak biasa.

“Jangan mudah percaya pada isu atau kabar yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Selalu ikuti informasi resmi dari pemerintah dan petugas kebencanaan,” tegasnya.

Badan Geologi menilai peristiwa ini menjadi pengingat bahwa wilayah Sulawesi Tengah masih berada dalam kawasan tektonik aktif sehingga kesiapsiagaan masyarakat harus terus diperkuat untuk mengurangi risiko bencana di masa mendatang.*** 

Editor : Muhammad Awaludin
#Badan Geologi ESDM #Air Laut Surut #Land Subsidence #Teluk Palu #gempa sigi