Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Gempa Sigi Berdampak pada 6.391 Jiwa, Bupati Rizal Minta Distribusi Bantuan Terpusat

Angel Sumbara • Kamis, 18 Juni 2026 | 17:48 WIB
ARAHAN: Bupati Sigi, Moh. Rizal Intjenae memberi arahan membahas penanganan bencana gempa bumi, di Kabupaten Sigi.(FOTO: ANGEL SUMBARA/RADAR PALU).
ARAHAN: Bupati Sigi, Moh. Rizal Intjenae memberi arahan membahas penanganan bencana gempa bumi, di Kabupaten Sigi.(FOTO: ANGEL SUMBARA/RADAR PALU).

RADAR PALU – Dampak gempa bumi tektonik berkekuatan Magnitudo 6,7 yang mengguncang Kabupaten Sigi pada Selasa (16/6/2026) masih terus didata oleh Tim Reaksi Cepat (TRC) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sigi.

Berdasarkan laporan situasi terbaru Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops-PB) BPBD Kabupaten Sigi per 18 Juni 2026 pukul 02.00 WITA, tercatat dua orang meninggal dunia dan 108 orang mengalami luka-luka akibat bencana tersebut.

Dari jumlah korban luka, sebanyak 91 orang mengalami luka ringan dan 17 orang mengalami luka berat. Sementara warga terdampak mencapai 6.391 jiwa atau 2.094 kepala keluarga yang tersebar di sejumlah desa di Kecamatan Palolo dan Nokilalaki.

Baca Juga: PT CPM Hadir Ringankan Beban Warga Terdampak Bencana Sigi

Selain menimbulkan korban jiwa, gempa juga menyebabkan kerusakan signifikan pada permukiman warga. Sebanyak 1.637 unit rumah dilaporkan mengalami kerusakan, terdiri atas 1.459 rumah rusak ringan, 115 rumah rusak sedang, dan 63 rumah rusak berat.

Kerusakan juga terjadi pada fasilitas umum. BPBD mencatat sembilan kantor pemerintahan, tujuh masjid, 29 gereja, 11 sekolah, empat unit UMKM, tiga jaringan air bersih, dua puskesmas, satu gilingan, satu gedung pertemuan, dan satu rumah adat terdampak akibat guncangan gempa.

Beberapa lokasi yang mengalami dampak cukup serius antara lain Kantor Bupati Sigi dan Bapperinda di Bora, jaringan air bersih yang terputus di Desa Kamarora A, Kamarora B dan Sopu, bangunan sekolah di Lambara, kandang ayam di Ranteleda, serta Kantor Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) di Desa Bahagia.

Baca Juga: BPS Sigi Kerahkan 300 Petugas, Pendataan Sensus Ekonomi Berlangsung Hingga Agustus 2026

Desa Kamarora B menjadi wilayah dengan dampak kerusakan terbanyak dengan 361 kasus kerusakan yang tercatat. Disusul Desa Kamarora A sebanyak 179, Sintuwa 74, Uwe Nuni 63, dan Kaidia 13.

Sementara itu, aktivitas kegempaan masih terus berlangsung. Hingga laporan terakhir, tercatat sebanyak 703 goncangan gempa, termasuk 25 kali gempa susulan. Gempa susulan terbesar mencapai Magnitudo 5,3 dengan intensitas maksimum 2 MMI.

Menanggapi kondisi tersebut, Bupati Sigi Mohamad Rizal Intjenae menegaskan Pemerintah Kabupaten Sigi terus memacu percepatan penanganan pascabencana, termasuk dampak gempa bumi dan fenomena likuifaksi yang terjadi di sejumlah wilayah terdampak.

Baca Juga: Korban Meninggal Akibat Gempa Sigi Bertambah Jadi Tiga Orang

Dalam rapat koordinasi penanganan darurat, Rizal menginstruksikan seluruh pihak, termasuk organisasi kemasyarakatan, relawan, hingga partai politik, agar seluruh bantuan logistik disalurkan melalui satu pintu, yakni Posko Utama atau Pusdalops di lokasi bencana.

Menurutnya, mekanisme tersebut diperlukan untuk memastikan bantuan dapat terdistribusi secara adil dan merata kepada seluruh warga terdampak.

"Semua penyaluran bantuan harus lewat Pusdalops dan posko setempat. Ini dilakukan agar tidak terjadi double atau tumpang tindih. Jangan sampai ada wilayah yang mendapatkan bantuan berkali-kali, sementara ada titik lain yang justru sama sekali belum tersentuh," tegas Rizal.

Bupati juga mengapresiasi kerja cepat berbagai pihak yang terlibat dalam penanganan darurat, termasuk Wakil Bupati, instansi vertikal, pemerintah provinsi, hingga pemerintah pusat.

Menurutnya, distribusi air bersih melalui armada tangki dari Balai Cipta Karya dan BPBD Provinsi Sulawesi Tengah telah menjangkau sejumlah titik terdampak. Sementara pasokan listrik di wilayah yang sebelumnya mengalami gangguan, termasuk Desa Kamarora, telah kembali normal setelah dilakukan penanganan oleh PLN.

Di sisi lain, Rizal mengungkapkan sebagian besar warga terdampak memilih mengungsi secara mandiri di sekitar rumah masing-masing dibandingkan berada di satu lokasi pengungsian terpusat.

"Warga memilih tinggal di dekat rumah mereka karena alasan keamanan harta benda, sekaligus agar tetap bisa beraktivitas seperti menjemur hasil bumi. Pemerintah menghormati keputusan ini dan memfokuskan layanan logistik langsung ke titik-titik tersebut," jelasnya.

Pemerintah Kabupaten Sigi juga menyiapkan solusi sementara bagi masyarakat yang kehilangan tempat ibadah akibat gempa. Program tersebut diberi nama Gentara (Gereja Sementara) dan Maktara (Masjid Sementara).

Fasilitas darurat itu akan dibangun di sejumlah wilayah terdampak agar aktivitas keagamaan masyarakat tetap dapat berjalan selama masa pemulihan.

Selain itu, pemerintah juga mengantisipasi dampak lanjutan berupa potensi banjir bandang akibat perubahan aliran sungai pascalikuifaksi. Tim teknis dari Dinas Pekerjaan Umum bersama Balai Taman Nasional telah menerjunkan drone untuk memetakan titik penyumbatan sungai yang berpotensi menimbulkan bencana susulan.

Di sektor kesehatan, Dinas Kesehatan dan RSUD Torabelo diminta bersiaga penuh mengantisipasi munculnya penyakit menular maupun diare yang kerap muncul pascabencana, dengan memastikan sanitasi di lokasi pengungsian tetap terjaga.

Sebagai bagian dari upaya pemulihan psikososial masyarakat, Pemerintah Kabupaten Sigi juga berencana menggelar Zikir Akbar bersama Gubernur Sulawesi Tengah dan Kepala BNPB yang dijadwalkan meninjau langsung lokasi terdampak bencana dalam waktu dekat.(***)

Editor : Muchsin Siradjudin
#Pengendalian operasi Reaksi Cepat #Mencatat kerusakan #Tanggap Darurat Bencana #kabupaten sigi