Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Cerita dari Tenda Pengungsian di Kamarora A, Sigi, Menanti Air Bersih di Tengah Ketakutan Pascagempa

Angel Sumbara • Rabu, 17 Juni 2026 | 12:01 WIB
DI BAWAH TENDA: Satu KK warga Sigi, yang membuka tenda, di tempat aman, menghindari kemungkinan terjadinya gempa susulan.(FOTO:  ANGEL SUMBARA/RADAR PALU).
DI BAWAH TENDA: Satu KK warga Sigi, yang membuka tenda, di tempat aman, menghindari kemungkinan terjadinya gempa susulan.(FOTO:  ANGEL SUMBARA/RADAR PALU).

RADAR PALU – Menjelang malam di Desa Kamarora A, Kecamatan Nokilalaki, Kabupaten Sigi, suasana duka masih menyelimuti tenda-tenda pengungsian yang berdiri di ruang terbuka. 

Belum 24 jam setelah gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,7 scala Richter (SR) mengguncang wilayah itu, warga masih berusaha bangkit dari trauma yang mereka alami.

Saat tiba di lokasi pengungsian sekitaran pukul 22.26 Wita, sejumlah anak tampak telah terlelap tidur di atas tikar dan selimut seadanya. Namun tidak demikian dengan para orang tua mereka.

Baca Juga: Gubernur Sulteng Anwar Hafid Batalkan Hadiri FGD DPD RI, Pilih Tinjau Korban Gempa M 6,7 di Sigi

Di sudut-sudut tenda, wajah cemas masih terlihat jelas. Sebagian memilih tetap terjaga sambil mengawasi anak-anak mereka, khawatir gempa susulan kembali terjadi.

Di tengah remangnya cahaya lampu darurat, warga saling berbagi cerita tentang detik-detik saat gempa mengguncang desa mereka pada siang hari.

Dengan nada suara yang masih menyimpan trauma, mereka mengisahkan bagaimana rumah-rumah berguncang hebat sebelum akhirnya sebagian roboh.

Baca Juga: Wagub Sulteng Tinjau Korban Gempa Sigi, Pastikan Penanganan Darurat Berjalan

“Semua terjadi sangat cepat. Kami hanya sempat berlari keluar rumah untuk menyelamatkan diri,” ujar salah seorang warga.

Remon, warga Desa Kamarora A, mengatakan guncangan gempa yang terjadi sekitar siang hari begitu kuat hingga menyebabkan kerusakan besar di hampir seluruh wilayah desa.

Menurut informasi yang diterimanya, puluhan warga mengalami luka-luka dan harus mendapatkan perawatan medis. Sementara sebagian lainnya bertahan di pengungsian bersama keluarga masing-masing.

Baca Juga: BPBD Sulteng Kerahkan Tim Darurat dan Alat Berat ke Wilayah Gempa

Di antara para pengungsi terlihat beberapa anak dengan luka memar di wajah dan kaki. Luka itu mereka alami akibat tertimpa benda keras saat gempa terjadi. Meski telah mendapatkan pertolongan, bekas-bekas luka masih terlihat jelas.

Tak jauh dari mereka, beberapa ibu tampak berjalan perlahan sambil menahan rasa sakit. Sebagian mengalami cedera ketika berusaha menyelamatkan diri saat bangunan mulai berguncang.

“Kalau dihitung, sekitar 85 persen rumah warga mengalami kerusakan. Ada yang rusak berat dan ada yang hancur total. Sampai sekarang kami tidak berani masuk ke dalam rumah,” kata Remon.

Baca Juga: Plafon Lobi Kantor Bupati Sigi Ambruk Diguncang Gempa M 6,7, Dinding Bangunan Ikut Retak

Kesulitan warga tidak berhenti pada kerusakan rumah. Air bersih menjadi kebutuhan yang paling mendesak. Ketika bantuan air mineral tiba di lokasi pengungsian, suasana mendadak berubah.

Warga yang sebelumnya duduk beristirahat langsung berdiri dan bergegas mendekati kendaraan pembawa bantuan.

“Kami sangat membutuhkan air bersih,” ujar seorang warga di tengah kerumunan.
Selain air bersih, warga juga membutuhkan makanan dan terpal untuk tempat berlindung sementara. Banyak keluarga kini terpaksa tidur di bawah tenda darurat karena rumah mereka tidak lagi aman untuk ditempati.

Baca Juga: Longsor dan Rumah Rusak Berat di Sigi Beredar Pascagempa M 6,7, Akses ke Napu Dikabarkan Putus

Saat malam semakin larut, tantangan lain muncul. Listrik yang padam sejak gempa membuat desa berada dalam kegelapan. Cahaya hanya berasal dari lampu darurat, senter, dan beberapa penerangan bantuan yang mulai berdatangan.

“Yang sangat kami butuhkan sekarang juga penerangan. Semua masyarakat mengungsi di luar rumah dan tidak ada yang berani tidur di dalam bangunan,” tutur Remon.

Meski berada dalam situasi sulit, warga bersyukur cuaca masih bersahabat. Tidak turunnya hujan menjadi sedikit penghiburan bagi ratusan warga yang menghabiskan malam di ruang terbuka.

Baca Juga: Kemenkum Sulteng Pastikan Renja Perangkat Daerah Sigi Selaras dengan Visi Pembangunan

“Alhamdulillah semalam tidak hujan. Kalau hujan turun, tentu keadaan akan jauh lebih sulit bagi kami yang mengungsi,” katanya.

Warga juga mengapresiasi respons cepat pemerintah daerah dan para relawan yang mulai berdatangan membawa bantuan. Namun mereka berharap bantuan tidak berhenti dalam beberapa hari pertama saja, mengingat kebutuhan dasar masih sangat besar.

Di bawah langit Nokilalaki yang gelap malam itu, warga Kamarora A hanya berharap satu hal: keadaan segera membaik, bantuan terus berdatangan, dan mereka dapat kembali menjalani kehidupan normal setelah bencana yang mengubah segalanya dalam hitungan detik.(***)

Editor : Muchsin Siradjudin
#Suasana duka #Berusaha bangkit #Kerusakan rumah #Mengalami luka-luka