Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Morra Keke, Saat Lima Desa di Sigi Menyatukan Doa di Sungai Wuno demi Menjaga Harapan Para Petani

Wahono. • Jumat, 5 Juni 2026 | 16:04 WIB
Masyarakat dari lima desa di Kabupaten Sigi mengikuti prosesi Ritual Adat Morra Keke di Sungai Wuno, Kamis (4/6/2026). (FOTO : Imran )
Masyarakat dari lima desa di Kabupaten Sigi mengikuti prosesi Ritual Adat Morra Keke di Sungai Wuno, Kamis (4/6/2026). (FOTO : Imran )

 

RADAR PALU – Musim kemarau yang berlangsung dalam beberapa bulan terakhir mulai menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat yang menggantungkan hidup dari sektor pertanian. Debit air di sejumlah sumber pengairan mengalami penurunan, sementara lahan pertanian yang selama ini menjadi tumpuan ekonomi warga mulai menunjukkan tanda-tanda kekeringan. Dalam situasi tersebut, masyarakat dari lima desa di Kabupaten Sigi kembali menghidupkan sebuah tradisi warisan leluhur yang telah dijaga secara turun-temurun, yakni Ritual Adat Morra Keke.

 

Ritual yang digelar pada 4 Juni 2026 di kawasan Sungai Wuno itu menjadi momentum penting bagi masyarakat Desa Watunonju, Desa Sidera, Desa Oloboju, Desa Bora, dan Desa Solove untuk menyatukan harapan serta doa agar hujan segera turun dan mengembalikan kesuburan lahan pertanian mereka.

 

Bagi masyarakat setempat, Morra Keke bukan sekadar rangkaian upacara adat yang dilakukan setiap kali musim kemarau datang. Ritual tersebut merupakan simbol hubungan yang telah lama terjalin antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

 

Baca Juga: Puskesmas Sangurara Siagakan Dua Ambulans, Bisa Digunakan untuk Rujukan hingga Pengantaran Jenazah

 

Di dalamnya terkandung nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, penghormatan terhadap warisan leluhur, serta keyakinan bahwa setiap ikhtiar harus dibarengi dengan doa.

 

Sejak pagi hari, masyarakat dari lima desa mulai berdatangan ke tepian Sungai Wuno. Sungai yang selama ini menjadi sumber kehidupan bagi warga itu tampak dipenuhi oleh masyarakat yang mengenakan pakaian adat maupun pakaian sehari-hari. Mereka datang dengan membawa berbagai perlengkapan yang diperlukan dalam pelaksanaan ritual.

 

Suasana khidmat mulai terasa ketika para pemangku adat mempersiapkan rangkaian prosesi yang akan dilaksanakan. Di sejumlah titik, warga terlihat sibuk menata perlengkapan adat, sementara kelompok masyarakat lainnya mempersiapkan kebutuhan konsumsi untuk seluruh peserta yang hadir.

Sungai Wuno sendiri memiliki arti penting bagi masyarakat lima desa tersebut. Selain menjadi sumber air bagi kebutuhan rumah tangga, aliran sungai itu juga menjadi penopang utama aktivitas pertanian masyarakat. Air dari sungai dimanfaatkan untuk mengairi sawah dan kebun yang tersebar di wilayah sekitar.

 

Karena itu, ketika musim kemarau berkepanjangan menyebabkan ketersediaan air mulai berkurang, kekhawatiran masyarakat pun meningkat. Kondisi tersebut tidak hanya berdampak terhadap tanaman yang sedang dibudidayakan, tetapi juga berpotensi memengaruhi hasil panen dan pendapatan keluarga petani.

 

Di tengah kekhawatiran tersebut, pelaksanaan Morra Keke menjadi wadah bersama untuk memanjatkan harapan agar alam kembali memberikan keseimbangan melalui turunnya hujan.

 

Baca Juga: Kafilah MTQ Kota Palu Siap Tempur di MTQ Sulteng 2026, Target Rebut Kembali Juara Umum

 

Prosesi ritual dimulai dengan berbagai tahapan yang telah diwariskan oleh para leluhur sejak generasi terdahulu. Setiap tahapan memiliki makna dan filosofi yang dipahami oleh masyarakat adat sebagai bagian dari tradisi yang harus dijaga.

 

Dalam pelaksanaannya, dilakukan penyembelihan sejumlah hewan berupa ayam, domba, kambing, anjing, dan babi sesuai tata cara adat yang berlaku. Prosesi tersebut merupakan bagian dari rangkaian ritual yang selama ini dijalankan secara turun-temurun oleh masyarakat setempat.

 

Di sepanjang aliran Sungai Wuno, suara tabuhan gendang terdengar menggema mengiringi jalannya ritual. Irama yang dimainkan menghadirkan suasana sakral dan menambah kekhusyukan masyarakat yang mengikuti kegiatan tersebut.

Di sela-sela prosesi, sejumlah warga tampak memarut kelapa dan menyiapkan berbagai kebutuhan yang akan digunakan dalam ritual maupun untuk kegiatan makan bersama setelah seluruh rangkaian acara selesai dilaksanakan.

 

Doa-doa dipanjatkan oleh para pemangku adat dan masyarakat yang hadir. Dengan penuh khidmat, mereka memohon agar hujan segera turun sehingga lahan pertanian kembali mendapatkan pasokan air yang cukup untuk mendukung pertumbuhan tanaman.

 

Bagi masyarakat yang sebagian besar berprofesi sebagai petani, hujan memiliki makna yang sangat penting. Kehadiran hujan bukan hanya berkaitan dengan kondisi cuaca, tetapi juga menentukan keberlangsungan aktivitas pertanian yang menjadi sumber penghidupan utama keluarga mereka.

 

Baca Juga: Polisi Tengkap Pelaku Pembobolan Kos di Lere, Laptop Curian Berhasil Diamankan Ditangan Pembeli

 

Musim tanam yang berjalan dengan baik akan berdampak langsung terhadap hasil panen. Sebaliknya, ketika kemarau berlangsung terlalu lama, berbagai komoditas pertanian berisiko mengalami penurunan produktivitas.

 

Karena itulah, Morra Keke menjadi bentuk ikhtiar kolektif masyarakat dalam menghadapi tantangan alam. Tradisi tersebut memperlihatkan bagaimana masyarakat tetap menjaga keseimbangan antara usaha nyata yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari dengan doa yang dipanjatkan kepada Sang Pencipta.

 

Pelaksanaan ritual tahun ini juga menunjukkan kuatnya semangat gotong royong yang masih hidup di tengah masyarakat. Seluruh kegiatan terlaksana melalui kerja sama antara lembaga adat, pemerintah desa, dan masyarakat dari lima desa.

Pendanaan kegiatan diperoleh dari swadaya masyarakat yang dihimpun secara bersama-sama. Setiap warga memberikan kontribusi sesuai kemampuan masing-masing sebagai bentuk dukungan terhadap pelaksanaan tradisi yang dianggap penting bagi kehidupan sosial dan budaya masyarakat.

 

Keterlibatan berbagai unsur masyarakat menjadi bukti bahwa Morra Keke tidak hanya dipandang sebagai milik kelompok adat tertentu, melainkan sebagai bagian dari identitas bersama yang harus dijaga dan dilestarikan.

 

Sepanjang pelaksanaan kegiatan, suasana kebersamaan terlihat begitu kuat. Warga dari berbagai usia hadir dan berbaur tanpa sekat. Para orang tua, pemuda, hingga anak-anak turut menyaksikan jalannya ritual, menciptakan ruang pembelajaran bagi generasi muda untuk mengenal dan memahami tradisi leluhur mereka.

 

Baca Juga: Kemenkum Sulteng dan PT Sulteng Bersinergi Hadirkan Kepastian Hukum bagi Masyarakat

 

Keberadaan generasi muda dalam kegiatan tersebut menjadi hal penting karena tradisi adat hanya dapat bertahan apabila diwariskan secara berkelanjutan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

 

Melalui keterlibatan langsung dalam ritual, generasi muda tidak hanya mengenal tata cara pelaksanaan Morra Keke, tetapi juga memahami nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, seperti kebersamaan, penghormatan terhadap leluhur, kepedulian terhadap lingkungan, serta pentingnya menjaga hubungan harmonis dengan sesama.

 

Aswan Meni dari Lembaga Adat Desa Watunonju mengatakan bahwa Morra Keke merupakan bentuk ikhtiar masyarakat untuk memohon hujan kepada Sang Pencipta.

"Kegiatan ini merupakan bentuk ikhtiar masyarakat dalam memohon kepada Sang Pencipta untuk meminta hujan," ujarnya.

 

Menurutnya, ritual tersebut telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dan terus dipertahankan sebagai warisan budaya yang memiliki makna mendalam bagi warga lima desa.

 

Di tengah perkembangan zaman yang semakin modern, masyarakat masih meyakini pentingnya menjaga tradisi sebagai bagian dari identitas budaya. Tradisi bukan hanya menjadi pengingat terhadap sejarah dan asal-usul komunitas, tetapi juga menjadi sarana memperkuat hubungan sosial di tengah masyarakat.

 

Baca Juga: 13 ASN Baru Resmi Dilantik, Kemenkum Sulteng Perkuat Layanan Hukum untuk Masyarakat 

 

Pelaksanaan Morra Keke memperlihatkan bagaimana nilai-nilai budaya tetap hidup dan relevan dalam kehidupan masyarakat saat ini. Tradisi tersebut mampu menjadi ruang pertemuan yang menyatukan berbagai kalangan dalam satu tujuan yang sama.

 

Setelah seluruh prosesi adat selesai dilaksanakan, kegiatan dilanjutkan dengan makan bersama Uta Uvempoi yang diikuti seluruh peserta ritual.

 

Hidangan yang disajikan berasal dari hasil penyembelihan kambing dan domba yang telah dilakukan dalam rangkaian prosesi adat. Masyarakat duduk bersama menikmati makanan dalam suasana penuh keakraban dan kekeluargaan.

Makan bersama tersebut bukan sekadar penutup acara, melainkan memiliki makna simbolis yang kuat. Tradisi itu menjadi wujud rasa syukur atas kebersamaan yang terjalin sekaligus mempererat hubungan sosial antarwarga dari lima desa.

 

Percakapan hangat terdengar di berbagai sudut lokasi kegiatan. Warga saling berbagi cerita, bertukar pengalaman, dan memperkuat ikatan persaudaraan yang telah lama terbangun di antara mereka.

 

Momen tersebut menunjukkan bahwa Morra Keke tidak hanya berfungsi sebagai ritual permohonan hujan, tetapi juga menjadi sarana memperkuat kohesi sosial masyarakat.

 

Baca Juga: Setelah Dicari KPK, Silmy Karim Keluar dari Pemeriksaan Mengenakan Rompi Tahanan

 

Dalam konteks yang lebih luas, tradisi seperti Morra Keke memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan budaya lokal. Di tengah arus modernisasi yang terus berkembang, keberadaan tradisi adat menjadi pengingat bahwa masyarakat memiliki akar budaya yang perlu dijaga dan diwariskan.

 

Ritual ini juga mencerminkan hubungan erat masyarakat dengan alam. Sungai, tanah, hujan, dan berbagai unsur lingkungan lainnya dipandang sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Karena itu, menjaga keseimbangan alam menjadi salah satu nilai yang terus diwariskan melalui tradisi adat.

 

Bagi masyarakat lima desa, Morra Keke bukan hanya tentang memohon datangnya hujan. Lebih dari itu, ritual tersebut merupakan perwujudan rasa syukur, solidaritas, dan penghormatan terhadap warisan leluhur yang telah menjaga kehidupan masyarakat selama bertahun-tahun.

Di tepian Sungai Wuno, di antara suara gendang, doa-doa yang dipanjatkan, serta kebersamaan yang terjalin, Morra Keke kembali mengingatkan bahwa kekuatan sebuah komunitas tidak hanya terletak pada kemampuan menghadapi tantangan alam, tetapi juga pada kemampuannya menjaga persatuan, merawat budaya, dan memelihara harapan bersama.

 

Melalui ritual tersebut, masyarakat lima desa kembali menunjukkan bahwa tradisi bukan sekadar peninggalan masa lalu. Tradisi adalah jembatan yang menghubungkan generasi, memperkuat identitas, serta menjadi sumber nilai yang terus hidup dalam perjalanan masyarakat menghadapi perubahan zaman. Di tengah ancaman kekeringan yang melanda lahan pertanian, Morra Keke hadir sebagai simbol ikhtiar, doa, dan harapan yang terus dijaga oleh masyarakat demi masa depan yang lebih baik.

Editor : Wahono.
#hujan #sungai #Sigi Sulawesi Tengah #ritual adat #Pertanian