Oleh: Dedi Askary
(Ketua PABKI Kabupaten Parigi Moutong -Dewan Pembina PABKI Sulteng)
ADA yang unik di kotak masuk saya minggu ini. Sebuah undangan resmi dengan kop surat yang tidak biasa: PABKI (Persatuan Akurasi Bilah dan Kapak Indonesia) Sulawesi Tengah. Isinya? Undangan peresmian sebuah klub dengan nama yang terdengar sangat gagah sekaligus eksotis:
Central Celebes Throwing Club (CCTC) Sulteng.
Membaca frasa “Salam Sebilah" di awal surat, ingatan saya langsung melayang pada akar budaya kita.
Bagi masyarakat Sulawesi Tengah, bilah—apakah itu berupa “pasatimpo”, “guma”, atau parang sehari-hari yang dipakai petani di kebun—bukan sekadar benda tajam. Ia adalah simbol harga diri, alat bertahan hidup, dan saksi bisu bagaimana ruang hidup kita kelola.
Namun, kali ini ada yang berbeda. Melalui CCTC di bawah komando Bung Syamsir Abubakar Ali dan Bung Suparman Ente, serta restu dari Pengurus Pusat PABKI, bilah dan kapak tidak lagi dipandang lewat narasi "ketegangan", melainkan bergeser menjadi narasi “akurasi dan prestasi".
Bukan Sekadar Melempar, Tapi Soal Fokus
Olah raga melempar pisau dan kapak (throwing club) mungkin terasa baru atau bahkan terdengar ekstrem bagi sebagian orang. Tapi jika kita bedah lebih dalam, ada filosofi rakyat yang sangat kuat di sana.
Melempar kapak atau bilah hingga menancap tepat di titik sasaran membutuhkan tiga hal utama:
1. Fokus yang jernih: Tahu mana target yang benar, bukan sekadar asal melempar energi.
2. Keseimbangan emosi: Jika melempar dengan amarah, jalannya bilah pasti melenceng.
3. Akurasi: Sebuah seni untuk memastikan bahwa apa yang kita eksekusi berdampak tepat pada sasaran yang diinginkan.
Bukankah ini sebuah otokritik yang menarik untuk situasi sosial kita hari ini? Di tengah riuhnya ruang publik kita yang sering kali "asal lempar argumen" tanpa arah, kehadiran komunitas akurasi ini seolah menyentil kita semua: “Kalau mau melempar sesuatu, pastikan Anda punya fokus, ketenangan, dan akurasi yang matang”.
Merangkul Ruang Positif, Menolak Narasi Kekerasan
Langkah PABKI Sulteng membentuk CCTC ini patut kita apresiasi secara kritis dan terbuka. Mengapa? Karena mengorganisir minat seperti ini adalah langkah cerdas untuk menyalurkan energi kolektif masyarakat—khususnya generasi muda—ke dalam wadah yang positif dan berprestasi. Daripada energi ketajaman itu bermanifestasi di jalanan tanpa arah, PABKI membawanya ke arena formal yang terukur, aman, dan punya gengsi olahraga nasional.
Semboyan mereka sangat tegas: “Berani, Manunggal & Berprestasi”.
Sebuah pesan bahwa keberanian tanpa manunggal (menyatu dengan masyarakat dan aturan) tidak akan menghasilkan prestasi, melainkan hanya menghasilkan friksi.
Mari Merapat ke Mamboro!
Esok sore, Jumat, 5 Juni 2026, pukul 16.00 WITA, Sekretariat PABKI Sulteng di Jl. Trans Palu Mamboro akan menjadi saksi dimulainya babak baru olahraga ketangkasan ini.
Sebagai bagian dari masyarakat Sulawesi Tengah yang mencintai dinamika positif di tanah ini, saya tentu menyambut hangat undangan ini. Ini bukan sekadar acara seremonial gunting pita, tapi adalah undangan untuk melihat bagaimana "sebilah baja" bisa dijinakkan oleh konsentrasi, kedisiplinan, dan sportivitas.
Selamat atas peresmian “Central Celebes Throwing Club (CCTC) Sulteng”. Mari kita tunggu, seberapa banyak talenta-talenta lokal kita yang mampu menancapkan prestasinya, tidak hanya di papan sasaran Mamboro, tetapi juga di kancah nasional.
Tabe... Salam Sebilah!
Editor : Muchsin Siradjudin