RADAR PALU - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Morowali, baru saja menggelar upacara peringatan Hari Lahir Pancasila tahun 2026 yang dilaksanakan di halaman Kantor Kabupaten Morowali.
Bertindak sebagai Inspektur Upacara Dandim 1311 Morowali Letkol Inf Abraham S.Pandjaitan dan Komandan Upacara Kapten inf Alwi.
Hadir pula dalam Upacara tersebut Wakil Bupati Morowali Iriane Iliyas, Wakil Ketua 1 DPRD Kabupaten Morowali Ihwan Moh. Thaiyeb, Forkopimda dan hadirin undangan, Selasa (2/6/2026).
Baca Juga: Polres Morowali Gelar Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila
Sementara itu, dalam sambutannya Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila Republik Indonesia Yudian Wahyudi yang dibacakan oleh Inspektur Upacara Dandim Morowali Letkol Inf Abraham S. Pandjaitan mengatakan.
Disampaikan, bahwa hari 1 juni 2026 , kita kembali berdiri di atas tanah pusaka untuk memeringati hari lahir hari ini Pancasila.
.Lebih dari sekedar seremoni tahunan, hari ini adalah momen refleksi untuk memastikan bahwa api Pancasila tetap menyala dalam setiap jiwa setiap Insan Indonesia.
Baca Juga: Beasiswa Pemda Morowali 2026 Masih Dibuka, Ribuan Mahasiswa Sudah Terverifikasi untuk Kuliah
Tema yang diusung dalam peringatan Hari Lahir Pancasila Tahun 2026 adalah " Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia ", sebuah pernyataan tegas bahwa nilai-nilai luhur Pancasila tidak hanya relevan untuk menjaga keutuhan bangsa Indonesia, namun demikian juga me jadi jawaban terciptanya perdamaian yang abadi.
Dikatakannya, Pancasila adalah "bintang penuntun" yang telah membuktikan ketangguhannya titik di tengah dunia yang diwarnai ketidakpastian dan ancaman fragmentasi rumah Indonesia tetap berdiri kokoh.
Sebagai contoh nyata bagaimana keberagaman yang terdiri atas lebih 17.000 pulau dan ratusan etnis dapat disatukan dalam satu ikatan bank kebangsaan. Pancasila adalah "jangkar moral" kita dalam menghadapi turbulensi Global mulai dari disrupsi teknologi hingga dinamika geopolitik.
Indonesia bukan hanya penonton dalam kancah dunia. Sesuai amanat pembukaan undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945, kita memiliki tanggung jawab konsistional untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
Pancasila adalah pondasi dari kebijakan luar negeri kita yang bebas aktif. Nilai musyawarah dan mufakat yang outa akut adalah instrumen diplomasi yang sangat dibutuhkan dunia saat ini untuk menjembatani perbedaan dan menghentikan konflik.
Sebagai bangsa yang besar, kita terus menunjukkan kepemimpinan nyata. Kontribusi pasukan perdamaian Indonesia di bawah bendera Perserikatan Bangsa Bangsa ( PBB) , peran kita dalam mediasi konflik regional.
"Pancasila adalah pengejawantahan dari sila kedua: Kemanusiaan yang Adil da Beradab. Kita ingin dunia melihat bahwa perdamaian bukan sekadar ketidaan perang, melainkan hadirnya keadilan bagi seluruh umat manusia,"ujarnya
Ia menambahkan, Indonesia Raya bukanlah mimpi kosong. Namun, kemajuan ekonomi dan teknologi tanpa arah moral bisa menyesatkan.
Oleh karena itu, saya mengajak seluruh elemen bangsa, terutama generasi muda sebagai penjaga masa depan rumah untuk menjadikan Pancasila sebagai ideologi yang hidup( oliving ideologi). Jangan biarkan nilai-nilai Luhur ini hanya menjadi hiasan di dinding kantor atau teks di buku sejarah.
Kepada para menteri dan kepala daerah, saya titipkan Pancasila di tangan kalian. Pastikan setiap kebijakan publik yang lahir berlandaskan keadilan sosial memenuhi rasa keadilan publik, menjamin hak-hak masyarakat terkecil, dan tidak membiarkan ada rakyat yang merasa ditinggalkan.
Kita harus terus melawan segala bentuk intoleransi dan radikalisme yang dapat merusak harmonisasi kebangsaan kita.
"Mari kita teguhkan kembali komitmen kebangsaan kita. Kita tunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia adalah bangsa besar yang menjunjung tinggi religiusitas dan semangat persatuan dan kuat karena nilai-nilai kemanusiaannya.
Selama darah Indonesia masih mengalir di tubuh kita, Pancasila akan senantiasa hidup dalam setiap denyut nadi seluruh anak bangsa di Republik yang kita cintai, " tutupnya(***)
Editor : Muchsin Siradjudin