RADAR PALU – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sigi, menetapkan enam desa sebagai lokasi percontohan Program Adaptasi Perubahan Iklim yang akan berjalan hingga April 2028 mendatang.
Program tersebut menjadi salah satu langkah strategis pemerintah daerah dalam memperkuat ketahanan masyarakat menghadapi ancaman krisis iklim yang semakin dirasakan warga.
Enam desa yang menjadi sasaran program itu masing-masing Desa Bangga, Pandere, Pakuli Utara, Sambo, Simoro, dan Wisolo. Seluruh desa tersebut dinilai memiliki kerentanan terhadap dampak perubahan iklim, terutama ancaman banjir dan kekeringan yang mempengaruhi sektor pertanian masyarakat.
Baca Juga: Pemkab Sigi Tertibkan Warung di Dermaga Tomado, Pemanfaatan Aset Dinilai Tak Sesuai Peruntukan
Program ini dijalankan Pemerintah Kabupaten Sigi bersama Konsorsium KOLABORASI yang terdiri dari Koaksi Indonesia, Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL), Water Stewardship Indonesia (WSI), dan Earth Innovation Institute (EII).
Bupati Sigi Mohamad Rizal Intjenae mengatakan, program tersebut dirancang untuk memperkuat kapasitas masyarakat desa dalam menghadapi dampak perubahan iklim sekaligus menjaga ketahanan pangan masyarakat.
“Perubahan iklim saat ini sudah sangat dirasakan masyarakat, terutama petani. Karena itu pemerintah daerah perlu hadir dengan program yang benar-benar menyentuh kebutuhan warga,” ujar Rizal saat ditemui di Dolo, Sabtu (23/5/2026).
Baca Juga: Viral Lagi, Polemik Motor Roda Tiga Disabilitas di Sigi Picu Tanda Tanya Publik
Menurutnya, program adaptasi perubahan iklim itu akan difokuskan pada tiga pilar utama, yakni penguatan kebijakan adaptasi iklim di tingkat daerah, penerapan pendekatan Water, Energy, Food (WEF) Nexus di tingkat desa, serta pengembangan pusat pembelajaran adaptasi perubahan iklim di Kabupaten Sigi.
Sebanyak 1.500 penerima manfaat ditargetkan akan terlibat langsung dalam program tersebut selama masa pelaksanaan hingga tahun 2028.
Rizal menilai, program tersebut menjadi momentum penting bagi Kabupaten Sigi untuk memperkuat pembangunan berbasis ketahanan lingkungan, terlebih daerah itu termasuk wilayah yang cukup rentan terhadap dampak cuaca ekstrem.
Baca Juga: Dugaan Korupsi Proyek Pakan Ternak Sigi Bisa Meluas, Penyidik Dalami Peran Pihak Lain
“Ancaman banjir dan kekeringan sering berdampak pada hasil pertanian masyarakat. Melalui program ini, kami ingin membangun kesiapan masyarakat agar lebih tangguh menghadapi kondisi tersebut,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam mendukung keberhasilan program adaptasi perubahan iklim di daerah, terutama di tengah keterbatasan fiskal pemerintah daerah.
“Dengan dukungan berbagai pihak, program ini diharapkan bisa menjadi penyemangat pemerintah daerah untuk terus mendorong kebijakan iklim yang berpihak pada masyarakat,” tambah mantan Ketua DPRD Sigi dua periode itu.
Baca Juga: Pemkab Sigi Gandeng BPKP Perkuat Tata Kelola Pemerintahan Bersih dan Transparan
Sementara itu, Direktur Adaptasi Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup, Franky Zamzani, menyebut program di Kabupaten Sigi dapat menjadi contoh praktik baik adaptasi iklim berbasis kebutuhan masyarakat lokal.
Menurut dia, pendekatan yang dilakukan di Sigi menunjukkan bahwa kolaborasi lintas sektor mampu menghadirkan solusi konkret dan terukur dalam menghadapi tantangan perubahan iklim.
“Program di Sigi ini menjadi contoh bagaimana kolaborasi pemerintah, lembaga, dan masyarakat dapat berjalan bersama dalam menghadapi dampak perubahan iklim,” ujar Franky.
Baca Juga: Dugaan Korupsi Proyek Pakan Ternak Sigi Bisa Meluas, Penyidik Dalami Peran Pihak Lain
Ia menambahkan, program tersebut juga menjadi salah satu model pemanfaatan pendanaan iklim internasional yang inklusif dan tepat sasaran dengan tetap mengedepankan prinsip keberlanjutan.
Pemerintah Kabupaten Sigi berharap program yang berlangsung hingga 2028 itu mampu memperkuat fondasi kolaborasi multipihak sekaligus menciptakan desa-desa yang lebih tangguh menghadapi tantangan perubahan iklim di masa mendatang.(***)
Editor : Muchsin Siradjudin