RADARPALU - Keberhasilan pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif membutuhkan sinergi antara teknik menyusui yang tepat dan dukungan psikologis dari keluarga, khususnya suami.
Untuk itu, Tim Poltekkes Kemenkes Palu kembali menggelar kegiatan pengabdian kepada masyarakat berupa pelatihan intensif bagi 10 pasangan suami istri (pasutri) di Aula Desa Kotapulu, Kabupaten Sigi, Kamis (14/5).
Kegiatan ini merupakan pelaksanaan kedua setelah sebelumnya digelar pada Februari lalu. Program ini berfokus pada penguatan peran keluarga dalam mendukung keberhasilan menyusui dan pencegahan stunting sejak dini.
Baca Juga: Paripurna DPRD Kota Palu Awali Agenda Sidang Caturwulan II
Pengabmas ini diketuai oleh Kadar Ramadhan, SKM., M.KM., dengan menghadirkan narasumber Hasnawati, SST., M.Kes.; Hastuti Usman, SST., M.Keb.; dan Nurfatimah, M.Kes. Kegiatan turut dihadiri dan didukung oleh Kepala Desa Kotapulu, Jumadi, S.Sos., serta Bidan Desa, Faina, S.Tr.Keb., Bdn.
Dalam sesi pelatihan, Hasnawati, SST., M.Kes., yang juga dikenal sebagai konselor menyusui di Sulawesi Tengah, memberikan demonstrasi langsung mengenai teknik posisi dan pelekatan bayi yang benar.
Melalui alat peraga, peserta memperoleh pemahaman praktis tentang cara menyusui yang tepat guna mencegah masalah seperti puting lecet serta memastikan bayi mendapatkan nutrisi optimal.
Baca Juga: Menenun Fajar di Tepi Teluk Palu, Kisah Pembangunan Hadianto Rasyid
“Banyak ibu berhenti menyusui karena rasa sakit yang sebenarnya bisa dihindari dengan teknik pelekatan yang benar. Melalui pelatihan ini, kami ingin memastikan ibu dan ayah memahami praktik menyusui secara langsung,” jelas Hasnawati.
Sementara itu, Hastuti Usman, SST., M.Keb., memaparkan pentingnya hormon oksitosin dalam proses menyusui. Ia juga memandu praktik pijat oksitosin yang dilakukan langsung oleh para suami kepada istrinya. Teknik ini terbukti membantu menurunkan stres ibu sekaligus merangsang kelancaran produksi ASI.
“Pijat oksitosin bukan hanya teknik fisik, tetapi juga bentuk dukungan emosional dari suami. Saat ibu merasa tenang dan didukung, hormon oksitosin meningkat dan ASI pun mengalir lebih lancar,” ujar Hastuti.
Ketua Tim, Kadar Ramadhan, menegaskan bahwa keterlibatan suami merupakan kunci keberhasilan ASI eksklusif. Menurutnya, suami harus menjadi bagian aktif dalam proses menyusui.
“Kami ingin para suami di Desa Kotapulu menjadi ‘Suami Siaga’ yang mampu memberikan dukungan nyata kepada istri, baik secara fisik maupun emosional. Ini adalah langkah penting dalam meningkatkan keberhasilan ASI eksklusif,” ujarnya.
Kepala Desa Kotapulu, Jumadi, S.Sos., menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan kegiatan ini dan berharap para peserta dapat menjadi agen perubahan di masyarakat.
Baca Juga: Komitmen Bersama Wujudkan Pelayanan Publik Akuntabel dan Berkualitas
“Kami berharap 10 pasutri ini dapat menjadi pionir dalam mengedukasi masyarakat tentang pentingnya ASI eksklusif demi mewujudkan generasi sehat dan bebas stunting di Kabupaten Sigi,” ungkapnya.
Salah satu peserta, Gilang, mengaku sangat terbantu dengan pelatihan yang diberikan, terutama dalam memahami peran suami dalam mendukung proses menyusui.
“Saya baru tahu kalau ternyata peran suami sangat besar dalam membantu kelancaran ASI, salah satunya melalui pijat oksitosin. Kegiatan ini sangat bermanfaat karena kami tidak hanya mendapat teori, tetapi juga langsung praktik,” ujar Gilang.
Baca Juga: Harmonisasi Regulasi Retribusi Optimalkan Pemanfaatan Aset Pemerintah Daerah
Ia juga berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan agar semakin banyak keluarga yang memahami pentingnya dukungan suami dalam keberhasilan ASI eksklusif.
“Harapannya kegiatan seperti ini bisa terus ada dan menjangkau lebih banyak pasangan, supaya kami para suami bisa lebih siap mendampingi istri dan bersama-sama menjaga kesehatan bayi,” tambahnya.
Dukungan juga disampaikan oleh Bidan Desa, Faina, S.Tr.Keb., Bdn., yang menekankan pentingnya kolaborasi antara tenaga kesehatan dan program pengabdian masyarakat dalam meningkatkan derajat kesehatan ibu dan anak.
Melalui kegiatan ini, diharapkan terbangun kesadaran kolektif bahwa keberhasilan menyusui bukan hanya tanggung jawab ibu, tetapi juga membutuhkan keterlibatan aktif keluarga, terutama suami, sebagai pendukung utama.(*)
Editor : Mugni Supardi