Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

FGD LS-ADI Bahas Pendidikan Berkarakter untuk Hadapi Tantangan Lingkungan

Muchsin Siradjudin • Minggu, 10 Mei 2026 | 11:27 WIB
DISKUSI: Menyoroti tantangan lingkungan saat ini, LS-ADI Palu menggelar Focus Grub Discusion.(FOTO: ISTIMEWA/RADAR PALU).
DISKUSI: Menyoroti tantangan lingkungan saat ini, LS-ADI Palu menggelar Focus Grub Discusion.(FOTO: ISTIMEWA/RADAR PALU).

RADAR PALU -  Menyoroti tantangan lingkungan saat ini, Organisasi Lingkar Studi Aksi dan Demokrasi Indonesia (LS-ADI) adakan diskusi bertajuk Focus Grub Discusion.

Mengangkat tema, "Hadapi Tantangan Lingkungan Melalui Pendidikan yang Berkarakter dan Berkelanjutan" dengan menghadirkan 3 pembicara antara lain Sekretaris DLH kota Palu, serta Dewan Pendiri LS-ADI, Rabu, (06/5/2026).

Diskusi yang berlangsung malam hari pukul 20.00 WITA tersebut berfokus pada isu lingkungan saat ini. Prof. Dr. H Saepudin Mashuri, menyampaikan hal ini penting untuk menjadi edukasi agar kemudian pendidikan kita bisa membangun kesadaran ekologis yang dimulai dari sekolah-sekolah sehingga praktik peduli lingkungan sudah diimplementasikan mulai dari anak-anak.

Baca Juga: Wagub Sulteng Renny Lamadjido Tinjau KPN Talaga, Pastikan Program Pangan Dilanjutkan

"Inilah yang kemudian perlu kita edukasi menghadirkan bagaimana pendidikan yang bisa membangun kesadaran praktik ekologis di sekolah sehingga anak-anak kita dari anak kecil bisa melakukan itu," paparnya.

Ia juga menjelaskan bahwa dalam penerapan sosialisasi, perlu adanya keterlibatan dari berbagai aspek mulai dari para tokoh hingga pemerintah agar dapat mengurangi krisis lingkungan yang terjadi.

"Melibatkan tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemerintah untuk melakukan sosialisasi. Jadi mungkin ada program masjid hijau, gerai hijau, sekolah hijau. Kemudian bila perlu ada pasar hijau, kota hijau, ada tanam hijau.

Baca Juga: Tak Patuh Kebersihan, Pemkot Palu Segel Sementara ChickenBim

Kalau semua hadir, pemerintah melalui pekerjaannya hadir, penganggarannya hadir, teknologi lingkungannya hadir, SDM hadir dan program itu masuk dari bahagian pemerintah pendidikan secara masif, kresis lingkungan itu bisa kita turunkan," jelasnya.

Selanjutnya pemaparan Dewan Pendiri LS-ADI, Muhammad Sadig M.A., Hum menyoroti persoalan lingkungan yang hingga kini masih menjadi tantangan besar di tengah masyarakat, khususnya terkait pengelolaan sampah.

Ia menilai bahwa persoalan utama bukan hanya terletak pada sampah itu sendiri, melainkan pada cara pandang manusia terhadap nilai sebuah sampah.

Baca Juga: Konser Nadhif Basalamah di Palu Digelar 17 Mei 2026, Semusim Fest Target 3.000 Penonton

“Sampah itu tidak bernilai. Tapi bagaimana kau berubah sehingga dia jadi bernilai,” ungkapnya.

Ia juga menekankan pentingnya perubahan pola pikir generasi muda, khususnya mahasiswa, agar tidak hanya berorientasi mencari pekerjaan setelah menyelesaikan pendidikan, tetapi mampu menciptakan lapangan pekerjaan melalui inovasi dan kreativitas, termasuk dalam bidang pengelolaan lingkungan.

“Nah ini merubah manusia berpikir. Teman-teman mahasiswa saat ini tidak sadar. Karena mereka berpikir masih enak-enak saja. Padahal dipertontonkan dengan pemanasan dunia, krismon, Elnino, segala hal yang dipertontonkan sama kita. Tapi kita tidak memiliki kesadaran,” jelas Sadig.

Baca Juga: Warga Talise Gotong Royong, Wujudkan Lingkungan Bersih dan Tertib

Sementara itu, Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Palu, Ibnu Mundzir turut menyoroti pentingnya pengelolaan lingkungan yang tetap memperhatikan keseimbangan alam serta kemampuan lingkungan dalam memulihkan diri.

Menurutnya, pemanfaatan sumber daya alam tetap dapat dilakukan selama tidak melampaui batas daya dukung dan daya tampung lingkungan. Ia menjelaskan bahwa alam memiliki kemampuan untuk melakukan pemulihan atau recovery, baik secara alami maupun melalui rekayasa manusia.

“Kalau dalam konsep ilmu lingkungan semua sesuatu itu bisa dieksplorasi yang penting tidak melewati dua hal, tidak melewati daya tampung, tidak melewati daya dukung. Artinya apa? Alam punya kemampuan merecovery,” jelasnya.

Baca Juga: Kerja Bakti Warga Donggala Kodi Perkuat Edaran Wali Kota Palu soal Kebersihan Lingkungan

Dalam pemaparannya, Ibnu Mundzir kemudian mengajak peserta diskusi untuk memahami dampak penggunaan bahan kimia melalui buku Silent Spring, yang membahas tentang masuknya zat kimia ke dalam rantai makanan hingga berdampak pada kesehatan manusia.

“Buku Silent Spring itu menggambarkan tentang bagaimana yang namanya herbicide masuk ke dalam rantai makanan,” katanya.

Dalam penjelasannya, ia juga mengaitkan persoalan lingkungan dan kesehatan dengan nilai-nilai agama. Menurutnya, ajaran agama telah lebih dahulu mengatur pola hidup manusia demi menjaga keberlangsungan hidup dan kesehatan. “Nah batasnya itu kemudian ilmu pengetahuan,” ungkapnya.

Baca Juga: Kebersihan Kota Palu Lebaran Dijaga 24 Jam oleh DLH

Terakhir, ia menegaskan bahwa manusia diperbolehkan memanfaatkan alam, namun harus tetap memperhatikan batas-batas yang ada agar keseimbangan lingkungan tetap terjaga dan tidak menimbulkan kerusakan di masa mendatang.(***)

Editor : Muchsin Siradjudin
#LS-ADI #Mengeglar diskusi #Masalah lingkungan #Pengolahan sampah