Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Cek Isu “Piramida” di Lembah Napu, Temukan Jejak Budaya Purba

Wahono. • Selasa, 5 Mei 2026 | 16:42 WIB
Tim Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Tengah melakukan peninjauan di Bukit Tamungkumolo, Desa Watutau, Kecamatan Lore Peore, Kabupaten Poso, terkait dugaan struktur “piramida” di Lembah Napu. Foto: Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Sulawesi Tengah
Tim Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Tengah melakukan peninjauan di Bukit Tamungkumolo, Desa Watutau, Kecamatan Lore Peore, Kabupaten Poso, terkait dugaan struktur “piramida” di Lembah Napu. Foto: Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Sulawesi Tengah

 

RADAR PALU – Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Sulawesi Tengah turun langsung meninjau lokasi yang diduga sebagai “piramida” di kawasan Lembah Napu, Kabupaten Poso. Peninjauan ini dilakukan sebagai tindak lanjut atas informasi yang ramai beredar di media sosial.

 

Tim BPK menyasar Bukit Tamungkumolo yang berada di Desa Watutau, Kecamatan Lore Peore.

 

Bukit tunggal tersebut tampak mencolok di tengah bentangan luas Lembah Napu, kawasan yang sejak lama dikenal memiliki nilai sejarah dan budaya tinggi.

 

Baca Juga: Wilayah Dongi-Dongi Bisa Jadi Kawasan Cagar Budaya, Ini Penjelasan Kepala BPK XVIII

 

Selain memverifikasi informasi terkait dugaan struktur piramida, tim juga melakukan observasi terhadap potensi tinggalan arkeologi di sekitar lokasi. 

 

Hasil awal menunjukkan adanya indikasi kuat jejak budaya masa lalu yang tersimpan di kawasan tersebut.

 

Di sisi utara bukit, tim menemukan bakal kalamba atau wadah batu yang identik dengan tradisi megalitik di Lembah Napu. 

 

Sementara di sisi timur laut, terdapat sedikitnya enam relief wajah yang terukir pada singkapan batuan, yang semakin menguatkan dugaan adanya aktivitas budaya masa lampau di kawasan ini.

 

Baca Juga: Tempuh Delapan Jam ke Pegunungan, Relawan “Sekolah Daun” Perkuat Literasi Anak di Pedalaman Sigi

 

Bukit Tamungkumolo sendiri berada di hamparan Padang Penggembalaan Petandua, kawasan seluas sekitar 800 kilometer persegi yang sejak 1978 dimanfaatkan masyarakat Desa Wuasa sebagai area penggembalaan ternak.

 

Peninjauan ini menjadi langkah awal untuk memastikan kebenaran informasi yang berkembang sekaligus memperkuat upaya pelestarian warisan budaya di Sulawesi Tengah.

 

BPK menegaskan pentingnya menjaga dan memahami tinggalan budaya sebagai bagian dari identitas dan sejarah masyarakat lokal.

 

Masyarakat pun diimbau tidak berspekulasi berlebihan, sembari menunggu hasil kajian lebih lanjut dari pihak berwenang.

Editor : Wahono.
#megalit #poso #megalitikum #BPK Wilayah XVIII #Napu