Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Tempuh Delapan Jam ke Pegunungan, Relawan “Sekolah Daun” Perkuat Literasi Anak di Pedalaman Sigi

Rahmad Fadhil • Selasa, 5 Mei 2026 | 16:33 WIB
SEMANGAT BELAJAR: Relawan Yayasan Rumah Literasi Ceria bersama Arutala Sigi mengajar anak-anak melalui program “Sekolah Daun” di Dusun Topesino, Desa Mantikole, Kecamatan Dolo Barat, Kabupaten Sigi, Minggu (3/5/2026).(FOTO: ISTIMEWA/RADAR PALU)
SEMANGAT BELAJAR: Relawan Yayasan Rumah Literasi Ceria bersama Arutala Sigi mengajar anak-anak melalui program “Sekolah Daun” di Dusun Topesino, Desa Mantikole, Kecamatan Dolo Barat, Kabupaten Sigi, Minggu (3/5/2026).(FOTO: ISTIMEWA/RADAR PALU)

RADAR PALU – Semangat pemerataan pendidikan kembali digaungkan melalui kegiatan pengabdian bertajuk Sekolah Daun yang digelar Yayasan Rumah Literasi Ceria bersama Arutala Sigi di Dusun Topesino, Desa Mantikole, Kecamatan Dolo Barat, Kabupaten Sigi, pada 2-3 Mei 2026.

Kegiatan yang mengusung tema “Pemberdayaan Sekolah dalam Penguatan Literasi Dasar melalui Pembelajaran Menyenangkan Berbasis Alam” itu menjadi bentuk kepedulian terhadap anak-anak di wilayah dengan akses pendidikan terbatas.

Untuk mencapai lokasi kegiatan, para relawan harus menempuh perjalanan selama kurang lebih delapan jam melewati jalur pegunungan dengan ketinggian sekitar 1.100 meter di atas permukaan laut.

Baca Juga: Dinas Pariwisata Donggala Akui Banyak Terima Keluhan dari Pengunjung, Soal Harga Makanan dan Tarif di Tanjung Karang

Kondisi geografis tersebut menjadi gambaran nyata masih adanya wilayah yang membutuhkan perhatian serius terhadap pemerataan layanan pendidikan.

Selama dua hari kegiatan, relawan dibagi dalam beberapa kelompok pengajar yang fokus memberikan pembelajaran dasar kepada anak-anak. Program inti meliputi pembelajaran calistung (membaca, menulis, dan berhitung), bakti sosial, sosialisasi pencegahan pernikahan dini, hingga penyaluran donasi alat tulis.

Dalam pelaksanaannya, relawan menemukan kondisi sarana belajar yang masih sangat sederhana. Meski demikian, antusiasme anak-anak mengikuti proses belajar dinilai sangat tinggi.

Baca Juga: Paskah Nasional V di Sigi Berlangsung Khidmat, Tegaskan Sulteng sebagai Laboratorium Toleransi

Pembelajaran dikemas melalui pendekatan berbasis alam agar peserta didik lebih mudah memahami materi sekaligus merasa nyaman selama belajar. Anak-anak diajak memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai media belajar interaktif dan menyenangkan.

Ketua pelaksana kegiatan menyampaikan, program tersebut diharapkan menjadi langkah awal untuk membuka ruang kolaborasi lebih luas dalam mendukung pendidikan di daerah terpencil.

“Pendidikan adalah tanggung jawab bersama. Melalui kegiatan ini, kami membuka ruang kolaborasi agar semakin banyak pihak dapat terlibat dalam mendukung anak-anak di wilayah seperti Mantikole,” ujarnya.

Baca Juga: Pramuka Wajib di Sigi, Bupati: Semua Siswa Harus Ikut Pembinaan Karakter

Sementara itu, Co Founder Yayasan Rumah Literasi Ceria, Rian Mubarak, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari komitmen generasi muda dalam menghadirkan ruang belajar yang inklusif bagi masyarakat.

“Kami berharap apa yang dilakukan hari ini dapat menjadi pemantik lahirnya gerakan-gerakan kebaikan lainnya serta memperkuat peran generasi muda sebagai agen perubahan di daerah,” katanya.

Kegiatan ditutup dengan dokumentasi bersama masyarakat setempat sebagai simbol kebersamaan dan harapan agar program serupa dapat terus berlanjut di masa mendatang.(***)

Editor : Muchsin Siradjudin
#Akses pendidikan terbatas #Membtuhkan perhatian serius #Nilai sangat tinggi #Pemerataan pendidikan