Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Ekspor 459 Ton Durian Rp 42,5 Miliar, Wagub Reny Gaspol Program BERANI Makmur

Muhammad Awaludin • Kamis, 30 April 2026 | 19:30 WIB
Wagub Reny Lamadjido saat membuka rakor TPH, dorong program BERANI Makmur dan ekspor durian Sulteng. (Ro. Adpim Sulteng)
Wagub Reny Lamadjido saat membuka rakor TPH, dorong program BERANI Makmur dan ekspor durian Sulteng. (Ro. Adpim Sulteng)

RADAR PALU - Dorongan mempercepat sektor pertanian di Sulawesi Tengah kini tidak lagi setengah hati. Reny Lamadjido langsung menegaskan, program BERANI Makmur akan jadi motor utama—bukan sekadar wacana.

Pesannya jelas: daerah tidak boleh jalan sendiri, data harus dibuka, potensi harus dipetakan. Kalau tidak, peluang besar bisa lewat begitu saja.

Penegasan itu disampaikan saat membuka Rakor Pembangunan Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) kabupaten/kota se-Sulteng di aula Dinas TPH Provinsi, Kamis (30/4/2026). 

Baca Juga: Barantin Minta Sulteng Jaga Kualitas, Waspadai Oknum Rusak Ekspor Durian

Menurut Reny Lamadjido, BERANI Makmur dirancang dengan pendekatan konkret. Ada lima fokus utama yang jadi tulang punggung: panen raya lewat intensifikasi dan ekstensifikasi, pemberdayaan petani prasejahtera sekaligus penanganan stunting, penguatan petani milenial, peningkatan kualitas SDM pertanian, hingga optimalisasi Brigade Alsintan.

“Kalau ada potensi di daerah bapak ibu, sampaikan. Supaya kami bisa dorong dengan dukungan yang tepat,” tegasnya. 

Baca Juga: Durian “Volcano” Tembus Pasar Tiongkok, Parigi Moutong Diproyeksikan Jadi Sentra Utama Produksi

Pernyataan itu bukan tanpa alasan. Selama ini, salah satu kendala terbesar pembangunan sektor pertanian adalah data yang tidak sinkron antarwilayah. Akibatnya, intervensi sering tidak tepat sasaran.

Karena itu, data valid kini dijadikan “senjata utama”. Pemprov ingin memastikan setiap bantuan, program, hingga distribusi alat dan sumber daya benar-benar sesuai kebutuhan di lapangan.

Contoh nyata sudah terlihat. Komoditas durian Sulteng—yang disebut sebagai “emas berduri”—mulai menunjukkan taringnya di pasar global.

Pada pertengahan April lalu, Sulteng berhasil mengekspor 459 ton durian beku dengan nilai fantastis, mencapai Rp 42,5 miliar ke Tiongkok.

Angka itu bukan sekadar statistik. Bagi petani, ini sinyal bahwa komoditas lokal punya daya saing internasional. Bagi pemerintah, ini bukti bahwa potensi daerah masih sangat besar jika dikelola serius.

“Ini baru satu komoditas. Masih banyak potensi lain yang bisa kita dorong,” ujar Reny.

Dampaknya mulai terasa. Permintaan pasar global membuka peluang peningkatan pendapatan petani, sekaligus memperkuat ekonomi daerah berbasis komoditas unggulan.

Namun, Reny mengingatkan, tanpa sinergi dan data yang kuat, peluang itu bisa hilang. Karena itu, ia meminta seluruh kepala dinas kabupaten/kota aktif berkoordinasi dengan provinsi. 

Baca Juga: Dorong Ekspor Durian, DPR RI Ellen Esther Minta Penambahan Kuota Bibit untuk Petani Sulteng

Di sisi lain, inovasi juga mulai didorong. Dalam kesempatan yang sama, Pemprov meresmikan aplikasi SI GILING (Sistem Informasi Gilingan Padi Terintegrasi) serta Wisma Tani.

Langkah ini diharapkan mempercepat modernisasi sektor pertanian, sekaligus meningkatkan efisiensi produksi dan distribusi hasil panen.

Rakor tersebut turut dihadiri sejumlah pejabat penting, di antaranya Dodot Tinarso, Andi Ruly Djanggola, dan Arfan.

Dengan strategi berbasis data, dukungan teknologi, dan fokus pada komoditas unggulan, Pemprov Sulteng tampak ingin memastikan satu hal: sektor pertanian tidak lagi stagnan, tapi benar-benar naik kelas.***

Editor : Muhammad Awaludin
#Ekspor Pertanian #Durian Sulteng #Ekonomi Daerah #sulawesi tengah #Berani Makmur