RADAR PALU – Peredaran narkoba di Sulawesi Tengah kian mengkhawatirkan. Bahkan, 16 kilogram sabu sempat lolos hingga ke jalur udara sebelum akhirnya digagalkan. Fakta ini memicu reaksi keras dari Sarifuddin Sudding.
Anggota Komisi III DPR RI itu tak menahan emosinya. Dalam sesi podcast di kanal YouTube Radar Palu, Rabu (29/4/2026), ia menilai situasi sudah berada di titik darurat.
“Ini bukan lagi soal biasa. Sudah ada anak umur 9 tahun ikut terpapar. Satu keluarga, satu generasi bisa rusak,” tegas Sarifuddin Sudding.
Baca Juga: Kejati Sulteng Geledah Bapenda Donggala dan Tambang, Sita 32 Alat Berat Kasus Korupsi MBLB
Kasus terbaru yang disorot adalah penangkapan 16 kilogram sabu di Bandara Sis Aljufri, Palu. Barang haram itu nyaris beredar luas di masyarakat Sulawesi Tengah.
Yang menjadi pertanyaan besar, kata Sudding, bagaimana narkoba dalam jumlah besar bisa menembus pengawasan bandara yang dikenal ketat.
“Ini lewat X-ray, lewat sistem pengamanan. Kok bisa lolos? Ini yang harus dijawab. Jangan sampai ada celah yang dimanfaatkan jaringan,” ujarnya.
Baca Juga: Green Jobs RI Berpotensi Tembus 10 Juta, Tapi Industri Sulit Rekrut Tenaga Siap Pakai
Menurutnya, jalur masuk narkoba ke Sulteng selama ini dikenal melalui pelabuhan-pelabuhan tikus, termasuk dari wilayah perbatasan seperti Tawau. Namun, masuknya sabu lewat jalur udara dinilai sebagai alarm serius.
“Kalau bandara saja bisa ditembus, berarti ada masalah besar di sistem pengawasan kita,” katanya.
Dampaknya tidak main-main. Jika barang tersebut lolos dan beredar, ribuan bahkan jutaan masyarakat bisa terancam, terutama generasi muda.
“Bayangkan kalau 16 kilo itu tersebar. Berapa banyak anak-anak kita yang jadi korban?” tambahnya.
Dalam pernyataannya, Sudding bahkan mengusulkan langkah ekstrem. Ia meminta tidak ada toleransi terhadap bandar narkoba.
“Saya sudah sampaikan ke kepala Badan Narkotika Nasional, kalau bandar ketahuan, tembak saja. Ini sudah merusak bangsa,” tegasnya.
Pernyataan itu mencerminkan kekhawatiran mendalam terhadap eskalasi peredaran narkoba di Sulawesi Tengah yang dinilai semakin masif dan terorganisir.
Baca Juga: “Kentung” 922 Kg, Sapi Raksasa Asal Palu Terpilih Jadi Kurban Presiden Prabowo Subianto
Data dan fakta di lapangan menunjukkan, jaringan narkoba kini tidak lagi menyasar individu, tetapi telah masuk ke level keluarga. Bahkan anak-anak mulai terdampak.
Situasi ini menjadi peringatan keras bagi aparat penegak hukum dan pihak terkait untuk memperketat pengawasan, khususnya di pintu-pintu masuk strategis seperti Bandara Sis Aljufri dan jalur laut.
Sudding menegaskan, jika tidak ada langkah tegas, masa depan generasi di Sulawesi Tengah bisa berada di ujung tanduk.
“Ini bukan sekadar hukum. Ini soal menyelamatkan generasi,” tutupnya.***
Editor : Muhammad Awaludin