RADAR PALU – Program Sekolah Rakyat dipacu di Sulawesi Tengah untuk memutus rantai kemiskinan yang masih menyentuh sekitar 10 persen penduduk.
Hal ini ditegaskan dalam pertemuan kunjungan Menteri Sosial di Gedung Pogombo Sulawesi Tengah, Senin (20/4/2026).
Bukan Sekadar Sekolah
Menteri Sosial Saifullah Yusuf menegaskan, Sekolah Rakyat dirancang menyasar dua sisi sekaligus: anak dan orang tua.
Baca Juga: Gempa M7,4 Guncang Jepang, BMKG: Tidak Berpotensi Tsunami di Indonesia
“Bukan hanya mendidik anak, tapi juga memberdayakan keluarganya,” tegasnya.
Artinya, saat anak lulus, keluarga diharapkan ikut terangkat secara ekonomi.
Tak Boleh Ada Titipan
Mensos memberi peringatan keras agar program ini tepat sasaran.
Baca Juga: Stockbit Ungkap Investor Saham Indonesia Tembus 7,1 Juta, Didominasi Generasi Muda
“Tidak boleh ada titipan. Ini untuk mereka yang benar-benar membutuhkan,” ujarnya.
Transparansi disebut jadi kunci agar manfaat tidak melenceng.
80 Ribu Rumah Masih Tak Layak
Gubernur Anwar Hafid mengungkap kondisi riil di lapangan.
Sekitar 80 ribu rumah di Sulteng masih tidak layak huni. Angka kemiskinan juga masih di kisaran 10 persen dari total 3,7 juta penduduk.
Fakta ini jadi dasar percepatan intervensi.
Pendidikan Jadi Senjata
Pemprov menggratiskan pendidikan SMA, SMK, dan SLB. Beasiswa juga diberikan untuk puluhan ribu mahasiswa, termasuk kedokteran.
Baca Juga: Stok Beras RI Melimpah 4,9 Juta Ton, Gudang Bulog Jatim Penuh hingga Sewa 205 Unit
Anwar bahkan menyiapkan lahan untuk pembangunan Sekolah Rakyat di pusat kota.
“Ini masa depan Sulawesi Tengah,” tegasnya.
Arahkan ke Kuliah dan Kerja
Lulusan Sekolah Rakyat akan diarahkan ke perguruan tinggi atau dunia kerja melalui pelatihan terintegrasi.
Langkah ini diharapkan menekan kemiskinan secara berkelanjutan.***
Editor : Muhammad Awaludin