RADAR PALU - Jurnalis di Morowali Utara (Morut) Erni Johan Ba'u (52) diduga diteror usai mengkritik kinerja seorang oknum anggota DPRD setempat. Belasan orang mendatangi rumahnya sebelum kasus ini dilaporkan ke polisi.
Erni Ba’u mengaku mengalami intimidasi serius setelah memberitakan dan mengkritisi oknum anggota legislatif (Anleg) Morut, Henny Humbu.
Tak tanggung-tanggung, rumahnya didatangi belasan orang dalam dua kejadian berbeda. Situasi ini memicu dugaan kuat adanya upaya tekanan terhadap kerja jurnalistik di daerah.
Baca Juga: Polres Morut Tangkap Warga Morowali Pengedar Sabu 25,23 Gram
Erni akhirnya melaporkan kasus tersebut ke Polres Morut, Senin (13/4/2026).
Insiden pertama terjadi pada Kamis (9/4/2026) malam. Saat itu, empat pria mendatangi pondok di kebun milik Erni sambil berteriak.
"Mereka teriak ‘mana itu wartawan’, lalu menuntut saya klarifikasi soal status Facebook,” ungkapnya.
Baca Juga: Ribuan Jamaah Hadiri Haul ke-58 Guru Tua di Morut, Warda Mamala Dorong Pembangunan Alkhairaat
Situasi makin mengarah ke intimidasi ketika salah satu pria mengaku sebagai keluarga dari Henny Humbu yang menjadi sorotan pemberitaan.
Belum reda, tekanan kembali datang keesokan harinya, Jumat (10/4/2026) sore. Sekira 15 orang mendatangi rumah Erni. Mereka disebut datang dalam kondisi marah dan menuding Erni memiliki dendam pribadi.
"Mereka menekan saya, bilang saya selalu menyudutkan anggota DPRD itu," katanya.
Dua kejadian beruntun ini memperkuat dugaan adanya pola intimidasi terhadap jurnalis tersebut.
Erni menyebut, semua bermula dari pemberitaan kritis yang ia tulis serta unggahan di media sosial.
Beberapa laporan menyoroti polemik internal, dugaan kontroversi, hingga etika oknum pejabat publik di DPRD Morut.
Baca Juga: Dukung Empat Ranperda Morut, Ketua Fraksi Hanura Bangkit Berjuang Ingatkan Kemandirian Fiskal Daerah
"Saya menjalankan tugas jurnalistik. Status saya hanya menyoroti etika pejabat publik," tegasnya.
Kasus ini langsung memantik perhatian karena menyangkut kebebasan pers dan potensi tekanan terhadap media lokal.
Dampak dari dugaan intimidasi ini tidak hanya dirasakan Erni, tetapi juga keluarganya.
Baca Juga: Pemkab Morut Siapkan Rp2,7 Miliar untuk Pilkades Serentak 2026
"Anak-anak saya trauma. Mereka ketakutan sejak kejadian itu," ungkapnya.
Erni berharap aparat kepolisian segera bertindak untuk mencegah eskalasi.
Dia bilang, kasus ini menjadi alarm keras bagi kebebasan pers di daerah.
Baca Juga: Lewati Dua Kali Penambahan Waktu, Proyek Rp22,5 M Kejari Morut Belum Juga Rampung
Ketika kritik terhadap pejabat publik dibalas dengan tekanan, fungsi kontrol media terancam.
"Saya minta polisi tidak diam. Ini soal keselamatan," sebut Erni.(***)
Editor : Muchsin Siradjudin