RADAR PALU – Penyerapan tenaga kerja disabilitas di Sulawesi Tengah masih rendah. Data 2024 menunjukkan lulusan SLB banyak belum terserap kerja, Selasa (7/4/2026).
Berdasarkan Databoks 2024, Sulteng berada di peringkat 14 dari 16 provinsi dengan hanya 4 pekerja disabilitas.
Data Disdik Sulteng juga menunjukkan kondisi serupa.
Baca Juga: Minim Informasi, Beasiswa Disabilitas Sulteng Belum Tepat Sasaran
Dari 96 lulusan 33 SLB, hanya 13 orang melanjutkan ke perguruan tinggi.
Artinya, sekitar 81 lulusan disabilitas belum terserap dan berstatus pengangguran.
Staf PKPLK Disdik Sulteng, Faizah, menjelaskan pendidikan bagi siswa disabilitas lebih menitikberatkan pada keterampilan.
Baca Juga: Beasiswa Disabilitas Sulteng Belum Ada, Ini Penjelasan Disdik
“Pembelajaran fokus ke keterampilan. Ada life skill seperti tata rias, merangkai bunga, sampai batik,” ujarnya.
Menurutnya, pendekatan ini disesuaikan dengan potensi masing-masing siswa.
Namun, Disdik memiliki batas kewenangan.
Setelah lulus SMA atau usia 21 tahun, pembinaan beralih ke instansi lain.
“Ketika dia tamat sekolah, itu sudah masuk ranah sosial, bukan di kami lagi,” jelas Faizah.
Hal ini menjadi tantangan dalam keberlanjutan pembinaan disabilitas.
Untuk menjembatani, Disdik mencoba membuka peluang lewat kerja sama dengan dunia usaha dan UMKM.
Baca Juga: RAD Disabilitas Palu Didorong Jadi Perwali, Ini Alasannya
Tujuannya agar lulusan SLB punya akses ke pelatihan hingga peluang kerja.
“Kita kerja sama dengan Dudi dan UMKM supaya mereka bisa ikut kursus dan mungkin direkrut,” pungkasnya.
Minimnya penyerapan tenaga kerja disabilitas ini menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah daerah, terutama dalam menciptakan ekosistem kerja yang inklusif.***
Editor : Muhammad Awaludin