RADAR PALU – Di titik ini, perjalanan seolah melambat, memberi ruang bagi pengendara untuk menikmati rasa, suasana, dan cerita dari Kebun Kopi. Tepat di Kilometer 8, deretan pelaku UMKM mulai mencuri perhatian dengan sajian sederhana yang justru membuat banyak orang ketagihan untuk berhenti.
Di tengah perjalanan yang berkelok dengan panorama alam hijau khas pegunungan, para pengendara kini punya alasan tambahan untuk menepi.
Lapak-lapak kecil yang menjajakan somai dan mie rebus menjadi daya tarik tersendiri. Tak sedikit pengendara yang sengaja melambatkan laju kendaraan demi menikmati suasana sekaligus mengisi perut.
Baca Juga: Dilan 1997 ITB: Ariel NOAH Perankan Dilan Versi Dewasa
Salah satu penjual, Dira, mengungkapkan bahwa lokasi tersebut semakin ramai dikunjungi, terutama saat akhir pekan dan hari libur nasional.
Ia menyebut mayoritas pengunjung merupakan mahasiswa dan pengendara sepeda motor yang melintas di jalur tersebut.
“Tempat ini ramai saat weekend dan hari libur nasional. Kebanyakan mahasiswa serta pengendara motor yang singgah untuk makan somai,” ujar Dira.
Keberadaan UMKM di kawasan ini dinilai memberikan warna baru bagi perjalanan di jalur Trans Palu–Parigi.
Baca Juga: BMKG: Hujan Lebat dan Belokan Angin Picu Banjir di Donggala
Selain menjadi tempat istirahat, lokasi ini juga menawarkan pengalaman menikmati keindahan alam Kebun Kopi yang sejuk dan menenangkan.
Para pengunjung biasanya memanfaatkan waktu singgah untuk bersantai sejenak, menikmati udara segar, sekaligus mencicipi kuliner sederhana dengan harga terjangkau.
Konsep “isi perut sambil healing” ini menjadi daya tarik yang sulit ditolak, terutama bagi mereka yang menempuh perjalanan jauh. Munculnya titik singgah ini juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat setempat.
Editor : Wahono.