RADAR PALU – Memasuki dua pekan pasca perayaan Idulfitri, harga sejumlah kebutuhan pokok di wilayah utara Kabupaten Parigi Moutong belum juga menunjukkan tren penurunan.
Di sejumlah pasar sentral yang tersebar di Kecamatan Mepanga, Ongka Malino, Tinombo, dan Tomini, komoditas rempah hingga lauk-pauk masih bertahan di level tinggi.
Berdasarkan pantauan Kamis (2/4/2026), harga bawang merah berada di kisaran Rp35 ribu per kilogram, bawang putih Rp38 ribu per kilogram, daging sapi menyentuh Rp140 ribu per kilogram, sementara ayam potong dijual hingga Rp95 ribu per kilogram. Angka ini dinilai masih cukup tinggi jika dibandingkan dengan kondisi normal sebelum Ramadan.
Baca Juga: BPBD Parimo Petakan Risiko, Siaga Dini Hadapi El Nino 2026
Kondisi tersebut menandakan belum pulihnya rantai distribusi pasca lonjakan permintaan saat hari besar keagamaan. Selain itu, faktor keterbatasan pasokan dari distributor dan biaya distribusi yang masih tinggi turut mempengaruhi harga di tingkat pasar.
Susna (47), pedagang rempah di pasar sentral Mepanga, mengungkapkan bahwa kondisi saat ini berbeda dari pola tahun-tahun sebelumnya. Biasanya, harga mulai berangsur turun beberapa hari setelah Lebaran, namun kali ini justru stagnan di angka tinggi.
“Kalau tahun-tahun lalu, seminggu setelah Lebaran sudah mulai turun. Sekarang belum ada tanda-tanda. Pasokan belum lancar, barang yang masuk juga terbatas,” jelasnya.
Baca Juga: Forkkom Bappeda XXIII di Parimo: Sinkronisasi Pembangunan Daerah Diperkuat Tanpa Ego Sektoral
Ia menambahkan, kenaikan harga tidak hanya berdampak pada penurunan daya beli masyarakat, tetapi juga mempengaruhi perputaran modal pedagang. Banyak pembeli yang kini cenderung mengurangi jumlah belanjaan.
“Pembeli tetap datang, tapi lebih hemat. Yang biasanya beli sekilo, sekarang setengah kilo. Jadi penjualan ikut terasa menurun,” ujarnya.
Hal serupa juga terjadi di pasar Tinombo dan Ongka Malino. Aktivitas pasar memang mulai ramai kembali setelah masa libur panjang, namun transaksi tidak sepadat periode sebelum Lebaran.
Di sisi lain, tekanan harga turut dirasakan langsung oleh masyarakat. Okta (32), salah satu pembeli di pasar Tinombo, mengaku harus mengatur ulang pola belanja rumah tangganya agar tetap mencukupi kebutuhan sehari-hari.
“Harga sekarang cukup tinggi, terutama daging dan ayam. Jadi harus lebih pintar mengatur belanja. Biasanya beli untuk beberapa hari ke depan, sekarang dikurangi dan lebih sering beli sayur,” ungkapnya.
Menurutnya, kondisi ini cukup memberatkan, mengingat pengeluaran rumah tangga sudah meningkat saat Lebaran. Ia berharap ada langkah konkret dari pemerintah untuk menstabilkan harga di pasaran.
Baca Juga: Parimo Gelar Pra Musrenbang Stunting 2026, Perkuat Sinergi Lintas Sektor
“Harapannya harga bisa segera turun supaya tidak terlalu berat, apalagi habis Lebaran pengeluaran sudah banyak,” tambahnya.
Fenomena kenaikan harga pasca Idulfitri memang bukan hal baru. Lonjakan permintaan menjelang hari raya, diikuti dengan gangguan distribusi setelahnya, kerap menjadi pemicu utama. Namun demikian, lambatnya penyesuaian harga kembali ke kondisi normal menjadi perhatian masyarakat.
Sejumlah pedagang menilai, jika distribusi tidak segera kembali lancar dalam waktu dekat, maka harga berpotensi bertahan tinggi lebih lama. Sementara itu, masyarakat sebagai konsumen terpaksa menyesuaikan pola konsumsi demi menjaga kestabilan ekonomi rumah tangga.
Baca Juga: Parimo Perkuat Pengelolaan Sampah Berkelanjutan
Pantauan di empat kecamatan tersebut menunjukkan bahwa meskipun aktivitas pasar telah kembali berjalan normal, tekanan harga masih menjadi persoalan utama yang dirasakan secara merata, baik oleh pedagang maupun pembeli. (***)
Editor : Muchsin Siradjudin