RADAR PALU – Kawasan industri PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) menjadi episentrum pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah. Aktivitas hilirisasi nikel di kawasan ini tidak hanya meningkatkan nilai ekspor, tetapi juga mengubah struktur ekonomi daerah.
Produk turunan seperti feronikel, nickel pig iron, hingga stainless steel kini mendominasi ekspor Sulteng. Peralihan dari ekspor bahan mentah ke produk bernilai tambah tinggi menjadi kunci utama.
Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Sulteng, Andi Irman, menegaskan kekuatan ekspor daerah saat ini bertumpu pada kawasan industri Morowali.
“Ekspor Sulteng didominasi produk hilirisasi industri yang sebagian besar berasal dari kawasan IMIP,” ujarnya.
Kontribusi Besar terhadap Ekspor
Data menunjukkan, nilai ekspor Sulteng pada 2025 mencapai USD 22,32 miliar atau tumbuh 5,14 persen dibanding tahun sebelumnya. Dari jumlah tersebut, sekitar 81 persen berasal dari aktivitas industri di Morowali.
Pelabuhan Bahodopi dan Morowali mencatat nilai ekspor gabungan sebesar USD 18,08 miliar. Angka ini menegaskan posisi PT IMIP Morowali sebagai tulang punggung perdagangan luar negeri Sulteng.
Sementara itu, impor juga meningkat menjadi USD 11,31 miliar. Sebagian besar berupa bahan baku dan barang modal untuk mendukung operasional industri di kawasan IMIP.
Didukung 52 Perusahaan Industri
Aktivitas di kawasan PT IMIP Morowali didukung oleh sedikitnya 52 perusahaan yang bergerak di sektor pengolahan logam berbasis nikel.
Data Bea dan Cukai mencatat, impor bahan baku mencapai USD 8,82 miliar atau 79 persen dari total impor. Sedangkan impor barang modal naik 14,4 persen menjadi USD 2,33 miliar.
Kondisi ini mencerminkan ekspansi industri yang terus berlangsung, sekaligus memperkuat kapasitas produksi dalam jangka panjang.
Baca Juga: Booth PT IMIP Jadi Magnet Pengunjung di HUT Morowali ke-26 dan Job Fair 2025
Nikel dan Baja Jadi Andalan
Struktur ekspor Sulteng didominasi besi dan baja dengan porsi 61,31 persen. Disusul komoditas nikel sebesar 16,59 persen.
Meski harga nikel global sempat turun, kinerja ekspor tetap tumbuh hingga 17,41 persen dalam tiga tahun terakhir. Hal ini menunjukkan daya tahan industri berbasis hilirisasi di Morowali.
Bank Indonesia Sulteng menyebut produk unggulan dari kawasan IMIP meliputi stainless steel dan mixed hydroxide precipitate (MHP), bahan utama baterai kendaraan listrik.
Kontributor Utama PDRB Sulteng
Kontribusi PT IMIP Morowali juga terlihat dalam struktur ekonomi daerah. Kabupaten Morowali menyumbang 47,6 persen terhadap total Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sulteng.
Pada awal 2026, pertumbuhan ekonomi Morowali tercatat 10,81 persen, tertinggi kedua di Sulteng. Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi Sulteng mencapai 8,47 persen, melampaui rata-rata nasional.
Investasi Tembus Rp696 Triliun
Besarnya peran PT IMIP Morowali tak lepas dari derasnya investasi. Hingga akhir 2025, total investasi di kawasan ini mencapai USD 41,483 miliar atau setara Rp696,91 triliun.
Angka tersebut meningkat signifikan dibandingkan tahun 2022 yang sebesar USD 29,6 miliar. Tingginya investasi mencerminkan kepercayaan global terhadap industri nikel terintegrasi di Morowali.
Deputi Direktur Operasional PT IMIP, Yulius Susanto, menyebut pertumbuhan investasi berjalan seiring peningkatan aktivitas industri dan penyerapan tenaga kerja.
Prospek Industri Masih Cerah
Ke depan, PT IMIP Morowali diprediksi tetap menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi Sulteng. Permintaan global terhadap material baterai kendaraan listrik dan baja tahan karat terus meningkat.
Bank Indonesia Sulteng memproyeksikan pertumbuhan ekonomi daerah tetap tinggi di kisaran 12–13 persen pada 2026.
Dengan tren tersebut, PT IMIP Morowali dipastikan terus memainkan peran strategis dalam menjaga surplus perdagangan dan memperkuat ekonomi Sulawesi Tengah.***
Editor : Muhammad Awaludin