RADAR PALU – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Pemantau Atmosfer Global (GAW) Lore Lindu Bariri merilis update kondisi iklim Sulawesi Tengah hingga pertengahan Maret 2026.
Berdasarkan hasil monitoring Hari Tanpa Hujan (HTH) hingga 20 Maret 2026, sebagian besar wilayah Sulawesi Tengah berada pada kategori sangat pendek (1–5 hari). Artinya, hujan masih cukup sering terjadi di berbagai daerah.
Meski demikian, terdapat beberapa wilayah yang mengalami HTH kategori pendek (6–10 hari), yakni Karya Mukti, Kabonga Besar, Siboang, Pipikoro, dan Bombolayang (Tolitoli).
Pada analisis curah hujan Dasarian II Maret 2026, BMKG mencatat kondisi yang bervariasi dari rendah hingga sangat tinggi.
Secara umum, curah hujan rendah hingga menengah mendominasi, sementara curah hujan tinggi hingga sangat tinggi terpantau di Buol dan sebagian wilayah Toli-Toli.
Sementara itu, sifat hujan juga menunjukkan variasi dari Bawah Normal (BN) hingga Atas Normal (AN). Wilayah dengan kondisi normal hingga atas normal mendominasi, sedangkan kategori bawah normal terpantau di sebagian wilayah Sigi, Poso, dan Morowali.
Memasuki Dasarian III Maret 2026, BMKG memprakirakan peluang curah hujan masih cukup signifikan.
Secara umum, peluang hujan lebih dari 100 mm berada pada kisaran 10–40 persen, dan meningkat menjadi 40–90 persen di sebagian wilayah selatan.
Bahkan, beberapa daerah seperti Morowali, Morowali Utara, sebagian Poso, dan Tojo Una-Una diprakirakan memiliki peluang curah hujan di atas 100 mm dengan probabilitas tinggi (>90 persen).
Sementara itu, peluang curah hujan ekstrem lebih dari 150 mm relatif kecil, yakni di bawah 30 persen, dan peluang di atas 300 mm sangat rendah (<10 persen).
BMKG mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi banjir, genangan, dan tanah longsor, terutama di wilayah dengan peluang hujan menengah hingga tinggi.
Di sisi lain, masyarakat di wilayah yang masih mengalami hari tanpa hujan kategori pendek diharapkan bijak dalam penggunaan air.(*)
Editor : Mugni Supardi