RADAR PALU - Kondisi iklim di Sulawesi Tengah pada 2026 diprediksi mengalami kecenderungan penurunan curah hujan sehingga musim kemarau berpotensi lebih kering dibandingkan kondisi normal.
Kepala Stasiun Pemantau Atmosfer Global (GAW) Lore Lindu Bariri, Asep Firman Ilahi, menjelaskan kondisi tersebut dipengaruhi sejumlah faktor dinamika iklim global dan regional.
Salah satunya adalah fenomena La Nina lemah yang berlangsung sejak akhir 2025 telah berakhir pada awal 2026. "Di sisi lain, terdapat potensi berkembangnya El Nino lemah hingga moderat pada pertengahan tahun," kata Asep.
Selain itu, angin timuran diprediksi lebih dominan pada pertengahan tahun sehingga dapat mengurangi peluang terbentuknya awan hujan.
Faktor lainnya adalah pergeseran Intertropical Convergence Zone (ITCZ) ke arah utara yang membuat potensi pertumbuhan awan hujan di wilayah Sulawesi Tengah cenderung berkurang.
Berdasarkan analisis tersebut, musim kemarau 2026 di Sulawesi Tengah diperkirakan didominasi kondisi bawah normal atau lebih kering dari biasanya.
Sebanyak 15 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 52 persen wilayah diprediksi mengalami curah hujan di bawah normal, sedangkan 14 ZOM atau sekitar 48 persen wilayah diperkirakan berada pada kondisi normal.
Secara umum, musim kemarau tahun ini diperkirakan datang secara bertahap dan pada sebagian wilayah memiliki potensi kondisi yang lebih kering dibandingkan rata-rata klimatologis.(*)
Editor : Mugni Supardi