RADAR PALU – Pengelola kawasan industri mineral terbesar di Indonesia, PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), menegaskan komitmennya terhadap keberlanjutan lingkungan dan aksi iklim global.
Langkah tersebut diwujudkan melalui berbagai program pengurangan emisi karbon, perlindungan keanekaragaman hayati, hingga pengembangan energi bersih yang sejalan dengan agenda internasional dalam forum COP30 UNFCCC.
Sebagai kawasan industri berbasis mineral berskala besar, IMIP memandang keseimbangan ekosistem dan adaptasi perubahan iklim sebagai fondasi penting bagi keberlanjutan investasi jangka panjang.
Kebijakan tersebut juga sejalan dengan implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2021 tentang penyelenggaraan penataan ruang yang mendorong pengembangan kawasan industri rendah emisi.
IMIP juga mendukung target penurunan emisi sekitar 10 persen dalam setiap periode melalui peningkatan efisiensi energi, pemanfaatan teknologi bersih, serta penguatan ekosistem lingkungan di sekitar kawasan industri.
Direktur Environmental PT IMIP, Dermawati S., mengatakan perusahaan telah menerapkan Rencana Aksi Keanekaragaman Hayati atau Biodiversity Action Plan.
Program tersebut berfokus pada perlindungan habitat kritis, pemulihan kawasan terdegradasi, serta pembangunan koridor ekologis antara kawasan alami dan area industri.
“Program ini dikembangkan melalui kolaborasi dengan komunitas lokal, akademisi, dan pemerintah, serta mengacu pada praktik Good International Industry Practice (GIIP), termasuk panduan Sistem Manajemen Lingkungan dan Sosial dari International Finance Corporation (IFC),” kata Dermawati, Sabtu (7/3/2026).
Tanam Puluhan Ribu Mangrove
Sebagai bagian dari aksi iklim, IMIP sejak 2018 hingga 2025 telah menjalankan program rehabilitasi pesisir melalui penanaman mangrove.
Total sebanyak 70.188 bibit mangrove telah ditanam di sejumlah desa sekitar kawasan industri dengan luasan mencapai 5,62 hektare.
Program serupa juga dilakukan di Palu, Sulawesi Tengah dengan penanaman 10.000 mangrove, serta di Brebes, Jawa Tengah sebanyak 30.000 bibit.
Secara keseluruhan, program tersebut diproyeksikan mampu menyerap karbon hingga 21.483,2 ton CO₂e.
Pada Desember 2025 lalu, penanaman mangrove kembali dilakukan di empat wilayah, yakni:
Desa Matansala, Morowali
Desa Tosale, Donggala
Kelurahan Bungkutoko, Kendari
Desa Tapulaga, Konawe
Program tersebut merupakan bagian dari upaya pemulihan ekosistem pesisir di sejumlah daerah.
Hingga tahun 2026 ini, IMIP menargetkan penanaman mangrove mencapai 150.000 bibit.
Konservasi Satwa Endemik Sulawesi
Selain rehabilitasi pesisir, IMIP juga mengembangkan program konservasi daratan melalui pembangunan IMIP EduPark seluas 23 hektare.
Kawasan tersebut dirancang sebagai pusat konservasi, pendidikan, serta penelitian bagi satwa endemik Sulawesi.
Pada tahun 2024, IMIP bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) turut memindahkan 20 ekor Macaca Ochreata ke habitat baru di Taman Wisata Alam Tokobae.
Baca Juga: 1.658 Kelompok Usaha Desa Tumbuh Lewat Program BKK Morowali Utara
Dorong Transisi Energi Bersih
Upaya pengurangan emisi karbon juga dilakukan melalui transisi energi di kawasan industri IMIP.
Sejumlah tenant industri kini telah menggunakan 502 unit kendaraan listrik untuk kegiatan operasional.
Selain itu, PT Huayue Nickel Cobalt memanfaatkan kembali energi panas dari proses industri untuk pembangkit listrik mandiri.
Sementara itu, PT Dexin Steel Indonesia telah mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap berkapasitas 65,89 MWp.
Pembangunan tersebut melibatkan pemasangan 119.800 panel surya di area atap seluas sekitar 396.700 meter persegi.
Fasilitas tersebut juga dilengkapi sistem penyimpanan energi berkapasitas 22 MW/22 MWh.
Pengembangan tambahan PLTS sebesar 18 MW untuk fasilitas bahan baku saat ini telah mencapai progres sekitar 80 persen.
“Langkah-langkah ini merupakan bagian dari komitmen IMIP untuk menjalankan industri secara bertanggung jawab sekaligus mendukung agenda global penanganan perubahan iklim,” ujar Dermawati.
IMIP Ikut Forum COP30
Delegasi IMIP juga turut berpartisipasi dalam forum COP30 di Brasil yang berlangsung pada 10–21 November 2025.
Forum tersebut membahas implementasi Perjanjian Paris, pengurangan emisi global, perlindungan hutan tropis dan biodiversitas, serta penguatan transisi energi bersih.
Selain itu, agenda internasional tersebut juga membahas pembiayaan teknologi hijau dalam menghadapi krisis iklim global.
Partisipasi IMIP dalam forum tersebut menegaskan komitmen perusahaan dalam menerapkan prinsip keberlanjutan dalam setiap aktivitas industri.
Perusahaan juga terus mendorong efisiensi penggunaan sumber daya sekaligus meminimalkan dampak lingkungan dari proses produksi industri.***
Editor : Muhammad Awaludin