RADAR PALU – Peningkatan kasus Human Immunodeficiency Virus (HIV) di Provinsi Sulawesi Tengah mulai memicu kekhawatiran di tengah masyarakat. Selain menjadi persoalan kesehatan, tingginya kasus pada kelompok usia muda juga membuat para orang tua mulai cemas terhadap pergaulan anak-anak mereka.
Berdasarkan data statistik kesehatan yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), mayoritas penderita HIV berada pada rentang usia 20 hingga 49 tahun, yang merupakan kelompok usia produktif. Bahkan sekitar 85 persen kasus ditemukan pada kelompok usia tersebut, termasuk kalangan remaja dan mahasiswa.
Jika dibandingkan dengan provinsi lain di Pulau Sulawesi, kontribusi kasus HIV di Sulawesi Tengah juga tergolong cukup tinggi. Berdasarkan kompilasi data statistik kesehatan BPS, Sulawesi Tengah menyumbang sekitar 28 persen kasus HIV di wilayah Sulawesi.
Sementara itu, Sulawesi Selatan tercatat sekitar 32 persen, Sulawesi Utara sekitar 14 persen, Sulawesi Tenggara sekitar 12 persen, Gorontalo sekitar 7 persen, dan Sulawesi Barat sekitar 7 persen dari total kasus yang tercatat di Pulau Sulawesi.
Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa Sulawesi Tengah masih menjadi salah satu daerah dengan jumlah kasus HIV yang cukup tinggi di kawasan Sulawesi, terutama pada kelompok usia produktif.
Tingginya angka kasus pada kelompok usia muda membuat sejumlah orang tua di Kota Palu mulai merasa khawatir. Mereka menilai pergaulan bebas dan minimnya pengawasan dapat menjadi faktor yang meningkatkan risiko penularan penyakit tersebut.
Salah seorang warga Palu, Prahastuti (41), mengaku resah melihat meningkatnya kasus HIV yang banyak menyerang kalangan remaja.
“Sebagai orang tua tentu kami khawatir. Anak-anak sekarang pergaulannya lebih bebas, sementara informasi yang mereka dapat belum tentu benar. Kami berharap ada lebih banyak edukasi agar mereka tidak salah langkah,” ujarnya, Jumat (6/3/2026).
Kekhawatiran serupa juga disampaikan Rudi Hartono (40), orang tua mahasiswa di Palu. Menurutnya, peningkatan kasus HIV seharusnya menjadi pengingat bagi keluarga untuk lebih memperhatikan aktivitas pergaulan anak.
“Orang tua harus lebih dekat dengan anak supaya tahu pergaulan mereka. Jangan sampai kita baru sadar setelah terjadi sesuatu,” katanya.
Sementara itu, Dito, salah seorang mahasiswa di Kota Palu, menilai isu HIV di kalangan mahasiswa masih jarang dibicarakan secara terbuka di lingkungan kampus,
“Banyak mahasiswa sebenarnya belum terlalu paham tentang HIV, termasuk cara penularan dan pencegahannya. Sosialisasi di kampus masih perlu diperbanyak,” kata Dito saat ditemui di salah satu kampus di Palu, Jumat (6/3/2026).
Menurutnya, keterbukaan informasi dan edukasi yang berkelanjutan sangat penting agar generasi muda memahami risiko penyakit tersebut serta mampu menjaga diri dalam pergaulan.
Meningkatnya kasus HIV di Sulawesi Tengah kini menjadi perhatian berbagai pihak. Selain penanganan medis, masyarakat berharap penguatan edukasi, peran keluarga, serta pengawasan terhadap pergaulan remaja dapat menjadi langkah penting untuk menekan penyebaran penyakit tersebut di masa mendatang.(cr5)
Editor : Muchsin Siradjudin