RADAR PALU – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau 2026 akan berlangsung lebih kering dan datang lebih awal di sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk Sulawesi Tengah.
Secara nasional, sebanyak 64,5 persen zona musim diperkirakan mengalami kemarau bawah normal atau lebih kering dari biasanya.
Kondisi ini berpotensi berdampak pada sektor pertanian, ketersediaan air bersih, hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), termasuk di wilayah Sulawesi Tengah yang memiliki sejumlah kawasan rawan kekeringan saat musim kemarau.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menegaskan informasi prediksi musim ini harus menjadi dasar perencanaan pemerintah daerah.
“Informasi ini menjadi bagian dari upaya early action agar risiko akibat anomali iklim dapat ditekan,” ujarnya.
Dampak untuk Sulteng
Bagi Sulawesi Tengah, daerah pertanian seperti Sigi, Parigi Moutong, dan Donggala perlu mengantisipasi potensi penurunan debit air irigasi bila kemarau lebih panjang.
Selain itu, wilayah rawan karhutla juga diminta meningkatkan kesiapsiagaan sejak awal musim kemarau.
BMKG merekomendasikan:
Penyesuaian jadwal tanam
Penggunaan varietas tahan kering
Revitalisasi waduk dan jaringan distribusi air
Peningkatan patroli dan mitigasi karhutla
Dengan kemarau diprediksi datang lebih awal, pemerintah daerah dan masyarakat di Sulawesi Tengah diharapkan melakukan langkah antisipasi sejak dini agar dampak terhadap pangan dan air bersih bisa diminimalkan.***
Editor : Muhammad Awaludin