Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Melihat Aktivitas Masjid Sabilillah, Rumah Ibadah di Ujung Gang Kawasan Lokalisasi di bulan Ramadan

Muchsin Siradjudin • Selasa, 3 Maret 2026 | 10:03 WIB

JAMAAH: Suasana salat tarawih di Masjid Sabilillah, Tondo kiri, Kelurahan Tondo, Kota Palu.(FOTO: MOH. FATAHILAH/RADAR PALU)
JAMAAH: Suasana salat tarawih di Masjid Sabilillah, Tondo kiri, Kelurahan Tondo, Kota Palu.(FOTO: MOH. FATAHILAH/RADAR PALU)

RADAR PALU - Sore itu, Selasa (24/02) jarum jam mendekati pukul 17.00, matahari mulai condong ke barat. Lorong sempit di kawasan Tondo Kiri, Kelurahan Tondo, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu, tampak ramai. Jalanan kecil berlubang, di beberapa titik masih menyimpan genangan sisa air hujan.

Di mulut gang, sebuah pos ronda berdiri sederhana. Beberapa pria duduk santai dengan asap rokok mengepul tipis di Udara. Padahal hari itu bulan Ramadan, namuun suasana tetap berjalan seperti biasa.

Tim Radar Palu melangkah lebih dalam. Beberapa meter dari pos ronda, di teras sebuah rumah, tampak satu pria yang tak lagi muda namun belum sepenuhnya renta bersama dua perempuan yang sedang duduk mengenakan kaus santai dan celana pendek sepaha.

"Permisi, Pak. Masjid di sini sebelah mana, ya?," tanya tim.

"Lurus dari sini, terus belok kanan nanti kelihatan disana," jawab pria itu menjelaskan.

Langkah dilanjutkan. Di sepanjang gang sempit itu, bukan hanya rumah warga yang berdiri berhimpitan. Beberapa bangunan kecil berplang kafe sederhana dan tempat karaoke tampak berjejer.

Di depan beberapa tempat itu, kursi plastik disusun menghadap jalan. Ada perempuan yang duduk berdua sembari berbincang, ada pula yang sendirian menatap layar ponsel dengan pakaian minim serta mencolok yang mereka kenakan.

Kawasan ini memang kerap mendapat stigma negatif di Kota Palu. Namun di balik gang padat itu, berdiri sebuah bangunan sederhana bercat putih pucat dengan pengeras suara kecil di atas atap seng yang mulai berkarat.

Itulah Masjid Sabilillah, sebuah masjid yang berdiri tenang di tengah hiruk pikuk lingkungan sekitar.

Pintu masjid terbuka. Di dalam, seorang pria mengenakan peci, kaus sederhana, dan sarung tampak beristirahat selepas salat asar.

Ia adalah Eko Prasetyo, marbot sekaligus pengurus Masjid Sabilillah yang telah mengabdikan diri selama 15 tahun.

Setelah memperkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangan, tim diajak berbincang.

Eko menceritakan, masjid tersebut berdiri sejak sekitar tahun 1980-an, dibangun atas inisiatif dan musyawarah masyarakat setempat yang kala itu belum memiliki tempat ibadah.

"Dulu di sini memang belum ada masjid, terus dari masyarakat mereka berpikir kalau di sini sepertinya harus dibangun masjid. Jadi masjid ini dibangun atas musyawarah masyarakat," jelasnya.

Pembangunan sempat terkendala persoalan lahan. Salah satu pemilik tanah awalnya tidak menyetujui pendirian masjid. Namun melalui pendekatan persuasif, persoalan itu akhirnya terselesaikan.

Dari segi aktivitas, kegiatan rutin masjid saat ini terbilang terbatas. Selain salat lima waktu, belum banyak kegiatan keagamaan yang berjalan aktif.

"Kegiatan rutin paling cuma salat lima waktu saja. Dulu sempat ada pengajian anak-anak, tapi sekarang sudah tidak ada," ungkap Eko.

Jumlah jemaah diluar bulan Ramadan juga tidak terlalu banyak. Bahkan, menurut Eko, sering kali jemaah yang hadir kurang dari lima orang. Ramainya hanya pada saat tarawih.

Hal tersebut sejalan dengan yang ditemui tim pada Sabtu (27/02). Tim berbuka puasa di masjid. Tidak ada hidangan tersusun, tidak ada gelas-gelas plastik berjejer, dan tidak terdengar pengumuman pembagian takjil, seorang pun tak ada di masjid ini.

Hujan turun perlahan membasahi atap seng Masjid Sabilillah. Rintiknya tidak terlalu deras, tetapi cukup membuat halaman kecil di depan masjid tampak licin dan mengilap. Menjelang magrib, lima anak perempuan datang beriringan.

Masing-masing menenteng mukenah di tangan. Langkah mereka kecil dan tergesa, sesekali tertawa dan membuat kegaduhan di masjid. Mukena yang mereka bawa berwarna-warni, kontras dengan dinding masjid yang pucat.

Menjelang waktu berbuka, pintu rumah pengurus masjid yang berada dalam satu halaman yang sama dengan bangunan masjid terbuka. Bangunan tersebut hanya dipisahkan pelataran kecil berlantai semen yang sebagian masih basah oleh sisa hujan sore itu.

Tiga orang pria keluar bersamaan, Salah satunya adalah Eko Prasetyo, pengurus sekaligus marbot Masjid Sabilillah. Tim kemudian menghampiri dan menawarkan makanan berbuka.

"Om, ini ada sedikit untuk berbuka, silahkan," ujar tim.

Eko sempat tersenyum dan mengangkat tangan pelan, memberi isyarat penolakan halus.
“Iya-iya silakan,”katanya.

Tak lama kemudian, salah satu pria yang keluar dari rumah tadi justru menawarkan balik.

Percakapan sederhana itu berlangsung di antara suara hujan yang masih menitik pelan di atap seng.

Azan magrib bergema sederhana dari pengeras suara masjid. Lima orang jemaah datang untuk menunaikan salat termasuk 2 orang pengurus tadi. Saf tidak penuh. Ruang utama masjid masih menyisakan banyak celah kosong.

Salat berlangsung khusyuk dalam jumlah jamaah yang terbatas. Jemaah kecil yang tadinya datang dengan mukenah mereka, hanya menjejerkannya di atas sejadah lalu bermain di halaman masjid.

Usai salat magrib, ketika jemaah mulai meninggalkan masjid dan langkah kaki mengarah keluar gang, lorong itu masih tampak lengang.

Kursi-kursi plastik di depan rumah-rumah warga kosong, teras-teras yang sejak sore diisi perempuan berpakaian mencolok kini tanpa penghuni. Tak satu pun terlihat duduk di sepanjang jalan sempit itu. Hanya lampu-lampu temaram yang menyala pelan.

Memasuki waktu isya, suasana Masjid Sabilillah berubah. Jika saat magrib saf masih renggang, kini jamaah mulai berdatangan satu per satu.

Saf mulai terisi. Total tercatat 21 makmum laki-laki dan 26 makmum perempuan. Namun enam diantaranya merupakan anak-anak yang tidak ikut salat dan lebih banyak bermain.

Baca Juga: Kemenkum Sulteng Pastikan Ujian Kenaikan Pangkat Transparan dan Akuntabel

Di luar, suasana berbeda. Sejumlah anak-anak berlarian di halaman kecil masjid. Ada yang bermain kejar-kejaran, ada yang duduk bergerombol sambil tertawa. Suara mereka sesekali terdengar hingga ke dalam ruangan, berpadu dengan lantunan bacaan imam yang menggema pelan.

Sebelumnya, saat ditemui di masjid yang sama, Eko Prasetyo menyampaikan harapannya terhadap Masjid Sabilillah di lingkungan tersebut.

Eko mengaku terus berupaya menjaga eksistensi masjid di tengah kondisi lingkungan sekitar. Menurutnya, masjid seharusnya memiliki peran penting bagi masyarakat sekitar.

"Harusnya masjid ini perannya penting untuk masyarakat di sini," ujarnya saat wawancara. "Tapi kami juga tidak tahu bagaimana sebenarnya pandangan masyarakat terhadap masjid ini."

Ia mengakatakan, dirinya aktif mengajak warga untuk bersama-sama memakmurkan masjid.

"Saya tetap ajak masyarakat di sini supaya sama-sama membangun masjid ini. Jangan cuma komentar saja, tapi ikut bantu. Walaupun lingkungannya seperti ini, masjid tetap harus ada dan tetap hidup," tegasnya.

Tarawih belum usai ketika tim berpamitan meninggalkan masjid. Bacaan imam masih terdengar samar dari dalam ruangan, mengalun pelan hingga ke pelataran. Langkah kaki kemudian kembali menyusuri gang sempit yang tadi dilewati menjelang dan selepas magrib.

Kali ini suasananya berbeda.

Di sepanjang lorong, kursi-kursi plastik kembali terisi. Perempuan-perempuan duduk menghadap jalan di bawah cahaya lampu yang temaram. Ada yang berjejer berempat, ada yang berdua, ada pula yang sendirian.

Sebagian berbincang pelan, sebagian lainnya diam memperhatikan setiap orang yang melintas.

Pakaian yang dikenakan terbuka dan mencolok. Beberapa mengenakan kaus ketat dan celana pendek, bahkan ada yang hanya mengenakan atasan tipis menyerupai pakaian dalam. Kontras dengan lantunan ayat yang masih terdengar dari ujung gang.

Beberapa dari mereka melayangkan senyum ketika tim melintas. Tatapan mengikuti langkah hingga melewati batas cahaya lampu yang redup. Gang itu kembali pada wajah malamnya.

Dua suasana berjalan beriringan dalam lorong yang sama. Satu menghadapkan diri ke jalan, satu lagi menghadap kiblat. Dan diantara keduanya, Masjid Sabilillah tetap berdiri, tanpa memilih siapa yang datang dan siapa yang pergi.(***)



 

Editor : Muchsin Siradjudin
#Masjid Sabilillah #Memakmurkan masjid #Nuansa peribadatan berjalan baik #Menunaikan ibadah wajib