RADAR PALU - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Sulawesi Tengah pelan-pelan menunjukkan dampak yang tak hanya soal asupan anak sekolah. Di balik ribuan porsi makanan yang dibagikan tiap hari, ada ribuan warga yang kini punya penghasilan tetap.
Hingga Februari 2026, ratusan dapur gizi berdiri di dua provinsi. Dampaknya terasa langsung ke tenaga kerja lokal dan petani setempat.
Kepala Sub Bagian Tata Usaha Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Palu, Muhammad Aril Putra, menyebut wilayah kerjanya mencakup Sulawesi Tengah dan Sulawesi Barat.
Di Sulawesi Tengah tercatat 166 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) aktif. Sementara di Sulawesi Barat ada 131 dapur yang beroperasi.
Setiap SPPG rata-rata diperkuat 47 relawan dari warga sekitar. Jika dihitung, total relawan di Sulteng mencapai sekitar 7.800 orang. Selain itu, setiap dapur juga didampingi satu ahli gizi.
“Kami merekrut warga sekitar yang belum punya pekerjaan. Tidak melihat latar belakang pendidikan, yang penting produktif,” ujar Aril, Jumat (20/2/2026).
Batas usia maksimal relawan 60 tahun. Mereka menerima insentif harian sekitar Rp100 ribu hingga Rp130 ribu.
Tak hanya menyerap tenaga kerja, skema MBG juga mewajibkan bahan pangan dibeli dari petani lokal dan pelaku UMKM. Beras, sayur, hingga produk olahan seperti roti dipasok dari dalam daerah.
“Instruksi Presiden jelas, harus menghidupkan UMKM daerah. Bahan langsung dibeli dari petani supaya segar dan ekonomi masyarakat berputar,” jelasnya.
Distribusi MBG dibagi dua kategori. Porsi besar untuk siswa dan guru di satuan pendidikan, serta porsi kecil bagi kelompok 3B—ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.
Satu dapur memproduksi 2.000 hingga 3.000 porsi per hari. Nilainya Rp10 ribu untuk porsi besar dan Rp8 ribu untuk porsi kecil.
Dengan kapasitas itu, perputaran anggaran satu dapur bisa mencapai Rp40 juta hingga Rp50 juta per hari. Biaya tersebut sudah termasuk bahan baku, insentif relawan, dan honor ahli gizi.
Menurut Aril, efek berganda mulai terlihat. Petani beras, penjual sayur, hingga produsen roti rumahan ikut merasakan dampaknya.
Ia berharap masyarakat melihat MBG bukan hanya sebagai program bantuan pangan, tetapi juga sebagai penggerak ekonomi lokal yang terstruktur.***
Editor : Muhammad Awaludin