Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Seluas 200 Hektare Lahan Desa Pomayagon jadi Lahan Tidur Tidak Terkelola, Terpapar Banjir Sepanjang Tahun

Muchsin Siradjudin • Kamis, 19 Februari 2026 | 14:09 WIB
Ramli Pesona (FOTO: ISTIMEWA/RADAR PALU).
Ramli Pesona (FOTO: ISTIMEWA/RADAR PALU).

RADAR PALU - Desa Pomayagon, Kecamatan Momunu, Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah (Sulteng), menghadapi masalah serius dalam menggarap sawah.

Sebanyak lebih 200 hektare sawah di desa ini, tidak terkelola dengan baik alias tidur. Karena petani enggan mengolahnya, akibat rawan banjir.

Hal ini disampaikan Kepala Desa (Kades) Pomayagon, Kecamatan Momunu, Ramli Pesona, kepada media ini, Rabu (18/2/2026).

"Kalau petani di desa kami bukannya tidak mau olah sawahnya, namun karena ancaman banjir dari sungai Buol yang meluap masuk perkampungan," ungkap Kades Ramli.

Selain itu, kendala lain yang dihadapi petani di desa itu adalah keterbatasan biaya pengelolaan dan ancaman banjir jika musim hujan tiba.

Meski demikian saat ini ada beberapa petani hanya olah sawah sesuai kemampuan kerja, mereka tidak mau membuang modal besar untuk biaya pengelolaan takut merugi.

Kades Ramli mengusulkan agar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buol, membuat tanggul di sepanjang sungai Buol untuk mengatasi ancaman banjir.

Namun, usulan ini bisa berdampak pada ancaman banjir pada desa-desa tetangga jika tidak dilakukan dengan hati-hati.

"Petani kita tahun lalu mengalami kerugian yang signifikan. Karena tidak menikmati hasil panen padi sawah, yang diolah mulai dari pembersihan sampai menanam. Akhirnya, menjelang panen semua gagal," kata Kades Ramli Pesona.

Karena itu, ia berharap, agar Pemkab Buol dapat mencari solusi untuk mengatasi masalah ini agar petani dapat mengolah sawah dengan aman, dan produktif untuk mendukung program ketahanan pangan nasional.

Desa ini berpenduduk kurang lebih 1.200 jiwa, atau 90 persen adalah petani selain PNS dan perangkat desa. Pendapatan masyarakat di desa ini tidak menentu. Kadang dari hasil usaha jualan, ada yang kerja di perusahaan, usaha produksi sagu, dan usaha lainnya.

Karakteristik masyarakat desa sangat ramah, dan saling menghargai. Sehingga desa tersebut aman dan nyaman.

"Itulah keluhan petani kami di desa. Besar kemauan untuk mengolah sawah, namun cemas. Mereka ingat jika musim hujan tiba pasti banjir, tanaman mati, dan terancam gagal panen, "demikian Kades Ramli Pesona.(***)




  

Editor : Muchsin Siradjudin
#Petani tidak menanam #Gagal panen #Musim hujan tiba #Terpapar banjir sepanjang tahun