Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Operasi Amandel Berujung Maut di RSUD Kolonodale

Ilham Nusi • Selasa, 17 Februari 2026 | 20:22 WIB
KORBAN: Korban Saharudin Landoala (22), saat masih dirawat di RSUD Kolonodale, Morut.(FOTO: ISTIMEWA/RADAR PALU).
KORBAN: Korban Saharudin Landoala (22), saat masih dirawat di RSUD Kolonodale, Morut.(FOTO: ISTIMEWA/RADAR PALU).

RADAR PALU - Operasi amandel yang dijalani Saharudin Landoala (22), warga Desa Tiu, Kecamatan Petasia Barat, Kabupaten Morowali Utara, berakhir tragis. Pemuda tersebut meninggal dunia pada Minggu (15/2/2026) sekitar pukul 09.00 Wita setelah beberapa hari menjalani perawatan intensif di RSUD Kolonodale.

Kematian Rudin, sapaan akrabnya, kini memicu polemik. Keluarga menilai terdapat kejanggalan dalam proses operasi hingga penanganan pascaoperasi.

Di sisi lain, manajemen rumah sakit memastikan seluruh tindakan telah sesuai standar operasional prosedur (SOP).

Kakak almarhum, Srilice Landoala, mengurai kronologi kejadian. Ia menjelaskan Rudin pertama kali berkonsultasi pada Senin (2/2/2026) dan hanya diberi obat pereda nyeri. Dokter meminta kontrol ulang pada 7 Februari.

Dia bilang, dokter yang menangani, dr. Muhammad Anwar menjelaskan bahwa kondisi amandel sudah stadium akhir dan harus segera dioperasi.

Pada Senin (9/2/2026), Rudin masuk RSUD Kolonodale untuk persiapan operasi pengangkatan amandel. Operasi dilakukan Selasa (10/2/2026).

Pasien masuk ruang operasi pukul 11.52 Wita dan baru dipindahkan ke ICU pukul 19.07 Wita. Keluarga menilai durasi operasi yang berlangsung hampir tujuh jam tidak lazim untuk tindakan amandel.

"Kami sempat minta jangan dioperasi dulu. Kami mau coba alternatif. Tapi dokter bilang tidak apa-apa dan dijamin aman karena sudah stadium akhir," ujar Srilice, Senin (16/2/226).

Setelah operasi justru muncul kondisi yang mengkhawatirkan. Sejak malam pascaoperasi hingga beberapa hari berikutnya, Rudin terus muntah darah menghitam. Bahkan darah segar juga keluar dari mulut dan hidung.

Srilice mengaku sudah berulang kali melaporkan kondisi tersebut ke perawat jaga ICU.

"Habis operasi Selasa malam itu dia banyak muntahkan darah yang sudah menghitam. Kami lapor ke perawat jaga, katanya tidak apa-apa karena mungkin darah tertelan waktu operasi dan bagus kalau keluar," ungkapnya.

Keluarga mengaku baru diminta melapor jika darah segar keluar karena dikhawatirkan ada jahitan terbuka.

Pada Jumat (13/2/2026) sekitar pukul 18.00 WITA, pasien dipindahkan dari ICU ke ruang bedah. Saat itu keluarga mendapat informasi pasien kemungkinan bisa pulang keesokan harinya.

Namun sekitar 30 menit setelah berada di ruang bedah, kondisi pasien tiba-tiba memburuk drastis.

"Baru setengah jam di ruang bedah, tiba-tiba dia muntah darah segar hampir satu jam. Darah keluar deras dari mulut dan hidungnya. Saat itu kami langsung minta dirujuk ke Palu," kata Srilice.

Menurut Srilice, hingga Sabtu rujukan belum juga terlaksana. Minggu pagi, Rudin dinyatakan meninggal dunia.

"Kami menduga ada kesalahan dalam proses operasi atau penanganan setelahnya. Waktu kondisinya sudah kritis, kami merasa penanganannya lambat," tegasnya.

Meski menyatakan ikhlas atas kepergian almarhum, keluarga memastikan akan menempuh jalur hukum.

Yusrin Landoala, mewakili keluarga, menyebut langkah hukum diambil agar kasus serupa tidak kembali terjadi.

"Kami akan melaporkan pihak manajemen RSUD Kolonodale dan dokter yang menangani anak kami atas dugaan malpraktik ke Ombudsman RI dan Majelis Kode Etik Dokter," tegas Yusrin.

Ia menyebut tindakan medis terhadap operasi yang dinilai ringan seharusnya tidak berujung pada kematian.

Menanggapi hal tersebut, Direktur RSUD Kolonodale, dr. Sherly Pede, menyampaikan belasungkawa.

"Kami menyampaikan ungkapan turut berdukacita yang mendalam kepada keluarga," ujarnya kepada Radar Palu, Senin (16/2/2026) .

Ia menegaskan tenaga kesehatan telah menangani pasien sesuai SOP. Sebelum operasi, tim medis telah melakukan pemeriksaan menyeluruh termasuk pemeriksaan penunjang untuk memastikan kelayakan tindakan.

Terkait lamanya operasi, dr. Sherly menyatakan kondisi tersebut bisa terjadi.

"Proses operasi yang memakan waktu cukup panjang kadang terjadi pada pasien. Penyebabnya tidak dapat diprediksi karena kondisi masing-masing pasien berbeda," katanya.

Ia menjelaskan operasi selesai dalam kondisi stabil dan pasien dipindahkan ke ICU untuk observasi. Setelah dinilai stabil, pasien dipindahkan ke ruang bedah.

Saat terjadi perdarahan, tim medis langsung melakukan tindakan termasuk transfusi darah. Dokter juga mempertimbangkan rujukan ke RSUD Undata Palu melalui sistem SISRUTE.

"Jawaban dari rumah sakit tujuan meminta agar kondisi pasien distabilkan terlebih dahulu," terang dr. Sherly.

Setelah penanganan dan transfusi, pasien kembali dirawat di ICU. Namun pada Minggu pagi, pasien batuk dan mengalami perdarahan hebat.

"Tim segera melakukan penanganan, namun kondisi pasien tidak dapat diselamatkan," sebut Sherly.(***)

 

Editor : Muchsin Siradjudin
#Kondisi pasien tidak dapat diselamatkan #Akan dirujuk ke Palu tetapi tidak sempat #Proses operasi berjalan lama #Pasien dirawat di ruang ICU