RADAR PALU - MUI Palu Ingatkan Umat Jaga Tasamuh Jelang Penetapan Ramadan
Menjelang keputusan resmi awal Ramadan 1447 Hijriah, suasana diskusi mulai terasa di ruang publik. Perbedaan metode penentuan awal bulan kembali menjadi perbincangan.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Palu mengingatkan agar perbedaan itu disikapi dengan dewasa dan tidak mengganggu kebersamaan.
Ketua MUI Palu, Prof. KH Zainal Abidin, mengatakan perbedaan dalam penetapan awal Ramadan bukan hal baru. Dinamika tersebut sudah lama menjadi bagian dari khazanah keilmuan Islam.
Menurutnya, baik metode rukyatul hilal maupun hisab memiliki dasar dan argumentasi yang bisa dipertanggungjawabkan secara syar’i.
“Perbedaan pandangan dan metode sering terjadi di kalangan ulama maupun pemerintah. Itu bagian dari ijtihad. Umat Islam harus dewasa menyikapinya,” ujar Zainal Abidin, Selasa (17/2) malam.
Ia menegaskan, perbedaan tidak semestinya menjadi sumber perpecahan. Justru, jika disikapi dengan saling menghormati, hal itu bisa menjadi kekayaan intelektual dan memperkuat persaudaraan.
“Kita tidak boleh menjadikan perbedaan sebagai batu sandungan. Intinya tasamuh dan saling menghargai,” katanya.
MUI Palu juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terprovokasi narasi yang memperuncing perbedaan, terutama di media sosial. Ramadan, menurutnya, adalah momentum mempererat silaturahmi dan meningkatkan kualitas ibadah.
Ia berharap umat Islam di Palu dan Sulawesi Tengah dapat menyambut Ramadan dengan tenang dan penuh kebersamaan, apa pun hasil penetapan resmi pemerintah nanti.
Penetapan awal Ramadan di Indonesia dilakukan melalui sidang isbat yang menggabungkan metode hisab dan rukyat. Perbedaan awal puasa antarormas sesekali terjadi, namun pemerintah dan para ulama terus mendorong sikap saling menghormati demi menjaga persatuan umat.***
Editor : Muhammad Awaludin