Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Data Astronomi BMKG: 17 Februari Belum Terlihat, 18 Februari Berpeluang

Mugni Supardi • Minggu, 15 Februari 2026 | 09:10 WIB
Ilustrasi pengamatan hilal yang dilakukan di Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah.
Ilustrasi pengamatan hilal yang dilakukan di Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah.

RADAR PALU – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis data astronomi terkait penentuan awal Ramadan 1447 Hijriah.

Berdasarkan perhitungan resmi, konjungsi atau ijtimak terjadi pada Selasa, 17 Februari 2026 pukul 12.01.07 UT atau 19.01.07 WIB (20.01.07 WITA/21.01.07 WIT).

Konjungsi terjadi saat bujur ekliptika matahari dan bulan tepat sama, yakni 328,83 derajat.

BMKG menjelaskan, pada 17 Februari 2026 waktu matahari terbenam paling awal di Indonesia terjadi pukul 17.56.44 WIT di Jayapura dan paling akhir pukul 18.51.25 WIB di Banda Aceh. Artinya, konjungsi terjadi setelah matahari terbenam di seluruh wilayah Indonesia.

“Dengan memperhatikan waktu konjungsi dan matahari terbenam, dapat dikatakan konjungsi terjadi setelah matahari terbenam 17 Februari 2026 di seluruh Indonesia,” tulis BMKG dalam keterangan resminya.

Karena itu, secara astronomis rukyat hilal penentu awal Ramadan bagi yang menggunakan metode rukyat dilakukan setelah matahari terbenam pada 18 Februari 2026.

Hilal Masih Negatif 17 Februari

BMKG mencatat, pada 17 Februari 2026 tinggi hilal di Indonesia masih berada di bawah ufuk, berkisar antara -2,41 derajat di Jayapura hingga -0,93 derajat di Tua Pejat, Sumatera Barat.

Elongasi geosentris saat itu hanya 0,94 hingga 1,89 derajat, dengan umur bulan masih minus hingga -3,07 jam.

Fraksi iluminasi bulan juga sangat kecil, hanya 0,01 hingga 0,05 persen. Data tersebut menunjukkan secara astronomis hilal mustahil terlihat pada 17 Februari 2026.

 

Peluang Terlihat 18 Februari

Sebaliknya, pada 18 Februari 2026 saat matahari terbenam, tinggi hilal di Indonesia sudah berada di kisaran 7,62 derajat di Merauke hingga 10,03 derajat di Sabang.

Elongasi geosentris meningkat menjadi 10,7 hingga 12,21 derajat, dengan umur bulan 20,92 hingga 23,84 jam. Lag atau selisih waktu terbenam bulan setelah matahari pun mencapai 34,99 hingga 45,17 menit. Fraksi iluminasi bulan berada pada kisaran 0,74 hingga 0,98 persen.

Dengan parameter tersebut, hilal secara astronomis berpeluang untuk teramati pada 18 Februari 2026, tergantung metode penetapan yang digunakan masing-masing otoritas.

BMKG menegaskan, data ini menjadi rujukan ilmiah dalam proses penentuan awal Ramadan 1447 H, baik melalui metode rukyat maupun hisab.(*)

Editor : Mugni Supardi
#rukyat hilal 2026 #BMKG Ramadan 1447 H #elongasi hilal #konjungsi 17 Februari 2026 #hilal 18 Februari 2026 #tinggi hilal Indonesia #hisab Ramadan 1447 H #awal Ramadan 2026 #data astronomi BMKG