RADAR PALU - Malam di Palu tak lagi sama seperti delapan tahun lalu. Jalan yang dulu retak dan jembatan yang runtuh kini berdiri kembali, dengan struktur yang disebut lebih kuat dari sebelumnya.
Rekonstruksi pascabencana 2018 bukan sekadar membangun ulang. Ada proses panjang, pembelajaran, dan perubahan cara pandang dalam menata infrastruktur Sulawesi Tengah.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah menyampaikan apresiasi kepada Kementerian PUPR melalui Ditjen Bina Marga atas rampungnya berbagai proyek rehabilitasi dan rekonstruksi jalan serta jembatan terdampak gempa, tsunami, dan likuifaksi 2018.
Sekretaris Daerah Sulteng, Novalina, menyebut pengalaman bencana menjadi titik balik dalam perencanaan pembangunan daerah.
“Sejak awal bencana, Kementerian PU bergerak cepat. Bukan hanya penanganan darurat, tapi juga memastikan infrastruktur bisa pulih,” ujarnya dalam talkshow kebijakan pascabencana di Palu, Rabu (11/2).
Menurutnya, fase rekonstruksi mengajarkan pentingnya mitigasi dalam setiap rencana pembangunan. Tidak lagi sekadar membangun, tetapi memastikan ketahanan.
Direktur Sistem dan Strategi Penyelenggaraan Jalan dan Jembatan Ditjen Bina Marga, Oktaviano Dewo Satriyo, menjelaskan pendekatan yang digunakan adalah Build Back Better.
Konsep ini menekankan pembangunan kembali dengan standar lebih baik—lebih aman, lebih kuat, dan lebih berkelanjutan.
“Pengalaman Palu menjadi pembelajaran nasional,” katanya.
Sejumlah proyek yang kini dimanfaatkan masyarakat antara lain rehabilitasi ruas jalan dalam Kota Palu, rekonstruksi tanggul Raja Moili–Cut Mutia dan Cumi-Cumi, jalan Kalawara–Kulawi–Sirenja, pembangunan Jembatan Huntap Tondo Talise, akses utama kawasan hunian tetap, hingga penggantian Jembatan Palu IV.
Kepala BPJN Sulteng, Bambang S. Razak, memastikan seluruh proyek dijalankan dengan standar keselamatan kerja konstruksi yang ketat.
Dukungan juga datang dari Japan International Cooperation Agency (JICA) melalui skema Infrastructure Reconstruction Sector Loan (IRSL). Selain pembiayaan, kerja sama ini membawa transfer pengetahuan untuk memperkuat kapasitas daerah dalam membangun infrastruktur tahan bencana.
Kini, sebagian besar hasil rekonstruksi itu telah menjadi bagian dari keseharian warga. Jalan yang dulu rusak kini dilalui tanpa rasa khawatir berlebih.***
Editor : Muhammad Awaludin